Viral! Ternyata Umat Awam Pendukung Resmi SSPX Dapat Terkena Ekskomunikasi
Viral! Ternyata Umat Awam Pendukung Resmi SSPX Dapat Terkena Ekskomunikasi
Vatikan tegas mengeluarkan dekret ekskomunikasi kepada para uskup SSPX atau Persaudaraan Imam Santo Pius X. Tidak hanya itu, SSPX juga dinyatakan berada dalam skisma. Artinya semua imamnya terkena ekskomunikasi. Akibatnya, sakramen-sakramen yang dipimpin dan dilayani oleh uskup dan imam SSPX tidak sah.
Berita ekskomunikasi ini kemudian tersebar luas. Umat Katolik perlu memiliki informasi seimbang dan dapat dipercaya. Dalam video ini, saya paparkan seperti apa upaya Vatikan untuk merangkul dan membangun dialog dengan SSPX agar tetap berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik. Vatikan telah berupaya agar SSPX tidak memilih skisma!
Hal yang sangat penting, hukuman ekskomunikasi tidak hanya terkena kepada SSPX, tetapi kepada umat awam pendukung resmi SSPX. Apa yang perlu dilakukan umat? Stop menghadiri perayaan liturgi SSPX.
Salah satu ciri khas SSPX adalah merayakan Misa Latin Tradisional atau dikenal juga Misa Tridentine. Jika umat mendengar ada Perayaan Misa Tridentine atau Misa Latin Tradisional, cari informasi apakah Misa Latin itu telah disetujui oleh Uskup setempat atau tidak. Jika tidak disetujui Uskup, jangan hadiri Misa Latin Tradisional itu. Anda perlu tahu apakah kelompok yang mengadakan Misa Tridentine itu tidak berafiliasi dengan SSPX. Sekali lagi, jangan pernah hadiri lagi Misa Latin yang berafiliasi dengan SSPX.
Hukuman ekskomunikasi latae sententiae tidak dinyatakan sembarangan. Uskup, imam, bahkan awam yang akan melakukan skisma pasti telah diperingatkan oleh Vatikan. Peringatan itu sudah berkali-kali dilakukan oleh Paus Leo XIV kepada SSPX. Namun, tidak digubris.
Hukuman ekskomunikasi latae sententiae dinyatakan dengan beberapa tujuan mendasar. Pertama-tama sebagai obat. Maka hukuman ini disebut “poena medicinales” (hukuman-hukuman medisinal) atau “censura” (bdk. Kanon 1312 §1; Kanon 1331-1333), yakni hukuman yang disertai larangan dan pembatasan kewenangan orang yang dijatuhkan hukuman. Mereka yang terkena hukuman ini dipanggil untuk bertobat.
Kedua, melindungi kesatuan Gereja. Kesatuan merupkan salah satu unsur hakiki Gereja, sebagaimana dikehendaki oleh Yesus Kristus (bdk. Yoh 17: 1). Mereka yang terkena ekskomunikasi latae sententiae diharapkan kembali ke dalam persekutuan Gereja. Itu sebabnya dalam Catatan Penjelasan Dekret ekskomunikasi terhadap SSPX, Dikasteri untuk Ajaran Iman menyatakan dengan penuh kelembutan: “Gereja, sebagai seorang ibu yang penuh kasih, akan menyambut dengan kasih sayang yang tulus dan perhatian pastoral yang sungguh-sungguh semua orang yang ingin kembali ke dalam persekutuan penuh”.
Ketiga, melindungi umat beriman dari kebingungan. Dengan menunjukkan bahwa tindakan skisma merupakan pelanggaran serius, Gereja membantu mencegah kebingungan mengenai ajaran, otoritas, dan kesatuan Gereja.
Keempat, menegaskan keseriusan pelanggaran. Oleh karena skisma merupakan tindakan menolak tunduk dan setia pada Paus atau menolak persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang tunduk dan setia kepada Paus, misalnya dengan menolak beberapa ajaran Konsili Vatikan II, maka hukum kanonik menetapkan bahwa pelakunya dapat terkena ekskomunikasi latae sententiae, yaitu hukuman yang berlaku secara otomatis ketika syarat-syarat hukum terpenuhi. Dekret ekskomunikasi yang kemudian dinyatakan oleh Dikasteri untuk Ajaran Iman hanya sebagai tindakan pemberitahuan bahwa pelanggaran berkekuatan hukum.
Bagi Gereja Katolik, hukum tertinggi adalah keselamatan jiwa-jiwa umat. Maka, penerapan hukum mesti terarah dan menjadi sarana untuk keselamatan jiwa-jiwa umat. Tujuan utama ekskomunikasi latae sententiae karena skisma adalah pemulihan (rekonsiliasi) pelaku dan perlindungan kesatuan Gereja, bukan penghukuman demi penghukuman itu sendiri.
#katekeseimankatolik
#infokatolik
#hukumgerejakatolik
#sspx
#lefebvre
#schism
Sumber Romo Postinus Gulö, OSC