Senin, 08 Juni 2026
Sabda Kehidupan
Senin 08 Juni 2026
Matius 5:3,4,6,10 (Mat 5:1-12)
”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga…Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur…Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan…Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Tak Ada Lagi Alasan Untuk Tidak Berbahagia
Yesus menyebut berbahagia, orang-orang yang justru oleh dunia termasuk dalam kalangan orang yang tidak bahagia. Itulah mereka yang miskin, yang berdukacita, yang lapar dan haus, serta mereka yang dianiaya.
Kalau begitu, Yesus ingin membangun dunia baru di mana kebahagiaan bukan lagi kekecualian dan hanya bagi mereka yang kaya, tidak punya persoalan, yang hidupnya aman dan menyenangkan.
Semua orang seharusnya bahagia karena Allah adalah sumber kebahagiaan mereka. Jika Allah adalah milik kita dan kita yakin sepenuhnya bahwa kita adalah milik Allah, maka kita-lah orang yang paling bahagia.
St Teresia dari Avila berkata, “Solo Dios Basta!” “Allah saja cukup!”
Allah Bapa yang adalah sumber segalanya dalam hidup kita menjadi jaminan utama kebahagiaan kita. Kita akan selalu bersyukur karena pertolongan Allah tak ada hentinya. Kita hidup dalam kelimpahan kasih Allah karena percaya akan janji Allah.
Rasa lapar dan haus kita akan kebenaran sungguh terpuaskan karena Yesus adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup” kita. Yesus menjadi jaminan hidup yang berkelimpahan.
Ia telah bersabda, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10b).
”Tinggalah dalam Aku dan Aku tinggal dalam kamu. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yoh 15:4,7).
Kita bahagia karena tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat memisahkan kita dari cinta Kristus (Rom 8:35), dan tak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. (Yoh 16:22b).
Syukurilah semua yang Tuhan anugerahkan pada kita, dan semua yang terjadi dalam hidup kita. Tak ada lagi alasan bagi orang yang percaya untuk tidak berbahagia.
Semangat Senin! Mari selalu bersyukur akan kasih Allah, dan tetaplah bahagia.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 08 Jun 2026
Senin Pekan Biasa X
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 5:12a
Bacaan Injil: Mat 5:1-12
*************
Bait Pengantar Injil
Mat 5:12a
Bersukacita dan bergembiralah,
karena besarlah ganjaranmu di surga.
Bacaan Injil
Mat 5:1-12
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Pada suatu hari Yesus naik ke atas bukit,
sebab melihat orang banyak.
Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
Lalu Yesus mulai berbicara
dan menyampaikan ajaran ini kepada mereka,
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah orang yang berdukacita,
karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut,
karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,
karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hati,
karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya,
karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai,
karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kalian,
jika demi Aku kalian dicela dan dianiaya,
dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah,
sebab besarlah ganjaranmu di surga,
sebab para nabi sebelum kalian pun telah dianiaya.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
Musa menerima Sepuluh Perintah Allah di Gunung Sinai dan menyampaikannya kepada bangsa Israel. Dalam Injil hari ini, Yesus, Musa yang baru, naik ke atas “gunung”, mengumumkan perintah-perintah baru. Namun, tidak seperti Musa, Yesus naik ke atas bukit, dikelilingi oleh para murid-Nya dan orang-orang yang mendengarkan-Nya.
Hukum baru itu bukanlah serangkaian aturan dan kewajiban baru, melainkan “rumus” kebahagiaan: Yesus menyatakan siapa yang berbahagia dan diberkati di mata Allah. Tampak aneh jika menyebut mereka yang berduka, yang lapar, serta yang menderita dan dianiaya sebagai orang-orang yang berbahagia.
Mari kita perhatikan: Yesus tidak memerintahkan kita untuk menerima saja meskipun kita miskin. Dia tidak menyuruh kita untuk pasrah saja meskipun kita menderita atau bahkan ketika kita tidak memiliki sesuap nasi pun. Ingat – Yesus yang sama adalah Yesus yang memberi makan orang banyak, karena Ia tergerak oleh belas kasih kepada mereka dan tidak ingin mengusir mereka (bdk. Mat. 15:32). Ia juga menyembuhkan segala macam penyakit dan kelemahan, baik jasmani maupun rohani. Oleh karena itu, Yesus tidak menyuruh kita untuk puas dengan nasib kita dan apa yang harus kita lakukan adalah menerima rasa sakit dan penderitaan hidup dan yang penting, berbahagia.
Di atas bukit itu, Yesus sedang berbicara tentang diri-Nya sendiri. Ia menawarkan potret diri-Nya kepada kita dan memberitahu pendengarnya bahwa Ia bahagia karena Ia adalah Anak Tunggal yang dikasihi Bapa. Namun, dengan mengambil bagian dalam kondisi manusiawi kita, Ia menanggung semua penderitaan, kebencian, dan penganiayaan yang menimpa manusia. Ia ingin berbagi kebahagiaan-Nya dengan kita, sahabat-sahabat-Nya, saudara dan saudari-Nya, dengan mengundang kita untuk turut serta menjadi anak Allah. Allah tidak pernah mengecewakan kita; Ia memandang kita dengan cinta, memberkati kita, dan menyambut kita sebagai anak-anak-Nya.
Selain itu, Sabda Bahagia menuntut sikap belas kasih dengan membersihkan hati kita. Sabda Bahagia juga menuntut kita bekerja untuk perdamaian dan berjuang untuk keadilan, meskipun kita dianiaya karenanya. Artinya, untuk berbahagia, kita harus secara aktif berpartisipasi dalam pembangunan dunia baru yang telah didirikan oleh Yesus.
Ketika kita terhindar dari penderitaan akibat kemiskinan, perang, dan kekerasan, kita sungguh terberkati di bumi ini. Namun, Yesus memanggil kita untuk bertindak, bukan untuk mengabaikan tetapi untuk menjangkau mereka yang mengalami kesengsaraan. Melalui empati dan tindakan kita, kita dapat menjadi pembawa damai dan menjadi orang-orang yang diberkati Tuhan.
Tuhan, kami menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan kami menjadi penuh hanya ada di dalam Engkau. Tolonglah kami untuk menghayati Sabda Bahagia ini agar dapat menemukan kebahagiaan yang kekal. Amin.
Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Berbahagialah! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤️︎.
RP Joni Astanto MSC