Senin, 09 Maret 2026
Sabda Kehidupan
Senin 09 Maret 2026
Lukas 4:24 (Luk 4:24-30)
Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”
Menghargai Kalangan Sendiri
Betapa sedih hati Yesus, ketika ditolak oleh orang-orang sekampungNya di Nazareth. Mereka lebih melihat latar belakang keluargaNya yang sederhana, daripada melihat semua tanda-tanda heran yang dibuat Yesus sebagai tanda bahwa janji Allah melalui para nabi telah terpenuhi dalam diriNya.
Memang begitu sulit menerima dan menghargai apa yang datang dari kalangan sendiri. Mantan presiden Habibi merasa sedih karena tekadnya menjadikan Indonesia hebat dengan membuat pesawat terbang sendiri, ternyata tidak dihargai di negaranya sendiri. Orang lebih tertarik dengan merk luar negri daripada buatan negri sendiri.
Lucunya cepatu Nike dibuat di Tangerang, fashion terkenal Zara diproduksi di Sukoharjo, Hugo Boss, Uniqlo dan H&M dibuat di Bandung.
Para Insinyur pesawat yang mendesain pesawat Boeing ternyata adalah para insinyur Indonesia. Mari bangga dengan “Made in Indonesia”.
Penolakan terhadap Yesus oleh keluarga sekampungNya, sahabat kenalanNya sendiri, mengingatkan kita untuk menerima dan menghargai semua anggota keluarga kita, orang-orang sederhana di sekitar kita, orang-orang sekampung kita.
Ingatlah bahwa sekalipun ditolak manusia, Yesus tak pernah menolak kita. Ia mencintai kita apa adanya. Ia ikut menanggung beban derita kita karena Ia mengerti kesulitan kita sebagai manusia biasa.
Biarlah cara merasa, cara pikir, cara memandang, dan cara bertindak Yesus menjadi juga bagian dari karakter kita.
Kata rasul Paulus, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Flp 2:5).
Di balik keterbatasan dan kelemahan Simon, Yesus melihat sosok ‘batu karang’ dalam dirinya dan menyebutnya Petrus. Demikian juga Yesus melihat seorang yang penuh semangat dan keberanian dalam diri ‘Saulus’ sang penegak hukum Taurat, dan menjadikannya ‘Paulus’ sang pewarta ulung.
”Ya Yesus, mampukan kami untuk melihat semua kebaikan, potensi dan kapasitas yang ada pada semua orang di sekitar kami dan menghargainya dengan tulus.
Mampukan juga kami melihat hal yang sama dalam diri kami, dan terus mengembangkan semua talenta yang Tuhan berikan. Amin.”
Semangat Senin, Semangat saling menghargai. Yesus setia menerima dan menemani kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 09 Mar 2026
Senin Prapaskah III
PF S. Fransiska dari Roma, Biarawati
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Mzm 130:5.7
Bacaan Injil: Luk 4:24-30
***********
Bait Pengantar Injil
Mzm 130:5.7
Aku menanti-nantikan Tuhan,
dan mengharapkan firman-Nya,
sebab pada Tuhan ada kasih setia,
dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.
Bacaan Injil
Luk 4:24-30
Yesus seperti Elia dan Elisa,
diutus bukan kepada orang-orang Yahudi.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Ketika Yesus datang ke Nazaret,
Ia berkata kepada umat di rumah ibadat,
“Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
Tetapi Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar:
Pada zaman Elia terdapat banyak janda di Israel,
ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan,
dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka,
melainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon.
Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel,
tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan,
selain dari pada Naaman, orang Siria itu.”
Mendengar itu,
sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota
dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak,
untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
Tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Demikianlah Sabda Tuhan.
***********
ℍ
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “Lebih baik membuat seseorang menangis dengan kebenaran daripada membuat seseorang tertawa dengan kebohongan.” Yesus pulang ke kampung halamannya, Nazareth, seperti dikisahkan dalam Injil hari ini. Ternyata, tidak semua yang Yesus katakan diterima dengan senang hati. Orang-orang dipenuhi dengan kemarahan hingga mengusir-Nya dari kota. Pesan yang disampaikan itu pasti begitu mengganggu sehingga mereka ingin menghilangkan sang pembawa pesan.
Itulah sifat kebenaran. Ketika dinyatakan, ia selalu menyentuh hati dengan empati. Namun, kebenaran bisa mengancam karena ia menuntut tindakan yang sesuai. Kebenaran itu menguatkan namun juga menghakimi. Herodes, misalnya, tertarik pada pesan Yohanes tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk memenuhi tuntutan yang sesuai. Apa yang ia lakukan? Ia memenjarakan Yohanes. Orang-orang sekota dengan Yesus itu begitu tersinggung oleh kata-katanya sehingga mereka ingin melemparkan-Nya ke tebing gunung.
Kebenaran Allah datang kepada kita dengan berbagai cara. Melalui orang-orang, situasi, atau pengalaman rohani, kebenaran Allah mencari kita. Namun, seperti orang-orang Nazaret, kita sering kali takut pada tuntutan kebenaran. Kita sering kali menolak pengorbanan diri dan pertobatan yang diharuskannya. Dan begitu kita memenjarakan pesan Allah. Kita menempatkan Allah di sudut. Kita membagi-bagi hidup kita. Kita “mengurung” Allah dan membuat pesan-Nya menjadi tidak relevan dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita membiarkan Alkitab berdebu. Kita memperlakukan Misa sebagai hiburan atau selingan sesekali. Ingatlah, Allah adalah Allah yang “sopan”. Dia hanya dapat bekerja dalam hidup kita sejauh kita memberi-Nya “izin” untuk melakukannya. Inilah yang kita maksud ketika kita mengatakan bahwa rahmat dibangun di atas kodrat, gratia supponit naturam. Rahmat bekerja jika kita terbuka untuk bekerjasama dengannya.
James Abram Garfield, presiden Amerika Serikat yang ke-20, dikenal dengan kata-katanya: “Kebenaran akan membebaskanmu, tetapi pertama-tama ia akan membuatmu menderita.” Betapa benar kata-kata itu. Kebenaran akan mengubah kita, namun sering kali untuk berubah itu kita harus merasa sakit untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan dan kenyamanan lama. Maka, buka hatimu. Jangan takut pada tuntutan kebenaran. Seperti yang Yesus janjikan dalam Injil, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu,” (Yoh 8: 32).
Dalam hal apa saja Anda membatasi kuasa pesan Allah?
Tuhan, bukalah hati dan pikiranku untuk kebenaran-Mu. Berilah aku keberanian untuk Kauperbarui, meski dalam prosesnya, aku harus menderita. Amin.
Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Hidupi dan perjuangkan kebenaran! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC