Kamis, 15 Januari 2026
Sabda Kehidupan
Kamis 15 Januari 2026
Markus 1:43-44 (Mrk 1:40-45)
Segera Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Mengimani Yesus Dalam Suka Maupun Duka
Yesus tidak ingin bahwa orang mengikutiNya hanya karena kehebatanNya membuat mujizat. Karena itu Ia melarang si kusta yang baru disembuhkanNya memberitakan kesembuhannya sebelum ia memperlihatkan dirinya kepada imam agar diakui bahwa ia sudah sembuh, dan mempersembahkan kurban syukur atas pentahirannya. Tapi karena kegirangan oleh kesembuhannya, si kusta lupa pada permintaan Yesus.
Beriman kepada Yesus tidak ditentukan oleh besarnya mujizat yang kita alami, bukan juga oleh berita heboh mengenai kehebatan Yesus.
Kita tahu bahwa murid-murid Yesus sekalipun telah menyaksikan mujizatNya berkali-kali, tetap saja melarikan diri, menyangkal Dia tatkala menghadapi kenyataan bahwa Yesus yang mereka puja dan banggakan harus mengalami sengsara: memikul salib, dihina dan mati sebagai salah seorang penjahat ulung.
Yesus adalah Tuhan yang mulia dan perkasa. Namun Ia juga Tuhan yang rela menanggung sengsara, ikut berbeban dan peduli dengan susah derita hidup kita.
Ia Tuhan yang rela menghampakan diri dan menjadi hamba dan sahabat kita yang setia. OlehNya kita dikuatkan saat berbeban, dihibur saat susah, diangkat saat jatuh, ditemani saat sendirian, disemangti saat hilang harapan, didorong saat ingin menyerah, dicintai apa adanya. Itulah Yesus Tuhan kita yang adalah sahabat seperjalanan kita, sekalipun Ia adalah Tuhan dan Raja.
Janganlah hanya beriman padaNya saat kemauan kita terpenuhi, doa kita terkabul, tapi tega meninggalkanNya saat kita merasa tak membutuhkan Tuhan dalam hidup kita, atau kecewa karena keinginan dan doa kita tak terjawab. Bila toh kita melupakqn Dia, Yesus tak pernah meninggalkan kita. Ia tetap setia menanti kita untuk kembali dan mengikutiNya.
Selamat hari Kamis. Mari terus berjalan bersama Yesus, saat senang maupun susah.🙏❤️😇
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 15 Jan 2026
Kamis Pekan Biasa I
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 4:23
Bacaan Injil: Mrk 1:40-45
************
Bait Pengantar Injil
Mat 4:23
Yesus mewartakan kerajaan Allah
dan menyembuhkan semua orang sakit.
Bacaan Injil
Mrk 1:40-45
Orang Kusta lenyap penyakitnya dan menjadi tahir.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Sekali peristiwa, seorang sakit kusta datang kepada Yesus.
Sambil berlutut di hadapan Yesus,
ia memohon bantuan-Nya, katanya,
“Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”
Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan,
lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu,
dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”
Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu,
dan ia menjadi tahir.
Segera Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras,
kata-Nya, “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun,
tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam
dan persembahkanlah untuk pentahiranmu
persembahan yang diperintahkan oleh Musa,
sebagai bukti bagi mereka.”
Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu
dan menyebarkannya kemana-mana
sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota.
Yesus tinggal di luar kota di tempat-tempat yang sepi;
namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.
Demikianlah sabda Tuhan.
************
“Allah Bukan untuk Diperalat, Melainkan Ditemui dan Diikuti”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Liturgi hari ini menyentuh satu persoalan iman yang sangat mendasar dan sangat relevan bagi zaman kita: apakah kita datang kepada Allah untuk diperalat, atau untuk diselamatkan? Bacaan pertama mengisahkan bangsa Israel yang membawa Tabut Perjanjian ke medan perang dengan harapan menang. Tabut—tanda kehadiran Allah—mereka gunakan sebagai jaminan kemenangan. Namun yang terjadi justru kekalahan besar. Mengapa? Karena simbol suci dipakai tanpa pertobatan hati. Allah tidak bisa diperalat, bahkan oleh umat pilihan-Nya sendiri.
Inilah wajah iman yang juga sering muncul pada zaman kita. Banyak orang berdoa bukan untuk diubah, tetapi agar keadaan berubah sesuai keinginannya. Doa menjadi daftar permintaan: sehat, sukses, naik jabatan, usaha lancar. Ketika doa tidak dikabulkan, iman goyah, Tuhan dipersalahkan, Gereja ditinggalkan. Allah diperlakukan seperti “mesin berkat”, bukan Pribadi yang berdaulat dan mengasihi. Simbol-simbol iman—salib, rosario, misa, pelayanan—dijalani sebagai rutinitas atau bahkan jimat, tetapi hidup sehari-hari tidak disentuh oleh kejujuran, keadilan, dan kasih. Di sinilah iman menjadi kosong: tampak religius di luar, tetapi jauh dari pertobatan di dalam.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Injil hari ini menghadirkan sikap yang sangat berbeda melalui seorang penderita kusta. Ia datang kepada Yesus bukan dengan tuntutan, melainkan dengan kerendahan hati: “Tuan, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Ia percaya Yesus berkuasa, tetapi lebih dari itu, ia percaya bahwa kehendak Yesus itu baik. Inilah iman sejati: bukan memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita, tetapi menyerahkan diri pada kehendak Tuhan. Ia datang bukan untuk memakai Yesus, tetapi untuk mempercayakan hidupnya kepada-Nya.
Yesus pun menjawab dengan kata-kata yang sangat meneguhkan: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Yesus bukan Allah yang jauh dan dingin. Ia tergerak oleh belas kasihan dan bahkan menyentuh yang najis. Sentuhan ini bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi memulihkan martabat, mengangkat yang terbuang, dan mengembalikan seseorang ke dalam persekutuan. Namun perhatikan, setelah disembuhkan, orang itu diutus untuk taat: pergi kepada imam dan mempersembahkan korban. Keselamatan bukan akhir perjalanan, tetapi awal hidup baru dalam ketaatan dan tanggung jawab.
Saudara-saudari terkasih,
Liturgi hari ini menegaskan dengan jelas: Allah hadir bukan untuk diperalat, tetapi untuk menyelamatkan. Ia dekat dengan hati yang rendah, terbuka pada mereka yang sungguh percaya, dan bekerja dalam hidup yang mau taat. Maka marilah kita belajar datang kepada Tuhan bukan dengan kesombongan rohani, bukan dengan iman yang penuh tuntutan, tetapi dengan iman yang tulus—iman yang siap disentuh, dimurnikan, dan diubah oleh kasih-Nya. Sebab orang yang benar-benar bertemu Allah tidak hanya pulang dengan mukjizat, tetapi dengan hidup yang baru.
Peneguhan:
Manusia memperalat Allah ketika ia ingin mukjizat tanpa pertobatan.
Tetapi orang yang diselamatkan datang dengan iman yang rendah hati,
percaya pada kehendak Tuhan,
dan siap diubah oleh kasih-Nya.
Amin.
Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
(Uskup Agung Medan )