Minggu, 15 Maret 2026
Sabda Kehidupan
Minggu 15 Maret 2026
Hari Minggu Prapaskah IV
Yohanes 9:10-11 (Yoh 9:1-45)
Kata mereka kepadanya: “Bagaimana matamu menjadi melek?” Jawabnya: “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.”
Yesus Terang Hidup Kita
Penginjil Yohanes dengan panjang lebar menulis kisah penyembuhan Yesus atas seorang yang buta sejak lahirnya.
Bisa kita bayangkan betapa berat bagi si buta untuk memahami indahnya alam ciptaan Tuhan ini.
Ilustrasi di bawah ini kiranya membantu kita untuk mengerti betapa berat bahkan yidak mungkin bagi kita yang mampu melihat, menjelaskan bagi seorang buta sejak lahir, ‘bagaimana menjelaskan dan menggambarkan apa itu ‘warna merah’!
Pada suatu ketika datanglah seorang buta bertanya kepada temannya yang dapat melihat dengan normal, katanya, “Tolong jelaskan padaku apa sebenarnya warna merah itu.”
Temannya kemudian berusaha menjelaskan warna merah itu sebagai salah satu warna dari bunga mawar yang indah. Sayangnya si buta itu tidak pernah melihat bunga mawar. Ternyata, bagaimanapun cara yang ia gunakan untuk menggambarkan warna merah kepada si buta, ia tetap tidak bisa menangkap bagaimana sebenarnya warna merah itu, karena tak pernah melihatnya sebelumnya, karena ia terlahir buta.
Apa arti dan pesannya bagi kita?
Bila warna merah yang hanya menjadi salah satu bagian kecil dari ciptaan Allah, begitu sulit digambarkan bagi seorang buta, apalagi Allah yang menciptakan warna warni kehidupan ini, yang sama sekali tak kelihatan bagi kita?
Itulah sebabnya Allah mengutus Yesus sebagai terang dunia, agar kita dapat melihat, merasakan dan mengalami betapa tinggi dan lebar, luas dan dalam kasih Allah bagi kita.
Hanya Yesus yang mampu membuka mata dan telinga, hati dan pikiran kita untuk melihat Allah, karena Dia-lah Allah yang menjadi manusia.
Mari dengan penuh kerendahan hati kita menyadari dan mengakui kebutaan kita akan misteri kasih Allah. Biarlah di masa Prapaskah ini, Yesus memampukan kita untuk melihat dengan mata iman setiap jamahan kasih sayang Allah bagi kita.
Injil dengan indah menggambarkan kasih Allah bagi kita dalam Yesus Tuhan kita.
Yesus telah datang ke tengah kita, memberikan seluruh hidupNya melalui sengsara dan pengorbananNya di kayu salib.
”Ya Yesus biarlah setiap tetes darah lukaMu menjadi obat penyembuh kebutaanku untuk selalu mampu melihat hadirMu di sisiku. Engkaulah terang hidupKu.”
Selamat Hari Minggu. Mari bersyukur atas terang yang dibawa Yesus.❤️
Ps Revi Tanod Pr
ℍ
Minggu, 15 Maret 2026, Minggu Prapaskah IV Tahun A
Bacaan: 1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41 (panjang) Yoh. 9:1,6-9,13-17,34-38 (singkat).
“Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.”
(Yoh 9: 39)
Dalam Injil Minggu Prapaskah ke-4 ini, kita jumpai orang-orang buta (Yoh 9: 1-41). Ada dua jenis kebutaan: buta secara fisik dan yang buta secara rohani; orang yang ingin melihat dan orang-orang yang menolak untuk melihat.
Buta secara rohani berarti “Memiliki mata tetapi tidak melihat,” seperti para Farisi. Para pemimpin agama yang sok suci ini tidak dapat melihat karena keangkuhan, kesombongan, dan merasa tahu semua jawaban. Bukankah dalam banyak hal kita seperti orang-orang Farisi yang buta itu? Merasa paling benar karena kalau mengakui kesalahan akan dianggap lemah. Merasa paling suci dibanding orang lain. Merasa paling berjasa, merasa harus dihargai dan dihormati. Merasa lebih baik daripada yang lain sehingga merasa tidak memerlukan bantuan dari siapa pun. Bahkan merasa tidak perlu Tuhan dalam hidup kita. Uskup Fulton J Sheen pernah berseloroh: “Dulu orang-orang katolik percaya akan dogma Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa tapi orang-orang sekarang ini percaya bahwa mereka tidak punya dosa.” Maka tidaklah mengherankan jika gereja dan ruang pengakuan sepi….bahkan menjelang Paskah!
Seperti si buta, kita membutuhkan penerimaan diri, pengetahuan diri. Dibutuhkan kerendahan hati untuk menerima bahwa kita membutuhkan bantuan, kerendahan hati untuk bekerja sama dengan rahmat Tuhan, untuk tumbuh secara rohani.
Semoga masa Prapaskah ini membantu kita memberantas kebutaan rohani kita, menerima keterbatasan, kelemahan dan keberdosaan kita sehingga kita dapat disembuhkan dan tumbuh secara rohani. Semoga kita bertumbuh dalam iman kita seperti orang buta itu: semakin mengenal dan semakin dekat dengan Yesus dan pada gilirannya memberi kesaksian tentang Dia.
Yesus, dalam nama-Mu orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, dan orang mati dibangkitkan. Datanglah ke dalam hidup kami dan sembuhkanlah luka-luka hati kami yang hancur. Berikanlah kami mata iman untuk melihat kemuliaan-Mu dan hati yang berani untuk membawa kemuliaan bagi-Mu dalam segala hal yang kami katakan dan lakukan. Amin.
Selamat hari Minggu Prapaska IV. Tetap semangat dan berkanjang dalam Tuhan. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC