Senin, 06 Oktober 2025
Sabda Kehidupan
Senin 6 Oktober 2025
Luk 10:33 (Lukas 10:25-37)
”Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”
Jadilah Orang Samaria Yang Baik Hati
Orang Yahudi di jaman Yesus hanya mengakui sesamanya orang yang sebangsa, teman dekat atau anggota keluarga. Maka sekalipun berpegang pada hukum cinta kasih, kasih mereka hanya terbatas pada orang yang dikenal dekat.
Yesus datang untuk merangkul semua orang, siapapun dia tanpa membeda-bedakan. Maka cerita Yesus tentang orang Samaria yang baik hati tidak lain adalah kisah tentang Yesus sendiri. Ia selalu tergerak hati oleh belaskasihan.
Kita pun ingin menjadi seperti Yesus, selalu tergerak hati oleh belaskasihan. Biarlah orang melihat Yesus dalam setiap gerakan hati kita.
Untuk mendorong kita menaruh belas kasih kepada siapa saja, Yesus pun menyamakan diriNya sebagai orang yang kecil dan hina. Kata Yesus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40).
Mari menjadi salah satu dari orang Samaria yang baik hati.
Selamat memulai pekan yang baru dengan semangat belaskasih.❤️
Ps Revi Tanod Pr (Marseille – Perancis)
Kalender Liturgi 06 Okt 2025
Senin Pekan Biasa XXVII
PF S. Bruno, Imam
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 13:34
Bacaan Injil: Luk 10:25-37
**********
Bait Pengantar Injil
Yoh 13:34
Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan;
yaitu supaya kamu saling mengasihi,
sama seperti Aku telah mengasihi kamu.
Bacaan Injil
Luk 10:25-37
Siapakah sesamaku?
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu ketika
seorang ahli kitab berdiri hendak mencobai Yesus,
“Guru, apakah yang harus kulakukan
untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Jawab Yesus kepadanya,
“Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?
Apa yang kaubaca di sana?”
Jawab orang itu,
“Kasihilah Tuhan, Allahmu,
dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu,
dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu.
dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Kata Yesus kepadanya,
“Benar jawabmu itu.
Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi,
“Dan siapakah sesamaku manusia?”
Jawab Yesus,
“Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho.
Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun
yang bukan saja merampoknya habis-habisan,
tetapi juga memukulnya,
dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati.
Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu.
Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu.
Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
Lalu datanglah ke tempat itu
seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan.
Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya,
sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur.
Kemudian
ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri
lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Keesokan harinya
ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu,
katanya, ‘Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini,
aku akan menggantinya waktu aku kembali.’
Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini,
adalah sesama manusia
dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
Jawab orang itu,
“Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”
Yesus berkata kepadanya,
“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Demikianlah sabda Tuhan.
***********++
ℍ
“Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10: 37)
Di masa kini, jalan dari Yerusalem ke Yerikho adalah jalan beraspal yang mulus, mobil dan bus melaju kencang menuju kota tertua yang masih dihuni manusia di dunia itu. Pada masa Yesus, barangkali jalan tersebut adalah jalan tanah di padang gurun yang sepi, tidak ada orang yang ramai lalu lalang. Mungkin menakutkan untuk melakukan perjalanan di tempat itu. Bisa dibayangkan bagaimana para pelancong di zaman kuno di jalan padang pasir yang sepi itu menjadi korban perampok.
Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati adalah ilustrasi yang indah tentang perintah Kristus untuk mengasihi sesama, bahkan musuh sekalipun. Ini adalah perintah yang sulit untuk diikuti karena kita semua tahu betapa sulitnya mengasihi musuh. Tetapi bagi para pendengar pertama pada masa Yesus, perumpamaan ini pasti begitu mengejutkan. Mengapa?
Para pemimpin agama, imam dan orang Lewi melewati orang malang itu dan tidak menolongnya sama sekali. Justru yang menolongnya adalah orang Samaria, yang sangat dibenci dan dihina oleh orang Yahudi, yang dijadikan teladan oleh Yesus di hadapan mereka. Dan bagaimana dia menolong? Dia berhenti, menempatkan dirinya dalam bahaya diserang oleh para perampok, mengoleskan anggur untuk membersihkan luka dan mencegah infeksi dan minyak untuk penyembuhan luka. Dia membawa orang yang terluka itu ke sebuah penginapan dan membayar sejumlah uang yang cukup besar, memastikan bahwa pemilik penginapan akan merawat orang itu sampai dia benar-benar pulih. Bagi orang Yahudi, dia adalah seorang “kafir”, tetapi dia membuat kasih Allah menjadi nyata. Tidak heran, Paus Fransiskus mengejutkan banyak orang pada bulan-bulan pertama kepausannya ketika ia mengatakan bahwa belas kasih dan cinta Allah tidak terbatas dan bahkan orang ateis pun memiliki kesempatan untuk diselamatkan.
Pada Penghakiman Terakhir, Tuhan tidak akan bertanya kepada kita tentang berapa banyak uang yang kita miliki atau berapa banyak rumah dan mobil yang kita punyai atau seberapa tinggi dan panjang titel yang kita sandang. Satu-satunya pertanyaan-Nya adalah: Berapa banyak kita telah mengasihi?
Santo Agustinus menulis: “Sekali untuk selamanya, sebuah ajaran singkat diberikan kepadamu: Cintailah, dan lakukanlah apa yang kamu kehendaki. Ama et fac quod vis!”
Apakah Anda hanya mengasihi orang-orang yang baik kepada Anda, atau apakah Anda juga mengasihi mereka yang menyakiti dan merugikan Anda?
Tuhan, Engkau telah memberikan teladan yang sempurna tentang bagaimana seharusnya mengasihi. Engkau telah mati bagiku, seorang pendosa. Terima kasih Tuhan, dan janganlah biarkan aku melupakan kebenaran ini.
Selamat pagi. Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Ama et fac quod vis! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC