Sabtu, 20 September 2025
Sabda Kehidupan
Sabtu 20 September 2025
Peringatan St. Andreas Kim Tae Gon, St. Paulus Chong Hasang, dkk Para Martir Korea
Lukas 8:5a, 6a, 7a, 8a (Luk 8:4-15)
Berkatalah Yesus dalam sebuah perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan…Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu…Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri…Dan sebagian jatuh di tanah yang baik…”
Belajar Dari Para Martir Korea
Bila kita menyimak perumpamaan Yesus tentang penabur, pantaslah kita bertanya, mengapa si penabur tidak mempersiapkan terlebih dahulu tanah yang akan ditanami benih agar tanahnya subur sehingga dapat menghasilkan buah yang diharapkan? Mengapa ia menabur sesuka hatinya, terserah benih itu mau jatuh di mana? Lihatlah, ada yang jatuh di pinggir jalan, di antara tanah berbatu, di tengah semak berduri, dan hanya sebagian yang jatuh di tanah yang baik.
Oleh karena si penabur adalah Allah sendiri, tentu Yesus menceritakan perumpamaan ini agar kita dapat memahami isi hati Allah yang menaburkan firmanNya kepada semua orang dan tak ada yang dikecualikan.
Rahmat Allah dicurahkan kepada setiap orang, pria dan wanita, tua dan muda, kaya dan miskin, orang suci dan orang berdosa. Betapa Allah Bapa mencintai kita. Kita semua diberkati dengan anugerah yang melimpah.
Untuk dapat tumbuh subur dan berbuah, kita perlu berjuang, terus belajar, serta memanfaatkan semua anugerah yang Tuhan berikan, terutama iman dan akal budi agar tanah hati kita tetap subur. Jangan biarkan kekhawatiran dunia, dosa dan pelanggaran kita, menghimpit dan menghambat kita untuk tumbuh dan menghasilkan buah.
Jangan menyerah dengan keadaan, tetap bersyukur dan selalu mengandalkan Tuhan. Untuk itu kita perlu berjuang bersama, saling mengingatkan, saling peduli dan bergandengan tangan.
Dalam hal ini mari kita belajar dari para martir yang berasal dari Korea, Pastor Andreas Kim Tae Gon, Bapak Paulus Chong Hasang, dan kawan-kawan yang dianiaya dan dibunuh oleh penguasa Korea waktu itu sekitar tahun 1784, saat iman Kristiani ditaburkan di Korea.
Oleh darah para Martir Korea itu, saat ini Korea Selatan menjadi negara Kristen dengan jumlah misionaris, penginjil, pastor, suster, frater yang banyak.
Mari terus mempertahankan memperjuangkan iman kita, sekalipun terhimpit oleh semak duri kepicikan dunia, penolakan dan berbagai kesulitan hidup lainnya.
Teruslah berbuah di mana kita ditanam Tuhan.
Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus menemani kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 20 Sep 2025
Sabtu Pekan Biasa XXIV
PW S. Andreas Kim Taegon, Imam, dan Paulus Chong Hasang, dkk. Martir Korea
Warna Liturgi: Merah
Bait Pengantar Injil: Luk 8:15
Bacaan Injil: Luk 8:4-15
***************
Bait Pengantar Injil
Luk 8:15
Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah
dalam hati yang baik dan tulus ikhlas
dan menghasilkan buah dalam ketekunan.
Bacaan Injil
Luk 8:4-15
Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengarkan sabda itu
dan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Banyak orang datang berbondong-bondong dari kota-kota sekitar kepada Yesus.
Maka kata Yesus dalam suatu perumpamaan,
“Adalah seorang penabur keluar menaburkan benih.
Waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan,
lalu diinjak-injak orang
dan dimakan burung-burung di udara sampai habis.
Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,
dan tumbuh sebentar, lalu layu karena tidak mendapat air.
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri,
sehingga terhimpit sampai mati
oleh semak-semak yang tumbuh bersama-sama.
Dan sebagian jatuh di tanah yang baik,
lalu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat.”
Setelah itu Yesus berseru,
“Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar,
hendaklah mendengar.”
Para murid menanyakan kepada Yesus maksud perumpamaan itu.
Yesus menjawab,
“Kalian diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Allah,
tetapi hal itu diwartakan kepada orang lain dalam perumpamaan,
supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat,
dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.
Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah sabda Allah.
Yang jatuh di pinggir jalan
ialah orang yang telah mendengarnya,
kemudian datanglah Iblis,
lalu mengambil sabda itu dari dalam hati mereka,
supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu,
ialah orang yang setelah mendengar sabda itu,
menerimanya dengan gembira,
tetapi mereka tidak berakar.
Mereka hanya percaya sebentar saja
dan dalam masa pencobaan mereka murtad.
Yang jatuh dalam semak duri,
ialah orang yang mendengar sabda itu,
dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit
oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup,
sehingga tidak menghasilkan buah yang matang.
Yang jatuh di tanah yang baik
ialah orang yang mendengar sabda itu
dan menyimpannya dalam hati yang baik,
dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”
Demikianlah sabda Tuhan.
***************
ℍ
“Benih itu ialah firman Allah…. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8: 11. 15)
Tanah dihargai dari kesuburannya, yakni, seberapa produktif dan bagaimana tanah itu memberikan hasil yang diharapkan. Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana agar “tanah” hati kita menghasilkan buah:
1. Mendengarkan Sabda dalam keterbukaan (Luk 8: 15). Untuk mendengarkan Sabda Allah, kita harus menyingkirkan segala kebisingan yang lain. Kita harus membangun roh keterbukaan. Seperti petani membalik-balik dan menggemburkan tanah dengan mencangkul atau membajaknya, kita juga perlu membalik-balik serta menggemburkan tanah hidup kita – mengusahakan perubahan-perubahan yang perlu – agar benih Sabda Allah dapat menembus ke lubuk hati dan bertumbuh dengan baik.
2. “Menyimpannya” (Luk 18: 15). Seorang petani “menyimpan” benin itu dalam tanah, dengan menguburnya dan menutupnya dengan tanah dan pupuk. Atas cara itu, angin tidak dapat menerbangkannya dan burung-burung tidak dapat memakannya. Demikian juga, kita “menyimpan” Sabda Allah dalam hati kita (Mzm 119: 11) dan tidak membiarkannya mubazir. Kita merenungkannya (Mzm 1: 2) meresapkannya dalam hati dan membuatnya bagian dari hidup kita.
3. Menghasilkan buah melalui ketekunan (Luk 8: 15). Kita sendiri tidak dapat menghasilkan buah; Sabda Allah itu yang menghasilkan buah. Akan tetapi, kita harus bertekun untuk bekerjasama dengan Roh Kudus dengan setia dan bijaksana (Mat 24: 45), mengajarkannya, dan mengatasi kecenderungan kita untuk bermalas-malasan dalam mewartakannya.
Oleh sebab itu, mari bekerja keras mengusahakan tanah yang baik bagi Yesus. “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai,” (Gal 6: 9).
Tuhan, jadikanlah kami terbuka terhadap firman-Mu. Bebaskanlah kami dari kemalasan dan kekhawatiran akan keamanan dan kepastian hidup kami. Berikanlah kami wawasan baru akan Sabda-Mu, serta ketekunan untuk menghasilkan buah. Amin.
Selamat Berakhir pekan. Hasilkan buah-buah Sabda Tuhan! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC