Selasa, 05 Agustus 2025
Sabda Kehidupan
Selasa 05 Agustus 2025
Matius 14:28 (Mat 14:22-33)
Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”
Berani Mencoba!
Banyak pesan yang bisa kita petik dan renungkan dari kisah Injil hari ini tentang Yesus yang dapat berjalan di atas air. Tapi kali ini mari kita renungkan sejenak satu hal yang menarik dalam pribadi Petrus: berani mencoba!
Petrus penasaran melihat bahwa Yesus bisa berjalan di atas air. Maka ia-pun meminta kepada Yesus agar ia juga dapat melakukannya. Yesus-pun mengiyakannya. Tapi karena fokus pada tiupan angin yang kencang dan bukannya fokus pada Yesus, ia-pun mulai ragu dan cemas lalu mulai tenggelam. Petrus lalu berteriak minta tolong dan Yesus mengulurkan tanganNya menarik Petrus keluar dari air.
Dalam pembelajaran di sekolah, seorang murid yang berani mencoba sesuatu yang baru, pasti akan mendapat pelajaran yang sangat berguna baginya untuk bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik. Ia mampu keluar dari zona nyaman dan berani menghadapi perubahan. Ia mampu menantang diri sendiri untuk mencoba hal-hal yang baru di luar kebiasaan.
Banyak orang tidak berani keluar dari zona nyaman, mencoba sesuatu yang baru karena takut gagal atau takut salah. Padahal kalau kita tidak berani mencoba maka kita tidak akan menemukan hal-hal yang baru bahkan tidak pernah belajar.
Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak sama sekali. Ingatlah kita punya perisai iman yang memberanikan kita untuk mencoba.
Yakinlah bahwa Yesus ada beserta kita. Ia selalu mengulurkan tangan untuk membantu.
Ia selalu bersabda, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!” Dengarkanlah suara Yesus di hati untuk menguatkan kita. “Ayo kamu bisa!” Jangan dengar teriakan orang di sekitar yang merendahkan, meremehkan atau bahkan melecehkan. Bukan soal berapa kali kita gagal, tapi berapa kali kita mencoba dan bangkit lagi, itulah yang penting. Mari beriman seperti anak kecil yang selalu berani mencoba yang baru.
Selamat mencoba, Yesus siap sedia menolong kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 05 Agt 2025
Selasa Pekan Biasa XVIII
PF Pemberkatan Gereja Basilik SP Maria
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 1:49b
Bacaan Injil: Mat 14:22-36
************
Bait Pengantar Injil
Yoh 1:49b
Rabi, Engkau Anak Allah,
Engkaulah raja israel.
Bacaan Injil
Mat 14:22-36
Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa, setelah mengenyangkan orang banyak dengan roti,
Yesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu
dan mendahului-Nya ke seberang,
sementara Ia menyuruh orang banyak pulang.
Dan setelah orang banyak itu disuruh pergi
Yesus mendaki bukit untuk berdoa seorang diri.
Ketika hari sudah malam, Ia seorang diri di situ.
Perahu para murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai
dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.
Kira-kira jam tiga malam
datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.
Melihat Dia berjalan di atas air,
para murid terkejut dan berseru, “Itu hantu!”
Dan mereka berteriak ketakutan.
Tetapi Yesus segera menyapa mereka, kata-Nya,
“Tenanglah! Akulah ini, jangan takut!”
Lalu Petrus berseru,
“Tuhan, jika benar Tuhan sendiri,
suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air.”
Kata Yesus, “Datanglah!”
Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air
mendapatkan Yesus.
Tetapi ketika dirasakannya tiupan angin kencang,
Petrus menjadi takut dan mulai tenggelam lalu berteriak,
“Tuhan, tolonglah aku!”
Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata,
“Orang kurang percaya! Mengapa engkau bimbang?”
Keduanya lalu naik ke perahu dan redalah angin.
Dan mereka yang ada di perahu menyembah Dia, katanya,
“Sungguh, Engkau Anak Allah.”
Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.
Begitu Yesus dikenal oleh orang-orang setempat,
mereka memberitahukannya ke seluruh daerah.
Maka semua orang sakit dibawa kepada-Nya.
Mereka memohon,
supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya.
Dan semua orang yang menjamah Dia menjadi sembuh.
Demikianlah sabda Tuhan.
*************
ℍ
Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” [Mat 14: 24 – 27]
Dalam Injil hari ini, Matius memberi kita gambaran Gereja — sebuah perahu yang terombang-ambing dalam kegelapan, berjuang melawan ombak yang kuat. Ini bukan sekadar kisah tentang peristiwa masa lalu; ini adalah katekese simbolis, yang berbicara langsung kepada kita hari ini.
Komunitas Kristen purba Matius, seperti komunitas kita, mengalami ketegangan seperti kita, sedang mengalami ketegangan internal, ketakutan, dan kebingungan. Para murid di perahu mewakili Gereja. Mereka merasa tidak pasti, sedang berjuang, dan merasa sendirian. Yesus tidak lagi terlihat bersama mereka — Dia telah “naik ke gunung” untuk bersama Bapa, simbol wafat dan kemuliaan-Nya. Malam telah tiba. Cahaya seolah-olah telah hilang.
Betapa familiar rasanya hal ini. Kita pun berlayar melalui badai — konflik di paroki kita, iman yang menurun, perpecahan, skandal, keraguan. Terkadang, kita merasa bingung dan ditinggalkan. Namun, sama seperti Yesus mendekati para murid dengan berjalan di atas laut, Dia mendekati kita di tengah kekacauan dan kegalauan. Dia tidak pernah absen. Dia adalah Tuhan atas gelombang. Seperti yang dikatakan dalam Ayub 9:8, “Hanya Allah yang berjalan di atas laut.” Yesus, yang telah bangkit, dengan tenang melangkah di atas ketakutan kita dan berkata, “Tenanglah! Aku ini. Jangan takut!”
Tetapi apakah kita mengenali-Nya? Seperti para murid, kita mungkin salah mengira kehadiran-Nya sebagai “hantu” – kehadiran-Nya kita rasakan seperti sebuah gagasan yang samar, bukan kenyataan yang nyata. Ketika kita gagal melihat-Nya melalui mata iman, kita panik dan tenggelam.
Injil ini menantang kita untuk memperdalam iman kita akan kehadiran Kristus yang nyata, meskipun tak terlihat, di tengah-tengah kita — dalam doa, dalam Ekaristi, dan dalam diri satu sama lain. Dia tidak meninggalkan kita. Janji-Nya kekal: “Aku menyertai kamu senantiasa.”
Dalam kegelapan Gereja kita dan pergumulan pribadi, marilah kita berpegang teguh pada seruan-Nya. “Tenanglah! Aku ini. Jangan takut!” Dia ada di sini. Kita tidak pernah sendirian.
Ya Tuhan, ketika imanku melemah, selamatkanlah aku. Tambahkan imanku. Amin.
Selamat beraktivitas. Jangan takut! JLU!
[♡.] ❤️
RP Joni Astanto MSC