Minggu, 20 Juli 2025
Sabda Kehidupan
Minggu 20 Juli 2025
Hari Minggu Biasa XVI
Lukas 10:41-42 (Luk 10:38-42)
Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”
Berhenti Sejenak Mendengarkan Yesus
Yesus sudah berjalan jauh dari Galilea menuju Yerusalem. Ia mampir sebentar di Betani untuk berjumpa dengan sahabat-sahabatNya, kakak beradik Marta, Maria dan Lazarus. Yesus tentu haus dan lapar.
Tapi maksud utama Yesus adalah bercakap-cakap dengan mereka. Yesus ingin menceritakan pengalamanNya mewartakan Injil ke mana-mana. Ia juga ingin mendengarkan sharing pengalaman hidup teman-temanNya di Betani. Sayang Marta hanya sibuk di dapur. Kesibukannya membuat Ia tak punya waktu mendengarkan Yesus dan berbicara dengan Yesus dari hati ke hati.
Maria memilih duduk diam dekat kaki Yesus. Ia mengerti bahwa Yesus perlu teman untuk berbicara dari hati ke hati. Yesus juga perlu tempat mencurahkan isi hati. Setiap orang ingin didengarkan. Oleh karena itu Maria duduk diam dekat kaki Yesus dan fokus mendengarkanNya. Ia menjadikan Yesus pusat perhatiannya, menempatkan Yesus segalanya di hatinya.
Bekerja dan melayani tentu penting. Tapi mari ambil waktu untuk hening di hadapan Tuhan, memberi Yesus ruang di hati. Bukalah Injil, surat cinta Yesus bagi kita. Alami dan rasakan Yesus duduk di hadapan kita dan dari hati ke hati Ia menyapa kita, “Damai sejahtera bagimu. Janganlah gelisah hatimu, ini Aku ada bersamamu. Aku mengasihimu. Tinggallah dalam kasihKu dan Aku akan tinggal bersamamu…”
Sesudah mendengarkan Yesus, kini ungkapkanlah isi hatimu, kegelisahan hatimu, pengalaman hidupmu, rencana dan harapanmu. Yesus ada di hadapanmu, selalu siap sedia mendengarkanmu.
Leganya hati kita punya Tuhan dan sahabat yang mau mendengarkan kita dan selalu hadir untuk kita. Demikian juga Yesus sungguh senang punya sahabat yang mau duduk diam bersamaNya, sepenuh hati mendengarkanNya dan menikmati saat-saat bersama Yesus.
Di pihak lain, mari kita juga memberi waktu mendengarkan orang-orang yang berjalan bersama kita. Ambil waktu untuk mendengarkan ungkapan hati anak-anak kita, orangtua kita, pasangan yang telah Tuhan hadirkan dalam hidupmu. Jadilah pendengar yang baik untuk menyembuhkan luka hati sahabat-sahabat yang butuh didengarkan.
Selamat Hari Minggu. Saatnya memberi waktu untuk mendengarkan Tuhan bersabda.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 20 Jul 2025
Minggu Pekan Biasa XVI
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Luk 8:15
Bacaan Injil: Luk 10:38-42
***********
Bait Pengantar Injil
Luk 8:15
Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik,
dan menghasilkan buah dalam ketekunan.
Bacaan Injil
Luk 10:38-42
Marta menerima Yesus di rumahnya.
Maria telah memilih bagian yang paling baik.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Dalam perjalanan ke Yerusalem,
Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung.
Seorang wanita bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
Wanita itu mempunyai seorang saudara bernama Maria.
Maria ini duduk di dekat kaki Tuhan
dan terus mendengarkan perkataan-Nya.
Tetapi Marta sibuk sekali melayani.
Ia mendekati Yesus dan berkata,
“Tuhan, tidakkah Tuhan peduli
bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri?
Suruhlah dia membantu aku.”
Tetapi Tuhan menjawabnya,
“Marta, Marta,
engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
padahal hanya satu saja yang perlu:
Maria telah memilih bagian yang terbaik,
yang tidak akan diambil dari padanya.”
Demikianlah sabda Tuhan.
*************
ℍ
“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” [Luk 10: 41 – 42]
Dalam Injil hari ini, Yesus memasuki rumah dua saudari: Marta dan Maria. Ini adalah momen kecil dan hening dalam Injil Lukas, tetapi sarat dengan makna mendalam bagi hidup kita. Rumah di Betania ini menjadi ruang yang kudus — tempat di mana Allah sendiri datang bukan untuk memerintah, melainkan untuk disambut, untuk diterima dengan kasih.
Kita sering membayangkan Allah begitu jauh, agung, tak tersentuh. Namun Yesus, Allah beserta kita, mengetuk pintu kehidupan sehari-hari dan rindu untuk diterima — bukan dengan kemegahan, melainkan dengan kasih. Sebagaimana dikatakan Kitab Wahyu: “Aku berdiri di muka pintu dan mengetok” (Wahyu 3:20). Allah kita rendah hati. Dia ingin masuk ke dalam hati kita, untuk menyertai kita, untuk berbicara dengan kita. Dia datang untuk menjadi sahabat kita.
Marta menyambut Yesus dengan kemurahan hati. Ia bekerja keras, melayani, mempersiapkan — ia melakukan segalanya karena kasih. Namun, ia teralihkan. Ia menjadi cemas, frustrasi, bahkan kesal. “Tuhan, tidakkah Engkau peduli?” katanya. Dan dalam kata-kata itu, kita mendengar diri kita sendiri. Seringkali, dalam pelayanan kita yang sibuk, bahkan dalam pekerjaan kita untuk Gereja, kita melupakan Dia yang untuk-Nya kita bekerja.
“Marta, Marta.” Mengapa nama itu diulang? Ini adalah cara umum dalam Kitab Suci untuk menekankan panggilan seseorang: ‘Samuel, Samuel,’ ‘Musa, Musa,’ ‘Saul, Saul.’ Marta dipanggil untuk menjadi murid. Ia adalah orang yang baik; ia memberikan dirinya, tetapi ia belum menjadi murid. Untuk menjadi murid, ia harus memahami bahwa ia perlu memprioritaskan pekerjaannya dengan mendengarkan terlebih dahulu Sabda Sang Guru, yang seharusnya membimbing semua kegiatannya. Konsekuensi dari mengabaikan hal ini: “Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara.”
Sementara itu, Maria duduk di kaki Yesus dan mendengarkan. Ia memilih “bagian yang terbaik.” Bukan karena melayani itu buruk—tidak! Tetapi karena mendengarkan harus didahulukan. Sebelum bertindak, sebelum berkata-kata, harus ada keheningan. Harus ada ruang untuk mendengarkan suara Tuhan.
Hari ini, Yesus mengajak kita untuk memperlambat langkah. Dia mengundang kita untuk duduk bersama-Nya, untuk mendengarkan. Bukan hanya dengan telinga kita, tetapi dengan hati kita. Dunia bergerak cepat. Kita tergoda untuk berbuat lebih banyak, mengisi hari-hari kita dengan tugas-tugas, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang baik. Namun tanpa mendengarkan Firman, kita berisiko menjadi seperti Marta — cemas, gelisah, dan tercerai-berai.
Janganlah kita lupa: Injil bukan hanya untuk diberitakan; Injil harus didengar. Injil harus diterima dalam keheningan hati kita. Marilah kita memilih bagian yang terbaik. Marilah kita menjadi murid yang pertama-tama duduk di kaki Sang Guru. Semoga rumah kita, paroki kita, komunitas kita, hidup kita menjadi tempat di mana Yesus tidak hanya dilayani tetapi juga dikasihi, didengarkan, dan disambut. Dan semoga Firman-Nya menjadi terang yang membimbing semua yang kita lakukan.
Semoga Santa Perawan Maria, yang merenungkan segala sesuatu dalam hatinya, mengajarkan kita keindahan mendengarkan dalam keheningan. Dan semoga Tuhan memberi kita kedamaian — kedamaian yang mengalir dari waktu yang dihabiskan di hadirat-Nya.
Tuhan, ajarlah kami mendengarkan. Amin.
Selamat Hari Minggu. ⒿⓁⓊ! ❤️
RP Joni Astanto MSC