Selasa, 07 Januari 2025
Sabda Kehidupan
Selasa 07 Januari 2025
Markus 6:34 (Mrk 6:30-34)
Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Selalu Tergerak Hati Oleh Belaskasihan
Sudah menjadi karakter Yesus bahwa Ia selalu tergerak hati oleh belaskasihan untuk menolong orang. Sekalipun Ia begitu lelah, belum makan dan perlu istirahat.
Kata tergerak hati” yang dipakai oleh penginjil Markus, diterjemahkan dari bahasa Yunani: ’Splagchnizomai’ yang artinya ’kepekaan nurani untuk segera bertindak.’ Gerakan hati ini selalu disertai reaksi organ tubuh seperti sakit perut. Maksudnya, bila tidak segera dilaksanakan maka organ tubuh di bagian perut akan bereaksi dan menimbulkan rasa sakit. Inilah yang terjadi bila misalnya orang terdesak untuk ‘ke belakang’ atau ‘kebelet’ maka harus segera dilaksanakan. Begitu juga dengan orang yang sangat lapar maka perutnya harus segera diisi.
Oleh karena itu Uskup Socrates dari Manila pernah berkata bahwa bila orang didorong oleh cinta yang kuat, sama seperti dorongan perut yang sudah keroncongan dan harus segera diisi, itulah tandanya bahwa ia sungguh mencintai karena ia tidak bisa berlambat dan segera bertindak.
Sikap hati yang sama dikenakan Yesus untuk orang Samaria yang baik hati, yang tergerak hatinya untuk menolong orang yang dirampok dan disiksa. Ia segera bertindak menolongnya. (Luk 10:33).
Hati Yesus pasti tergerak melihat orang yang butuh pertolongan dan kasihNya. Ia tidak akan berlambat dan segera mengulurkan tangan.
Jangan ragu untuk datang pada Yesus memohon belaskasihanNya. Yesus tetap sama dahulu dan sekarang dan sampai selamanya. Ia selalu peduli dan pasti bertindak. Tinggal kita sabar dan berserah.
Di pihak lain, semoga kita juga selalu peduli dan tergerak hati oleh belaskasihan dan segera mengulurkan tangan menolong orang lain. Jangan lupa menengadah ke langit dan mengucap syukur kepada Tuhan, hidup kita pasti melimpah dengan kasih untuk berbagi.
Selamat hari Selasa. “Ya Yesus, jadikanlah hati kami seperti hatiMu.”❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 07 Jan 2025
Selasa Masa Natal
PF S. Raimundus dari Penyafort, Imam
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Luk 4:18-19
Bacaan Injil: Mrk 6:34-44
**************************************
Bait Pengantar Injil
Luk 4:18-19
Tuhan mengutus Aku menyampaikan kabar baik
kepada orang-orang miskin,
dan memberitakan pembebasan
kepada orang tawanan.
Bacaan Injil
Mrk 6:34-44
Dengan mempergandakan roti, Yesus menyatakan dirinya sebagai nabi.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Begitu banyak orang mengikuti Yesus.
Ketika Yesus melihat jumlah orang yang begitu banyak,
tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka,
karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.
Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Ketika hari mulai malam,
datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata,
“Tempat ini sunyi, dan hari sudah mulai malam.
Suruhlah mereka pergi
supaya mereka dapat membeli makanan
di desa dan kampung-kampung di sekitar ini.”
Tetapi jawab Yesus,
“Kamu harus memberi mereka makan!”
Kata mereka kepada-Nya,
“Jadi, haruskah kami pergi membeli roti hanya dengan dua ratus dinar
dan memberi mereka makan?”
Tetapi Yesus berkata kepada mereka,
“Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!”
Sesudah memeriksanya, mereka berkata,
“Lima roti dan dua ikan.”
Lalu Yesus menyuruh orang-orang itu
supaya semuanya duduk berkelompok-kelompok
di atas rumput hijau.
Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok,
ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu,
Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat,
lalu memecah-mecahkan roti itu
dan memberikannya kepada para murid,
supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu;
begitu juga ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada mereka semua.
Dan mereka semua makan sampai kenyang.
Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti:
dua belas bakul penuh, belum termasuk sisa-sisa ikan.
Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.
Demikianlah sabda Tuhan.
**************************************
ℍ
“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.” (Mrk 6: 34)
Bacaan Injil hari ini bertutur tentang Yesus yang memberi makan 5000 orang. Merenungkan bacaan Injil hari ini dalam cahaya perayaan Natal, kita diajak untuk memperhatikan tiga hal penting ini:
• Hati yang berbelaskasih. Yesus menanggapi orang-orang yang mengikuti-Nya dengan hati seorang gembala. Mula-mula dikatakan bahwa “tergeraklah Hati-Nya oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Maka ketika para murid-Nya mengusulkan agar orang banyak itu disuruh pergi supaya dapat membeli makanan sendiri di desa-desa dan di kampung-kampung sekitar, Yesus justru menjawab mereka: “Kamu harus memberi mereka makan.” Usul para murid adalah usaha untuk lepas tangan terhadap mereka. Usulan itu berasal dari keinginan untuk menghindar supaya tidak perlu repot-repot memberi mereka apa yang mereka butuhkan. Itu adalah pilihan untuk cari aman sendiri. Dan itu tidak pernah menjadi pilihan Yesus.
• Berpikir realistis. Yesus tidak mulai dengan rencana besar untuk memberi makan 5000 orang lebih. Ia bertanya kepada para murid suatu pertanyaan sederhana: “Berapa banyak roti yang ada padamu?” Mukjizat tidak jatuh dari langit, tetapi terjadi ketika manusia mengakui keterbatasannya dan membuka hatinya bagi campur tangan Allah.
• Karunia Ekaristi sebagai tanda dan sarana penyelenggaraan-Nya. Banyak ahli Kitab Suci yang mengatakan bahwa kisah penggandaan roti mempunyai detil-detil yang menunjuk pada Ekaristi. Melalui Ekaristi Yesus tetap dan terus menggandakan roti – kehadiran-Nya – bagi kebutuhan emosional, spiritual dan material kita.
Saat kita mengawali langkah-langkah kita di tahun yang baru ini marilah kita berbelaskasih seperti Yesus. Janganlah kita lari dari tanggungjawab kita terhadap sesama. Kita beranjak dari sikap “self referential” yang berpusat pada diri sendiri, tinggal di zona nyaman, menuju pada hati yang berbelas kasih. Jika kita berbelakasih, apa yang ada pada kita diberkati dan akan menjadi berkelimpahan. Kita juga bersyukur karena kita selalu dibekali oleh Ekaristi sepanjang perjalanan peziarahan kita.
Tuhan, semoga komunitas kami semakin menjadi komunitas yang melayani, mengasihi dan berbelarasa, terbuka untuk semua kebutuhan dan semua aspirasi yang adil. Amin.
Selamat beraktivitas. Semakin beriman, bersaudara dan berbelarasa. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC