Selasa, 05 Maret 2024
Sabda Kehidupan
Selasa 05 Maret 2024
Matius 18:21-22 (Mat 18:21-35)
Datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Seorang wanita Yahudi Jerman lolos dari kamp penyiksaan oleh Nazi Hitler tahun 1945. Waktu itu ia masih kecil dan ditahan dalam kamp konsentrasi bersama kedua orangtuanya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana orangtuanya disiksa dan dibunuh dengan gas beracun oleh para serdadu Nazi. Setelah dewasa ia masuk Kristen dan menjadi seorang penginjil yang terkenal.
Pada suatu ketika ia dengan penuh semangat mewartakan apa artinya mengampuni orang yang bersalah pada kita, sebagaimana yang diminta Yesus.
Sesudah penginjilan yang begitu indah itu, seorang opa tua datang mendekatinya dan berkata, “Terimakasih atas kotbah yang indah dan menyentuh hati tadi. Aku merasa lega, karena aku termasuk salah satu serdadu Nazi yang menyiksa orangtuamu.” Opa itu mengulurkan tangan mengucapkan terimakasih. Namun tiba-tiba semua peristiwa mengerikan di masa lalu muncul di benak si wanita ini. Ia begitu marah dan tidak mampu menerima uluran tangan si penyiksa papa mamanya yang ada di depannya.
Betapa berat mengampuninya. Dendam dan kemarahannya ternyata belum hilang sekalipun ia telah berkali-kali berkotbah mengenai pengampunan.
Sadar akan ketakmampuannya untuk mengampuni, iapun memejamkan matanya dan berdoa, “Ya Yesus aku tak sanggup mengampuninya. Berilah aku rahmat kekuatanMu untuk mampu mengampuninya. Engkau sudah mengampuni kami yang telah menyiksa dan membunuh Engkau di kayu salib dan memintakan ampun bagi kami dari Bapa di surga….”
Akhirnya tangannya terulur untuk menjabat tangan si penyiksa orangtuanya dan menatapnya dengan tatapan kasih Yesus.
Bila sulit mengampuni, mintalah Yesus menolong kita untuk menjadikan hatiNya menjadi hati kita, kasihNya menjadi kasih kita.
“Ya Yesus, mampukan kami untuk mengampuni lebih dari 70×7 kali.”
Selamat hari baru, semangat baru untuk mengampuni.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 05 Mar 2024
Selasa Prapaskah III
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Yl 2:12-13
Bacaan Injil: Mat 18:21-35
†***************************
Bait Pengantar Injil
Yl 2:12-13
Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati, sabda Tuhan,
sebab Aku ini pengasih dan penyayang.
Bacaan Injil
Mat 18:21-35
Jika kamu tidak mau mengampuni saudaramu,
Bapa pun tidak akan mengampuni kamu.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa, Petrus datang kepada Yesus dan berkata,
“Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku?
Sampai tujuh kali?”
Yesus berkata kepadanya, “Bukan!
Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja
yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Ketika ia mulai mengadakan perhitungan itu,
dihadapkanlah kepadanya seorang
yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi hutangnya,
raja itu memerintahkan
supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya
untuk membayar hutangnya.
Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya:
Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu,
sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Tetapi ketika hamba itu keluar,
ia bertemu dengan seorang hamba lain
yang berhutang seratus dinar kepadanya.
Ia menangkap dan mencekik kawannya itu,
katanya: Bayar hutangmu!
Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya:
Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara
sampai dilunaskan segala hutang itu.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih
lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Maka raja itu menyuruh memanggil hamba pertama tadi
dan berkata kepadanya:
Hai hamba yang jahat!
Seluruh hutangmu telah kuhapuskan
karena engkau memohonnya kepadaku.
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu
seperti aku telah mengasihi engkau?
Maka marahlah tuannya itu
dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo,
sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Demikianlah Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadap kamu,
apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu
dengan segenap hatimu.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
†********************************
ℍ
”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” ….. “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” [Mat 18: 21 – 22]
Bacaan Injil hari ini berfokus pada karunia pengampunan. Pelayanan dan khotbah Yesus juga berpusat pada hal ini dalam Perjanjian Baru. Ketika seseorang menyinggung perasaan kita, kita akan mengingat setiap penghinaan, setiap cercaan, dan setiap kata sampai sedetil-detilnya. Itulah sebabnya sangat sulit bagi kita untuk mengampuni bahkan sekali atau dua kali.
Mengampuni tujuh kali, seperti yang diusulkan oleh Petrus, itu sudah luar biasa, melebihi hal yang wajar. Namun Yesus berkata kepadanya, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Dengan kata lain, Yesus menghendaki agar kita mengampuni secara terus-menerus, tanpa henti, dan tanpa perhitungan. Seluruh hidup Anda harus menjadi sebuah tindakan pengampunan.
Perumpamaan dalam Injil hari ini menceritakan tentang seorang hamba yang telah diampuni begitu banyak. Setidaknya ia harus menunjukkan pengampunan kepada orang yang berutang kepadanya. Esensi rohani dari hal ini adalah bahwa tidak peduli berapa pun “hutang” seseorang kepada Anda, itu jauh lebih kecil daripada apa yang telah Allah berikan dengan murah hati kepada Anda. Pengampunan yang telah Anda terima dari Allah jauh lebih besar daripada pengampunan yang mungkin harus Anda berikan. Kitab suci sering berbicara tentang “dosa” sebagai “hutang”. Dalam pola pikir Semitik kata “dosa” itu adalah ‘hutang’. Maka, “pengampunan dosa” menurut pola pikir orang Yahudi itu ibarat seseorang yang punya hutang tapi dianggap lunas.
Menjadi tanda dan sarana kehidupan, kasih karunia, pengampunan, dan perdamaian Allah adalah tujuan akhir hidup kita. Biarkan apa yang telah dicurahkan ke dalam diri Anda mengalir melalui diri Anda – itulah keseluruhan cerita kita hari ini.
Tuhan, semoga kami saling mengampuni, seperti Engkau telah mengampuni kami. Amin.
Selamat beraktivitas hari ini. Mari saling mengampuni. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC