Workaholic
WORKAHOLIC
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
Belum lama ini (Jumat, 06 Juni 2014), saya melihat ada pemandangan yang indah sekali di perempatan jalan bilangan kota Palopo (Sulawesi Selatan). Namun pemandangan indah itu menjadi bergeser karena ada seorang lelaki yang sementara mengatur kendaraan (lalu-lintas) dan kelihatannya ia sedang stress. Setelah saya tanyakan kepada tukang becak, ternyata lelaki itu sudah pensiun dari profesinya sebagai polisi, namun ia sendiri belum siap untuk pensiun. Post power syndrome!!
Setiap manusia merasa dirinya tidak berarti (meaningless)ketika mendapati dirinya tidak bekerja. Sebaliknya, manusia – menurut Abraham Maslow (1908 – 1970) –menjadi penuh jika ia menyatakan dirinya atau self-actualiazion dalam bekerja. Bekerja menjadi tolok ukur, sehingga orang takut dengan apa yang disebut: mengganggur, non-job dan pensiun. Para rahib dan rubiah mengatakan bahwa kehidupan di biara itu menetapkan ora et labora sebagai gaya hidup. Bahkan rahib Kartusian (abad 12) berkata begini, “Nihil laboriosius est quam non laborare” – Tidak ada sesuatu pun yang lebih melelahkan rahib daripada tidak bekerja.
Orang dalam kategori workaholic terjerat oleh demam kerja. Mereka hanya bekerja-bekerja-bekerja dan kalau pada suatu hari mereka tidak bisa bekerja lagi, maka hanya akan ada kekosongan yang menganga di depan mereka. Di sinilah muncul istilah post power syndrome. Dan kita boleh mengagungkan orang yang bekerja giat, namun di pihak lain, kita juga harus menyadari bahwa ada masa-masa untuk “menikmati” relax dan santai serta berangan-angan untuk memersiapkan diri pada masa pensiun (MPP). Di sini, ia mulai berpikir bagaimana ia mengisi waktunya secara menyenangkan dan berguna, “dulce et utile.”
Jalan hidup manusia itu bagaikan cakra manggilingan (roda menggelinding). Ada masa di atas, namun juga suatu saat nanti akan di bawah. Untuk saat ini, ia mungkin powerful dan apa yang dikatakan ibarat “titah raja” namun suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang biasa bahkan nothing. Sewaktu berkuasa ia ditakuti tetapi setelah pensiun ia dibenci, bahkan duduk di kursi roda pun tidak ada yang menengok, pun pula mantan anak buahnya yang dulunya “munduk-munduk” – menunduk-nunduk – waktu berjalan di depannya kini pura-pura tidak tahu kalau mantan bos-nya duduk terpukur di kursi roda.
Saya pernah bertanya kepada seorang pengusaha sukses – pada suatu waktu – tentang makna hidup. Waktu itu, ia menjadi kecanduan kerja, workaholic demi anaknya yang dikasihinya. Dia bekerja-bekerja-bekerja dari pagi hingga malam sampai pada suatu saat anaknya yang dikasihinya itu terjerat narkoba.
Senin, 09 Juni 2014 Rm. Markus Marlon MSC markus_marlon@yahoo.com
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com