Kuatir
KUATIR
(Mencari Makna Sebuah Peristiwa)
Belum lama berselang (Selasa, 24 Juni 2014) saya berpiknik ria di Air Terjun “Sri Gethuk” – Playen, Wonosari, Gunungkidul – Yogyakarta. Selama menikmati indahnya panorama yang indah itu – sementara naik gethek bermesin – orang di sebelahku kuatir akan acara besok malam. Raganya di Sri Gethuk, tetapi jiwanya membanyangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Kemudian saya menasihati orang yang tidak saya kenal, “Mengkuatirkan hal yang belum terjadi besok sangat menghambat kehidupan kita hari ini. Sebaliknya jalani saja dengan santai dan relax kemudian menikmati hari ini sebaik-baiknya.
Rasa kuatir sungguh menguras energi dan mencuri damai sejahtera kita. Yesus sendiri pernah bersabda, “Nolite ergo solliciti esse in crastinum. Crastinus enim dies sollicitus erit sibi ipsi: sufficit diei malitia sua” – sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok memunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Mat 6: 34). Kisah berikut ini mungkin membantu kita untuk merenungkan sabda Yesus. Seorang perwira Jepang masuk dalam penjara dan keesokan harinya akan disiksa. Semalan-malaman perwira itu tidak bisa tidur karena memikirkan peristiwa yang akan menimpa dirinya esok hari. Dalam kegelapan, pikirannya ingat akan sekelumit kata bijak dari Siddartha Buddha Gautama (Lahir 583 seb.M), “Hari esok belum nyata.” Maka orang itu berpikir lagi, “Aku akan disiksa baru esok pagi. Hari esok tidaklah nyata dan sekarang di sinilah kenyataan. Kemudian ia tidur nyenyak.”
“Uruslah perkara hari ini, maka perkara hari esok akan selesai dengan sendirinya” kata Markus Marlon (1966 – sekarang) dalam suatu kesempatan. Kalau kita dengan sungguh-sungguh menjalani hidup ini dengan penuh kesadaran, maka hidup ini akan membahagiakan (Bdk. buku tulisan Antony de Mello dalam Burung Berkicau dengan judul, “Kesadaran”). Sudah terbukti sampai hari ini hidup kita tetap terpelihara sempurna karena kasih karunia-Nya yang berlimpah-limpah.
Seseorang pernah berkata, “Kalau begitu untuk apa kita hidup kuatir dan tertekan serta menderita?” Mari bergairah dan bersukacita karena Tuhan sudah memberikan anugerah-Nya.
Kamis, 26 Juni 2014 Rm. Markus Marlon, MSC
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC <markus_marlon@yahoo.com>