TIAP ORANG BERHARAP HIDUPNYA BERGUNA
Ada seorang bapak yang nglokro dan merasa bahwa hidupnya kini, tidak berguna. Setelah pensiun, ia merasa sebagai pengangguran, padahal selama ia ngantor, dirinya menjadi jujugan anak buahnya. Apa yang dicemaskan kini terjadi, yakni post power syndrome. Ia merasa kini hidupnya “meaningless” – tak berarti.
Orang yang “merasa diri tidak berguna” sungguh-sungguh menyedihkan. Ini yang sering dikatakan Ibu Teresa Calcutta (1910 – 1997) sebagai penyakit yang mengerikan. Puncak dari rasa ketidak ergunaan membawa orang pada bunuh diri (suicide).
“Orang yang tidak berguna” dalam Injil ditulis secara gamblang, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api” (Luk 3: 9). “Non faciens fructum bonum” – tidak menghasilkan buah yang baik, artinya pohon itu tidak berguna dan dengan tegas akan ditebang dan dibuang.
Hidup manusia itu tertuju pada orang, “man for others”. Dengan berkontribusi, hidup kita menjadi berguna. Ingat pepatah Latin yang berbunyi, “Nil sine magno labore vita dedit mortalibus” – tanpa kerja keras, kehidupan tak memberikan apa pun kepada manusia. Orang Latin pun berkata, “Longa est vita si plena est” – hidup itu panjang, apabila penuh (dengan perbuatan yang berguna).
Jika malam tiba, seseorang tentu akan mawas diri dan berkata, “Aku bersyukur, karena tadi pagi diijinkan menjadi berkat bagi saudaraku.” Di sini, dia boleh berkata, “Is fecit, cui prodest” – barangsiapa yang berguna, dia telah berbuat.
Kamis, 11 Januari 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>