LAGRIMA
LAGRIMA
(Menikmati musik klasik)
Mendengarkan petikan gitar solo, yang berjudul, “Lagrima” membuat bulu kuduk berdiri. Pasalnya, judul itu artinya: air mata – teardrop. Opus ini diciptakan oleh Francisco Tárrega (1852 – 1909) kewargaan Spanyol yang permainan gitarnya sangat berpengaruh pada abad ke 20-an.
Siapa saja pasti pernah menangis – mungkin – karena kesedihan yang mendalam. Secara pribadi, saya sangat terharu atas air mata yang jatuh dari istri Trunojoyo yang bernama: Kleting Ungu. Istrinya sangat sayang kepada suaminya. Namun sayang bahwa suaminya harus tewas di tangan kakak kandungnya sendiri yang bernama: Sunan Amangkurat Senapati ing Alaga. Badannya remuk dan kepalanya pun digunakan keset atau alas kaki (Baca buku yang berjudul, “Trunojoyo – sang Pendobrak” tulisan Gamal Kamandoko). Ini mirip dengan kematian Abimanyu, yang tubuhnya terkoyak-koyak dan dalam istilah jawanya, “tatune arang kranjang”.
Setelah seseorang itu menangis, dirinya merasa lega, karena dengan keluarnya air mata, orang merasa plong atau istilah kerennya: catharsis. Namun kita juga menyadari bahwa air mata sederas apa pun akan cepat mengering. Bukankah ada Pepatah Latin yang berbunyi, “Nihil lacrima citius arescit” – Tidak ada yang lebih cepat mengering ketimbang air mata.
Jumat, 12 Januari 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>