SETELAH MENDUDUKI JABATAN, ORANG BISA BERUBAH
Saya memunyai sahabat yang baik dan sederhana. Bicara dan sikapnya sopan sekali. Oleh karena itu, saya sangat menaruh hormat kepadanya.
Tetapi entah karena apa, sahabat saya ini kini menduduki jabatan yang “basah” dan strategis. Dan kini sahabat saya ini berubah total. Tiba-tiba jarang bicara dan jaga jarak. Pepatah lama berbunyi, “honores mutant mores” – saat manusia mulai berkuasa berubahlah pula tingkah lakunya.
Kejahatan paling buruk seorang pemimpin adalah apabila ia merasa sudah merasa lebih daripada orang lain. Ia menjadi manusia super, bahkan semi-dewa, minta dipuja-puja, bahkan minta untuk dikultuskan, “cultus individu”. Di sinilah Petronius (meninggal tahun 66 M) berkata, “homines sumus, non dei” – kita ini hanya manusia biasa bukan dewa.
Barangkali waktu itu orang itu sangat sopan dan kita pun terpesona dengan kesopannya. Ada peribahasa Inggris yang bagus yakni, “Full of courtesy full of craft” – penuh sopan santun, penuh tipu daya. Berhati-hatilah orang yang bersikap kelewat sopan, manis dan baik. Mungkin “ada udang di balik batu”. Maka tak heranlah jika Vergilius (70 seb. M – 19 M) pernah berkata, “nimium ne crede colori” – jangan terlalu memercayai penampilan luar (warna).
Herakleitos (550 – 475) pernah berkata, “Nothing endures but change” – tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Sifat dan sikap manusia pun berubah-ubah. Tidak usah kaget, apalagi terkejut, “biasa-biasa saja!”
Rabu, 13 Desember 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>