PENJILAT
Membaca buku “The 48 Laws of Power” tulisan Robert Greene, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ternyata penjilat itu diciptakan oleh para pembesar yang suka dipuji. Karena itu banyak pemuji-pemuja terdapat di lingkungan kebudayaan istana (palace culture).
Penulis buku “strategi perang”-nya Sun Tzu (544 – 496 seb. M) maupun “The Prince”-nya Machiavelli (1469 – 1527) mengagungkan para penjilat agar eksis di istana-istana. Dengan adanya para penjilat tersebut, para raja dan kaisar termotivasi untuk lebih menguasai dan meluaskan daerah kekuasaannya – yang tentunya – dengan menghalalkan segala cara.
Peribahasa Inggris yang berbunyi, “A rich man’s joke is always funny” – kelakar orang kaya selalu terdengar lucu, ada benarnya juga. Meskipun kelakar orang kaya kadang tidak bermutu, namun orang-orang di sekitarnya selalu tertawa, terutama mereka yang suka menjilat. Itulah sebabnya, Grimm Bersaudara menulis kisah tentang “King’s clothes” – pakaian sang raja.
Sang raja yang dikatakan oleh para penjilat itu sebagai pribadi “yang tidak pernah salah”. Sang raja diperdaya oleh pembuat pakaian terkenal di kota itu. Penjahit itu “membuat” pakaian sang raja yang terindah. Penjahit seolah-olah mengenakannya pakaian kebesaran sang raja, tetapi ternyata tidak ada kain sama sekali. Para penjilat memuji-muji sang raja. Dan pada akhirnya seorang anak kecil, “Ha, sang raja telanjang!”
Penjilat selalu memuji. Anak monyet disebutnya putri raja dan tulisan jelek dipuji seperti puisinya Kahlil Gibran 1883 – 1931). Si penjilat memuji, tidak karena dia mencari keselamatan orang yang dipuji, tetapi sebaliknya karena dia mau menghancurkannya: laudetur ut deleatur.
Senin, 4 Desember 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>