NON SERVIAM
Ketika beberapa hari menjelang kematiannya, “Mors ultima linea rerum est” – kematian adalah nafas terakhir dari segalanya, seseorang pernah berkata kepada saya, “Kalau saya diberi kesempatan hidup yang kedua kali, maka saya akan banyak melayani, mengabdi, membantu sesama”. Katanya lagi, “Hidup menjadi bahagia, kalau bermakna bagi sesama”. Persis seperti yang dikatakan Nabi Muhamad SAW, “Sebaik-baiknya orang adalah mereka yang bermanfaat!”
Ini sangat berbeda dengan yang dikatakan Lucifer, “non serviam” – tidak mau mengabdi. Bahkan dalam kisah terkenal Doctor Faustus tulisan Johann Wolfgang von Goethe (1749 – 1832) itu, Lucifer sangat berperan aktif. Publius Syrus (85 – 43 seb. M) pun berani berkata, “Brevis ipsa vita est, sed malis fit longior” – hidup itu sendiri adalah pendek, tetapi kejahatan itu (usiaya) lebih panjang. Lucifer hingga hari ini “masih hidup”.
Mahamalikat, si Lucifer – menurut Kitab Suci – memberontak dan dihancurkan oleh Mikael. “Non serviam” – saya tidak mau mengabdikan diri pada Tuhan, adalah kata-kata Lucifer yang terkenal itu. Akibatnya amat sekali. Dulu raut mukanya ganteng sekali. Namun, sesudah ucapan yang berani itu, mukanya menjadi lebih jelek daripada muka kura-kura (MAW Brouwer, Kompas 5 April 1971).
Di jawa ada istilah enthengan atau suka membantu orang lain. Dan dilihat dari wajahnya tampak sumringah, ganteng dan cantik. Sebaliknya, orang-orang yang cugetan, tidak suka membantu sesama, pelit – barangkali – wajahnya akan jelek seperti kura-kura.
Minggu, 3 Desember 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>