BERANI MENGARUNGI SAMODRA KEHIDUPAN
Ada seseorang yang berpendirian teguh dalam meraih sesuatu hal. Ia tidak mau mundur selangkah pun untuk menemukan yang terbaik. Ia terinspirasi dengan ucapan Horatius (65 – 8 seb. M ), “Qui studet optatam cursu contingere metan, multa tulit fecitque puer” – Barangsiapa yang dalam perjalanan hidupnya berusaha untuk mencapai puncak tertinggi, maka dia sejak kecil harus (mau) menderita dan berbuat banyak.
Keberanian untuk berjuang inilah yang menghasilkan orang-orang yang berjiwa spartan. Dalam dirinya ada darma (Bhs. Sansekerta artinya: kewajiban, tugas). Dan dharma yang terkenal itu terdapat dalam diri Arjuna yang diwejang oleh Khrisna dalam Bagavadgita. Setelah mendapatkan piwulang, maka hati Arjuna menjadi teguh dan berprinsip untuk menumpas tapis kebatilan.
Dalam mitologi, kita kenal pahlawan Yunani yang bernama Achilles. Oleh peramal di gunung Delphi, dia akan mati dalam medan perang karena memiliki kelemahan di tumitnya (Achilles’ tendon). Meskipun demikian, ia tetap maju. Dan akhirnya dibunuh oleh Hector. Kisah ini yang mengilhami seorang novelis Inggris, Sir Hugh Walpole (1884 – 1941) untuk menulis novel dengan judul, “Fortitude”. Novel ini berisi kisah tentang Peter, yang keyakinannya adalah, “Yang penting bukanlah kehidupan, melainkan keberanian yang kita bawa pada kehidupan.”
Kata “keberanian” ini sering kita dengar dalam pepatah Inggris, “The courage to approach on good luck” – keberanian mendekatkan pada nasib baik. Demikian pula kita diajak untuk berani “mengarungi samodra kehidupan” yang penuh gelombang. Hidup ini, seperti yang didoakan oleh para nelayan Yunani, “Like wading through the vast sea with small boat” – bagaikan mengaruni samodra yang luas dengan perahu kecil.
Minggu, 19 November 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>