PERISTIWA KEMATIAN ADALAH PENGALAMAN YANG SANGAT PRIBADI
Pernah suatu kali di sebuah desa, kami mengelilingi seorang ibu yang sedang sekarat. Ibu itu sudah sakit menahun (kronis) dan keluarga ini (suami dan kedua putrinya) sudah siap – seandainya – Tuhan memanggilnya.
Tatkala nafas terakhir dihembuskan, kedua putrinya tunduk menangis dan sang ayah memegang tangannya dan berkata, “Nudus egressus sum de utero matris meae, et nudus revertar illuc…” – Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi (Ayb 1: 21).
Yang berurai air mata hanyalah keluarga batih. Henri J. Nouwen (1932 – 1996) dalam bukunya yang berjudul, “Beyond the Mirror – renungan atas kematian dan Kehidupan” mengungkapkan bahwa kematian bagaikan menerima tamu pribadi yang relasinya sangat mendalam. Inilah yang membuat sangat sedih. Sedangkan para perawat yang melepaskan peralatan kedokteran tidak sedih sama sekali. Biasa-biasa saja! Mereka tidak ada keterikatan batin.
Suami dan kedua putrinya, meyakini bahwa “hidup hanyalah diubah bukan dilenyapkan” dan menurut buku kematian kuno yang berjudul, “The Egyptian Book of the Dead” bahwa orang mati itu pergi ke sebuah “dunia lain”.
Kita ingat kembali “pemandangan” keluarga yang sedang berduka. Janazah dikelilingi keluarga batih berpakaian hitam atau pun putih dengan mata yang sembab karena menangis. Menangisnya keluarga tentu tidak tanpa alasan. Pengalaman-pengalaman yang sangat pribadi menyentuh hati mereka, sehingga menangis.
Namun para pelayat tidak menangis. Mereka ikut belasungkawa. Di sinilah saya ingat kisah Harry Potter. Kita cermati ucapan Dumbledore kepada Harry Potter, “Do not pity the dead, Harry. Pity the living and above all those who live without love”. Potter dilarang menangis, sebab melayat merupakan usaha menghormati mereka yang mati. Sebuah salam perpisahan untuk mengenang setiap perjumpaan.
Selasa, 7 November 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>