TAKUT MATI
“Pernahkan kita mengalami takut?” Namun jika kita takut secara berlebihan, maka gerak langkah kita akan terbatas. Dan kalau seseorang menjadi pengecut, maka sepertinya kita sudah mati, sebelum mati yang sesungguhnya.
Kita bayangkan yang dialami Martin Luther King (1929 – 1968) yang pernah mengalami ketakutan yang luar biasa. Dia ditilpon dengan isi demikian, “Dengar hai negro, sebelum minggu depan, kamu akan menyesal, mengapa telah datang ke Montgomery”. Setelah mendengar suara tidak dikenal itu, Luther King ketakutan. Dan ketika pada akhirnya ia berdoa, terkumpullah segala daya keberaniannya untuk melanjutkan perjuangan mengubah dunia. Pejuang kemanusiaan itu berani mati.
Memang benar tulisan Ernest Hemingway (1899 – 1961) dalam novelnya yang berjudul, “A Farewell to Arms” tulisnya, “The coward dies a thousand death…” – pengecut mati ribuan kali sebelum mati yang sesungguhnya. Kematian itu sebuah mistery, sehingga orang menjadi takut. Dan secara lengkap telah disajikan oleh Louis Leahy dalam bukunya yang berjudul, “Misteri Kematian – suatu pendekatan filosofis”.
Baiklah kalau kita bercermin pada kata-kata terakhir Doryudana ketika “perang tanding” berhadapan dengan Bima. Dia berkata, “Urip iku yen ora mati ya mukti” – hidup itu kalau tidak mati, ya jaya. Dan dari kematian Doryudana ini, kita bisa merenungkan kata-kata Seneca (4 seb. M – 65), “Optanda mors est sine metu mortis mori” – kematian yang didambakan adalah mati tanpa takut pada kematian itu sendiri.
Selasa, 7 November 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>