DENGAN MENAHAMI MAKNA KEMATIAN, HIDUP JADI BERUBAH
Tony Snow (1955 – 2008) seorang wartawan dan comentator politik dan pernah menjabat sekretaris di Gedung Putih era George Bush mengalami perubahan drastis setelah menyandang penyakit kanker.
Ketika berhadapan dengan kefanaan dan keringkihan – fragile – tubuh, cara memandang hidupnya pun menjadi lebih bijak. Karena umurnya tidak lama lagi, maka ia mengurangi mengeluh. Relasinya dengan sesama pun menjadi baru: suka menyapa, suka mengunjungi orang sakit dan menjadi penyemangat bagi yang sakit.
Dan kini, Snow suka berdiam, “silent noble”. Berdiam diri mensyukuri rahmat Tuhan seperti yang dikatakan Blaise Pascal (1623 – 1662). Dengan berdiam diri, seseorang belajar melihat karunia – meskipun kecil – sangat berarti bagi hidupnya.
Syair Ebit G. Ade, “Hidup dan mati ada di tangan-Mu” hendak mengingatkan kita bahwa Tuhanlah yang empunya kehidupan. Kemudian kita mengacu dengan apa yang dikatakan Cicero (106 – 43 seb. M), “Vita, dulcedo et spes” – Hidup, kesenangan dan harapan. Meskipun nasib manusia dalam titik nadir, ia harus punya harapan.
Ketika divonis umurnya “sudah hampir selesai” maka hidup yang singkat itu pun menjadi bermakna. Dan kita tidak ingin hari-hari kita hilang percuma, seperti yang dikatakan Kaisar Titus (39 – 81 M), “diem perdidi” – saya telah kehilangan satu hari. Sang kaisar pernah mengalami bahwa satu hari terlewatkan tanpa kesempatan untuk melakukan hal-hal yang berguna.
“Tempus edax rerum” – waktu menggerogoti segalanya seperti yang dikatakan Ovidius (20 seb. M – 17 M). Cepat atau lambat hidup kita itu mendekat ke alam kematian. Dalam hal ini pun Publius Syrus (85 – 43 seb. M) pun berkata, “A morte semper homines tantumdem absumus” – kita ini, manusia, selalu dengan cara yang sama dengan kematian.
Jumat, 3 November 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>