SEBELUM MATI, HIDUPLAH DENGAN PENUH
Mengenai Fransiskus Asisi (1182 – 1226) – mungkin dalam sebuah legenda – ada kisah demikian. Ketika Fransiskus yang sudah mulai tua menanam pohon, datanglah seseorang dan berkata, “Seandainya bapa tahu bahwa hari ini akan mati, apakah yang akan bapa lakukan?”
Jawabnya, “Tentu saja saya tetap akan menanam pohon juga!”
Orang ini berkata lagi, “Apa tidak baik jika bapa mulai bersiap-siap menghadap Tuhan dengan berdoa tanpa henti?”
Fransiskus berkata, “Saya sudah siap kapan saja Dia memanggil saya.”
Apa yang dikatakan Fransiskus ini oleh John Powell (1925 – 2009), disebut dengan ungkapan, “Fully human, fully alive”.
Memang, kematian itu datangnya seperti pencuri, tidak dapat disangka-sangka. Paulus bahkan menyebut kematian dengan kata “ecthros” – musuh yang terakhir (1 Kor 15: 26), “The last enemy”. Maka harus disiapkan terus-menerus.
Tak heranlah di Glasgow (Skotlandia) ada suatu alat penunjuk waktu dengan bantuan bayangan sinar matahari (sundial) dengan motto, “Perhatikanlah waktu sebelum waktu itu berakhir.” Janganlah kita sekali-kali mengundurkan sesuatu untuk lain kali (waktu) karena waktu lain itu mungkin tidak akan datang. “Periculum in mora” – ada bahaya dalam penundaan.
Di sinilah Jean d’Arc (1412 – 1431) memunyai prinsip hidupnya untuk Tuhan. Dia tidak pernah mau menunda. Dan ketika teman-temannya menganjurkan agar ia tidak “ngoyo” – menyibukkan diri berlebihan, ia malah berkata, “Adalah lebih baik bernyala sampai padam daripada karatan sampai mati”. Jean d’Arc mengetahui bahwa musuh-musuhnya kuat, sedangkan waktu sudah amat pendek, dia berdoa kepada Tuhan, “Aku akan hidup hanya untuk satu tahun pakailah aku jika Engkau berkenan.”
Kaisar Maximinus (circa 173 – 238 M) pernah berkata, “Melius mori quam sibi vivere” – lebih baik mati daripada hidup tapi hanya untuk diri sendiri. Hidup dengan penuh, fully alive di sini diartikan sebagai hidup yang dipersembahkan kepada sesama, “Sekali berarti, mati!”
Kamis, 2 November 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>