MENGAPA TUHAN MEMBIARKAN INI TERJADI?
Saya pernah memberkati jenazah seorang pemuda anak tunggal dari seorang janda. Pemuda ini baru saja menyelesaikan study-nya dan akan diwisuda.
Lantas ibu janda itu berteriak histeris dan beberapa kali pingsan. Ia berkata, “Tuhan apa salahku, mengapa harus menimpa anakku satu-satunya tumpuan dan harapan hidupku!” Ia berteriak-teriak sambil, “sibi manus inferre” – tangannya memukul dirinya sendiri.
Pengalaman seperti ini sudah pernah ditulis oleh Dostoyevsky (1821 – 1881) novelis Rusia. Dalam sepenggal novelnya ia bercerita demikian. Dengan hati yang sedih bercampur marah, Ivan Karamazov terpaku di depan tubuh bayi yang berlumuran darah. Bayi yang tidak bersalah itu tewas dicakar serigala. “Kalau Tuhan mahakuasa, mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Di manakah Tuhan?” Barangkali ini juga sering kita alami, ketika kita “seolah-olah mendapat perlakuan tidak adil”.
Hidup itu misteri. Kadang di balik penderitaan muncul sesuatu yang menguatkan, (bahkan) menguatkan iman. Misalnya kisah seorang novelis dan filsuf yang merupakan korban holocaust Yahudi yang berhasil bertahan, yang bernama Eliezer Wiesel (1928 – 2016).
Ketika di tahanan, dia berontak dan mengepalkan tinju kepada Tuhan, “Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?” Teman-temannya semua mati terkulai di atas tiang gantungan. Tetapi tiba-tiba Wiesel berdiam. Ditatapnya wajah temannya yang terkulai itu. Wiesel seperti tidak percaya pada matanya sendiri. “Ajaib” wajah temannya itu mirip wajah Yesus.
Rabu, 01 November 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>