MELEPAS PAPA PERGI
A breathless bosom
Hammer sound on a coffin
Tears and cries burst out
Gone is the beloved father
Somber dark clinches the sphere
Sesak nafas di dada
Peti kayu dipaku
Ledak tangisan
Melepas papa pergi
Dunia tampak gelap
===oo000oo===
Tidak mudah memang melepaskan kepergian untuk selamanya orang yang dicintai. Tidak mudah memang, berlaku seperti Alexander the great (356 – 323 seb. M) yang ketika mangkat, tangannya terbuka. Dikatakan bahwa Alexander tidak mau menggenggam erat-erat yang bukan menjadi miliknya, yakni nafas kehidupan.
Hidup kita ini hanya “pemberian” dari Tuhan. Maka benar kata-kata Ayub, “The Lord gave and the Lord has taken away, may the name of the Lord be praised” – Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan (Ayb 1: 21).
Sulit untuk memahami apa yang dilakukan Ayub. Kita yang memunyai keterikatan batin dan emosi, tidak mudah mengikhlaskan orang yang tercinta pergi untuk selamanya, dalam hal ini ayah yang tercinta, “beloved father”. Benar kata-kata Pepatah Latin, “Pater familias vir multis miseriis” – seorang bapak keluarga adalah orang yang mampu menghadapi berbagai macam penderitaan.
Hammer sound on a coffin – peti kayu dipaku, menunjukkan keterputusasaan fisik antara ayah dan anak. Di sinilah terjadi kesedihan yang mendalam yakni: A breathless bosom – sesak nafas di dada. Suara paku itu bagaikan palu yang ditusuk-tusuk di dalam dada. Sakit sekali dan tenggorokan pun menjadi kering.
Ketika peti warna hitam itu diangkat, mata berkunang-kunang dan gelap! Somber dark clinches the sphere – dunia tampak gelap-gulita.
Selasa, 31 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>