REQUIEM
REQUIEM
After crimson gone
The grave pit is damp and wet
A requiem mass
An owl is peeping on tree
Scent of fragant flower fill the air
Bakda lembayung
Liang pusara basah
Misa requiem
Burung hantu mengintip
Bunga tabur mewangi
(Tanka, 29 Oktober 2017 – Gengsi Sutjahyo)
===oo000oo===
Setiap orang tentu ingin hidup tenang dan damai. Itulah yang dikidungkan Daud, “Ah, sekiranya aku bersayap seperti merpati, aku akan terbang mencari tempat yang tenang” (Mzm 55: 6). Kemudian Agustinus dalam bukunya yang berjudul, “Confessiones” menulis, “Jiwaku belum tenang sebelum tinggal di rumah Tuhan.”
Misa _Requiem_ bagi orang-orang yang terlibat bagaikan “supremum vale” – perpisahan terakhir, seperti yang dikatakan Ovidius (43 seb. M – 17 M). Tidak ada yang lebih memilukan hati atas perpisahan selama-lamanya dengan orang yang terkasih, “Kemarin masih bercanda, kini sudah istirahat di liang pusara basah”.
“Requiem” sebenarnya menunjuk kalimat, “Requiem aeternam dona ei (eis), Domine” – Tuhan berikanlah kepada dia (mereka) istirahat abadi. Ungkapan ini adalah permulaan lagu untuk upacara kematian. Tatkala orang menyanyikan lagu tersebut, ada rasa tergetar, sendu dan syahdu. Di sana pula, seolah-olah malaikat menjemput saudara kita menuju surga, “In paradisum deducant te angeli” – semoga para malaikat mengiringimu ke Firdaus.
Ketika sedang menyanyikan lagu requiem, teringat akan drama tulisan Shakespeare (1564 – 1616) yang berjudul, “As You Like It”. Tulisnya, “Setiap detakan detik pada jam membawa kita makin dekat dengan liang kubur. Denyut jantung kita ibarat ketukan genderang yang mengiringi lagu mars pemakaman.” Tulisnya lagi, “Dari jam ke jam berikutnya kita makin matang dan dari jam ke jam berikutnya kita makin rapuh dan lemah”.
Akhirnya, setelah misa requiem berakhir kita pun akan berkata, “Requiescat in pace” – Semoga dia beristirahat dalam damai (Mzm 4: 9).
Senin, 30 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>