IBULAH YANG SIAP MENDAMPINYI ANAKNYA MENGHADAPI AJAL
Mungkin kita pernah mendengar syair liryc Ebiet G. Ade yang berjudul, “Seberkas cinta yang sirna”. Syairnya, “Ibu, menangislah demi anakmu…”
Kisah-kisah tentang seorang ibu yang heroic sudah dikisahkan sepanjang masa. Mulai dari Olympia, ibu Alexander the great, Maria yang terlukis dalam “Pieta”-nya Michelangelo (1475 – 1564), Monica ibu Agustinus (354 – 430) dan tentu ibu-ibu yang lainnya, “The most famous mothers”.
Mereka itu menderita demi anaknya, seperti Rembrandt (1606 – 1669) melukis ibunya dengan wajah yang sangat menderita. Penderitaan sang ibu itu dari sejak dalam pangkuannya hingga ke liang kubur (Bdk. “Pieta”). Bahkan seorang ibu rela mengikuti “via dolorosa” – jalan penderitaan yang dilalui putranya.
Kisah penderitaan seorang janda di Nain (Luk 7: 11 – 17) menggetarkan hati. Atau kisah Monica, ibu Agustinus yang dilukiskan oleh Karen Armstrong (Lahir di Inggris – 14 November 1944) dalam bukunya yang berjudul, “Sejarah Tuhan: Kisah 4.000 tahun pencarian Tuhan dalam agama-agama”. Tulisnya, “Ketika Agustinus bersimpuh menangis di tanah, tiba-tiba ia mengalami ekstasi bersama ibunya di Ostia, sebuah kota kuno Italia di mulut Tiber…”
Seorang ibu akan rela menggantikan penderitaan yang sedang dialami anaknya. Bahkan ketika anaknya meninggal, seorang ibu rela berjaga dengan “lembah air matanya”. Inilah yang pernah ditulis sastrawan Inggris, Rudyard Kipling (1865 – 1936), “Sekiranya aku digantung di puncak gunung tertinggi, o ibuku, ya ibuku.”
Tak heranlah bahwa lagu untuk Maria, senantiasa berujung pada “kematian”. Doa bahasa Jawa, “Sembah Bekti” ditulis, “Nyuwun pangestu dalem samangké tuwin bènjang dumugining pejah.” – doakanlah kami sekarang dan waktu kami mati.
Atau lagu, “Ave Maria”-nya Schubert (1797 – 1828) di sana ada banyak kata “mortis” yang berarti mati.
Nunc et in hora mortis
In hora mortis, nostrae
In hora, mortis, mortis …..
Ibu, moga-moga engkau mendampingi saya, waktu hidup, tetapi juga waktu saya harus memisahkan diri dari dunia ini, “Nunc et in hora mortis meae”.
Sabtu, 28 Oktober 2017
Markus Marlon