MENDAMPINGI ORANG YANG SEKARAT
Orang yang hendak meninggal dunia – sekarat – ingin “dikrubungi” oleh orang-orang yang dicintai dan mencintai. Ingat Rumah Sakit yang didirikan Mother Teresa Calcutta (1910 – 1997) yang diberi nama Nirmal Hriday – wisma untuk orang yang sekarat.
Kewajiban orang yang melihat orang yang menghadapi sakaratul maut adalah melaksanakan “talqin” -bimbingan kepadanya dengan kalimat Tauhid. Sabda Nabi SAW:
Bimbinglah orang yang menghadapi kematian dengan, “laa ilaaha illa allah” ( HR Muslim). Karena, “Barangsiapa di akhir hayatnya sempat mengucap “laa ilaaha illa allah” maka ia akan masuk surga (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam mendampingi orang-orang yang “outcast” – terbuang, Teresa punya kata-kata yang indah, “Jangan hanya memberikan tanganmu untuk menolong, berikanlah juga hatimu”. Hal yang sama juga dialami oleh Henri Nouwen (1932 – 1996) dalam bukunya yang berjudul, “Creative Ministry”. Ia menulis bahwa masalah penemanan orang yang sekarat sangat berhubungan dengan hidup rohani pelayan itu sendiri.
Tatkala seseorang beranjak tua, “senes bis pueri” – ia menjadi kanak-kanak untuk kedua kalinya. Dan Terentius (185 – 150 seb. M) sendiri mengatakan, “senectus ipsa est morbus” – menjadi tua itu sendiri adalah sebuah penyakit. Di sinilah diperlukan kesabaran ekstra. Bahkan orang yang ingin “berpulang” di tempat asalnya.
Umur manusia itu ada batasnya. Horatius (65 – 8 seb. M) dalam bukunya yang berjudul, “Epistola” menulis, “Mors ultima linea rerum est” – kematian adalah garis batas terakhir dari segalanya. Dan tentunya, di ambang kematian diharapkan ada rasa kegembiraan dengan dikerubungi orang-orang tercinta.
Seperti lirik lagu, “Soldier of Fortune” – Prajurit Bayaran, terbersit dalam hati:
Now I feel I’m growing older
And the songs that I have sung
Echo in the distance
Terjemahan bebasnya:
Tak terasa kini usiaku semakin renta
Dan lagu yang kunyanyikan
Bergaung sampai di kejahuan.
Orang tua, bagaimana pun juga harus kita hormati dan cintai. Dua dari 12 kewajiban anak terhadap orang tua adalah: Pertama, Menghormati dan berbuat baik kepadanya. Kedua, mengirusnya sampai meninggal.
Di sini Erasmus (1466 – 1536) pernah menulis, “Solem orientem plures adorant quam occidentem” – kebanyakan mengagumi matahari yang sedang terbit ketimbang matahari yang sedang terbenam.
Jumat, 27 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>