Senin, 06 Juli 2026
Sabda Kehidupan
Senin 06 Juli 2026
_*Matius 9:21 (Mat 9:18-26)
Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.
Menjamah Yesus Dengan Iman Dan Doa
Kisah Injil hari ini adalah tentang 2 mujizat yang dilakukan Yesus secara berurutan. Pertama penyembuhan seorang wanita yang sudah 12 tahun menderita sakit pendarahan, dan yang ke dua, Yesus membangkitkan anak perempuan kepala rumah ibadat yang telah meninggal.
Dua mujizat ini kiranya menguatkan iman kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas hidup dan mati kita. Ia sanggup menyembuhkan orang yang sakit dan membangkitkan orang mati. Kuasa kasih Yesus ini memberi kita harapan dan keberanian untuk datang memohon kepadaNya karena kita percaya Yesus sanggup memulihkan hidup kita.
Jangan biarkan keraguan di hati, menghentikan doa-doa kita dan harapan kita akan kesembuhan ilahi. Iman dan doa kita pasti memyentuh hati Yesus untuk mengalirkan rahmat ilahi yang menjadi sumber hidup dan kesembuhan kita.
Di segala waktu, baik dalam suka maupun duka kita datang dengan hati bersyukur. Kalaupun Tuhan menghendaki bahwa sakit dan derita kita masih menjadi bagian dari hidup kita, ingatlah derita Yesus, sengsara bahkan kematianNya, adalah tanda solidaritasNya dengan derita kita. Mengambil bagian dalam sengsara Yesus kiranya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita untuk bertahan.
Bukannya Tuhan tidak mencintai kita, tapi Ia juga turut mengalami dan merasakan susah dan derita kita. Bertahanlah dengan tabah. KepadaNya kita berserah dan percaya, “Tak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari cinta Kristus.” (Rom 8:39).
Semangat Senin. Sentuhlah selalu hati Yesus dengan iman dan doa kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr (New York)
Kalender Liturgi 26 Jul 2026
Minggu Pekan Biasa XVII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 11:25
Bacaan Injil: Mat 13:44-52
************
Bait Pengantar Injil
Mat 11:25
Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi,
sebab misteri Kerajaan Engkau nyatakan kepada orang kecil.
Bacaan Injil
Mat 13:44-52
Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa
Yesus mengajar orang banyak,
“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang,
yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi.
Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya,
lalu membeli ladang itu.
Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang
yang mencari mutiara yang indah.
Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga,
ia pun pergi menjual seluruh miliknya,
lalu membeli mutiara itu.
Demikian pula
hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut,
lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan.
Setelah penuh, pukat itu ditarik orang ke pantai.
Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu,
yang baik dikumpulkan ke dalam pasu,
yang buruk dibuang.
Demikianlah juga pada akhir zaman:
Malaikat-malaikat akan datang
memisahkan orang jahat dari orang benar.
Yang jahat lalu dicampakkan ke dalam dapur api.
Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi.
Mengertikah kamu semuanya itu?”
Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.”
Maka bersabdalah Yesus kepada mereka,
“Karena itu
setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran hal Kerajaan Surga
seumpama tuan rumah
yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama
dari perbendaharaannya.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
Kisah Injil hari ini menceritakan Yesus yang menyembuhkan dua orang perempuan. Kisah mereka berbeda satu dengan yang lainnya, tetapi menemukan titik temu di hadapan kuasa penyembuhan Sang Guru. Yang pertama adalah kematian seorang perempuan muda di puncak usianya. Sedangkan perempuan yang lainnya hidup terasing karena dianggap najis akibat pendarahan yang tak kunjung sembuh. Satu-satunya kesamaan di antara mereka adalah kebutuhan untuk diselamatkan oleh seseorang yang memiliki kuasa untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Dalam kasus perempuan muda itu, ayahnyalah yang mengambil langkah berani untuk mendekati Yesus dan memohon campur tangan-Nya. Namun, perempuan yang lebih tua itu mengambil inisiatif sendiri untuk “mencuri” mukjizat dari Yesus, melanggar sesuatu yang sangat suci bagi orang Yahudi. Meraba ujung jubah-Nya saja sudah dianggap penistaan, apalagi yang menjamah tersebut ada dalam keadaan najis akibat pendarahan.
Kisah kedua perempuan itu dapat menjadi kisah kita sendiri. Yesuslah yang membiarkan diri-Nya dijangkau oleh keduanya. Ia tidak menyingkirkan mereka ataupun mempersulit mereka. Tidak ada pertanyaan yang Ia ajukan tentang mereka. Tidak ada harga atau syarat yang melekat pada campur tangan-Nya yang segera itu. Ia tidak memandang penampilan seseorang atau kelas sosial maupun keagamaannya. Penderitaan orang-orang menggerakkan hati-Nya, dan Ia bereaksi terhadap penyakit dan kematian.
Ia tidak mencari pengakuan atas tanda-tanda yang Ia lakukan. Ia tidak mengklaim, “Akulah yang menyembuhkanmu atau menghidupkanmu kembali.” Ia hanya berucap, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” dan menggenggam tangan gadis yang telah meninggal itu. Ia mengedepankan nilai iman yang mampu melakukan hal yang mustahil.
Yesus selalu tergerak oleh mereka yang terpinggirkan oleh masyarakat, para penderita kusta, dan mereka yang ditinggalkan. Ia merengkuh mereka. Bagaimana dengan kita? Lebih sering kita menjaga jarak dari situasi dan orang-orang yang mungkin memengaruhi hidup kita. Tak ada cara yang lebih baik untuk berbagi hidup selain dengan menjangkau mereka yang membutuhkan, entah itu dengan senyuman, sapaan, pelukan, atau kata-kata penyemangat.
Janganlah sampai cinta diri dan sikap acuh tak acuh menghalangi kita untuk bersentuhan dengan realitas di sekitar kita atau mengenal orang lain, apalagi dengan mereka yang sangat berkebutuhan. Seperti yang Yesus lakukan dalam Injil ini, marilah kita berbagi kehidupan dengan orang lain. Di sekitar anda ada saudara-saudari kita yang sedang berkesusahan, menderita, sakit, berbeban berat? Biarlah anda menjadi tangan-tangan Tuhan yang menjamah mereka, menyembuhkan, meneguhkan, menguatkan. Dengan menjangkau orang-orang yang membutuhkan, kita pun akan menerima kehidupan, seperti perempuan yang sakit itu, karena rahmat ditemukan di antara orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan.
Tuhan, tumbuhkanlah dalam diri kami belas kasih seperti yang Engkau miliki. Ajar kami berbagi hidup seperti Engkau. Amin.
Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Jadilah tangan-tangan Tuhan yang menjamah mereka yang berkebutuhan. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤️︎.
RP Joni Astanto MSC