Senin, 22 Juni 2026
Sabda Kehidupan
Senin 22 Juni 2026
Matius 7:1-2 (Mat 7:1-5)
”Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Refleksi Diri
Alkisah ada seorang bernama Nasrudin Hoya dari hikayat cerita kebijaksanaan rakyat Turki. Ia suka membaca buku, sekalipun berada di atas keledainya.
Pada suatu ketika ia keluar dari rumah dengan mengendarai keledainya sambil ia terus membaca buku. Tanpa disadarinya si keledai berjalan memutar dan kembali lagi ke rumahnya sendiri dan berhenti tepat di depan pekarangan rumahnya.
Pikir bahwa ia sudah sampai, Nasrudin lalu mengangkat muka dan saat memandang sekitar ia melihat halaman yang kotor serta rumah yang sudah usang tak terawat.
Dengan kesal ia lalu berkata, “Sungguh pemilik rumah ini adalah seorang pemalas. Hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli lingkungan sekitarnya. Bahkan rumahnya-pun dibiarkan tak terawat. Sampah berserakkan di mana-mana, rumput tak pernah dipotong.”
Ia terus mengumpat melihat semua yang tidak beres dan menurutnya kurang dan keliru. Tiba-tiba keledainya menghentakkan kaki dan membuatnya tersadar bahwa ia berada di depan rumahnya sendiri. Apa yang dikatakannya tadi tidak lain adalah tentang rumahnya sendiri dan tentu saja tentang dirinya sendiri.
Dalam Injil hari ini, Yesus meminta kita untuk berkaca dan melihat diri sendiri dengan jujur dan tulus, sebelum melihat kekurangan dan kesalahan orang lain. Jangan sampai kita menghakimi orang lain tanpa sendiri berkaca pada kekurangan dan kesalahan diri sendiri yang lebih besar dari orang lain.
Ingatlah bahwa ketika sebuah jari menunjuk orang lain dan semua kekurangannya, ada tiga jari menunjuk diri sendiri dan ada jari ibu yang menunjuk ke langit.
”Ya Bapa, ampunilah kami bila sering menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar. Bantulah kami untuk dapat memeriksa batin kami, menyadari keterbatasan, dosa dan salah kami. Berilah kami mata hati yang tulus dan murni untuk dapat melihat kebaikan sesama, berpikir positif dan jauh dari prasangka. Amin.”
Semangat Senin! Semangat baru untuk optimis, positip dan penuh harapan. Firman Tuhan menerangi kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 22 Jun 2026
Senin Pekan Biasa XII
PF S. Yohanes Fisher, Uskup, dan S. Tomas More, Martir
PF S. Paulinus dari Nola, Uskup
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Ibr 4:12
Bacaan Injil: Mat 7:1-5
*************
Bait Pengantar Injil
Ibr 4:12
Firman Tuhan itu hidup dan kuat,
menusuk ke dalam jiwa dan roh.
Bacaan Injil
Mat 7:1-5
Keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata:
“Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi.
Karena dengan penghakiman
yang telah kalian pakai untuk menghakimi,
kalian sendiri akan dihakimi.
Dan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur,
akan ditetapkan pada kalian sendiri.
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu,
sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu,
‘Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu’,
padahal di dalam matamu sendiri ada balok?
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri,
maka engkau akan melihat dengan jelas
untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
Menurut cerita Aesop (620 – 560 SM), setiap manusia lahir di dunia dengan dua kantong tergantung di lehernya, satu di depan dan satu di belakang. Kedua kantong itu penuh dengan kesalahan-kesalahan. Tetapi kantong yang berada di depan penuh dengan kesalahan sesama; sedangkan yang berada di belakang penuh dengan kesalahan sendiri. Itulah sebabnya, manusia buta dengan kesalahan-kesalahan sendiri tetapi selalu melihat kesalahan orang lain. Dengan kata lain, setiap orang mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang lain atau ingin mengkritik, tetapi tidak ingin dihakimi atas cara yang sama.
Dalam Injil hari ini, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya untuk tidak menghakimi orang lain. Dia pasti telah mengamati orang-orang Farisi yang sering merasa paling benar dan tak henti-hentinya mengkritik orang lain, padahal mereka sendiri bersalah atas apa yang mereka tuduhkan kepada orang lain. Memang, bagaimana mungkin seseorang dapat membuat penilaian yang jelas dan baik jika mereka sendiri tidak melihat, atau lebih buruk lagi, menyangkal cacat mereka sendiri. Selumbar di mata orang lain terlihat jelas sedangkan balok di mata sendiri tidak kelihatan. Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan nampak jelas. Bagi Yesus, itu adalah puncak kemunafikan dan kurangnya kasih.
Yesus tidak bermaksud agar kita menutup mata, menulikan telinga, kelu lidah, mati rasa, dan tidak peduli dengan ketidakberesan, pelecehan, amoralitas, dan perbuatan dosa di sekitar kita. Jika demikian kita melakukan dosa pembiaran. Kita akan menjadi sesama yang buruk dan tidak bertanggung jawab. Yesus mengajarkan koreksi persaudaraan. Penting bagi kita untuk memberitahu orang lain tentang perilaku mereka yang tidak kristiani. Kita harus mengampuni, namun kita perlu menunjukkan niat kita yang benar dan jujur, bukan untuk mengabaikan kesalahannya. Kita juga perlu berhati-hati ketika kita memberikan kritik dan koreksi. Kritik dan koreksi haruslah bersifat membangun. Artinya, kritik tersebut dilakukan atas dasar kasih dan bukan untuk menghancurkan. Saya percaya, inilah perbedaan antara menghakimi dan peduli.
Lebih jauh lagi, menghakimi berarti secara permanen menempatkan seseorang pada sikap tertentu yang tidak diinginkan. Hal ini sama saja dengan memenjarakan dia atas sikap tersebut. Setiap orang memiliki kemungkinan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Pribadi manusia penuh dengan kemungkinan. Karena itu, tidak ada orang yang dapat menghakimi orang lain. Hanya Allah yang dapat melakukannya.
Perlakukanlah orang lain selalu dengan kasih. Berikanlah kasih itu setiap saat. Terkadang, kritik mungkin menyakitkan. Kita hanya berharap bahwa orang tersebut akan terbuka dan menerima dengan positif apa yang dikatakan kepada mereka. Tuhan memperlakukan kita dengan cara ini. Dia tidak pernah menghakimi kita. Dia mengasihi kita. Marilah kita menimba manfaat dari kasih itu. Dan marilah kita membagikan kasih itu kepada orang lain dengan tidak menghakimi.
Tuhan, penuhilah hatiku dengan belas kasih. Tolonglah aku untuk menyingkirkan kecenderungan untuk menghakimi dan menggantinya dengan kasih-Mu. Amin.
Selamat beraktivitas di Pekan yang baru. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤️︎.
RP Joni Astanto MSC