Membongkar Kesalahan Pendeta Deky Nggadas tentang Dogma Maria Assumpta
Membongkar Kesalahan Pendeta Deky Nggadas tentang Dogma Maria Assumpta
Membongkar Kesalahan Pendeta Deky Nggadas tentang Dogma Maria Assumpta
Pendeta Deky Nggadas menyampaikan Orasi dalam Penutupan Semester Genap STT-RAI, Batam. Dalam orasi itu, tidak tanggung-tanggung, Pendeta Deky menentang Dogma Maria Assumpta atau Maria Diangkat ke surga, sekaligus membantah tafsiran Katolik bahwa perempuan dalam Wahyu 12 adalah Bunda Maria.
Pendeta Deky juga membantah Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus dari Paus Pius XII ketika menetapkan secara definitif dan infabilitas mengenai Dogma Maria diangkat ke surga pada tahun 1950. Anda bayangkan, seorang pendeta yang dasar imannya sudah berbeda (hanya punya 66 Kitab dan tidak akui magisterium, serta menolak Tradisi Suci), tetapi mengkritik, bahkan menentang, dogma ajaran Katolik yang memiliki depositum fidei yang utuh: Tradisi Suci, Kitab Suci (73 Kitab), dan Magisterium.
Ada beberapa umat kemudian mengirim ke saya link video Pendeta Deky itu. Ada pula yang mengirim video klipnya. Beberapa umat ini punya pertanyaan yang sama: Pastor, apakah benar bahwa tokoh-tokoh Katolik yang buku dan artikelnya dikutip Pendeta Deky menentang dogma Bunda Maria diangkat ke surga? Atau, menentang tafsiran bahwa perempuan dalam Wahyu 12 adalah Bunda Maria?
Ada juga yang mengatakan: Pastor, apakah punya waktu untuk meluruskan pernyataan-pernyataan Pendeta Deky yang dipoles akademik, meyakinkan, tetapi tidak sejalan dengan ajaran Gereja Katolik?
Saya agak heran bahwa Pendeta Deky membahas topik ini di hadapan para dosen dan mahasiswa. Orasinya jelas sedang menentang Dogma Gereja Katolik. Apa urgensinya membahas topik ini di hadapan calon-calon pendeta dan para dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) RAI, Batam? Apakah untuk mentransfer paham anti-Katolik? Dalam orasi itu, Pendeta Deky merujuk buku Stephen J. Shoemaker untuk “membantah” ajaran Maria Assumpta Katolik. Padahal, Shoemaker justru melancarkan kritik keras kepada sarjana – yang mirip Pendeta Deky – yang anti-Katolik dan anti Mariologi.
Pendeta Deky Nggadas merupakan Ketua STT RAI, Batam. Maka, ketika ia menyampaikan orasi menentang dogma Gereja Katolik tentang Maria Assumpta di dalam lingkungan kampus STT RAI, Batam, tentu terkait tidak hanya secara personal sebagai Pendeta Deky tetapi juga secara institusional: STT RAI, Batam. Lembaga pendidikan teologi mestinya steril dari anti atau propaganda negatif terhadap agama lain. Kita semakin beragama mestinya semakin beriman. Kita semakin beriman, seharusnya kita semakin bersaudara.
Sebenarnya, beberapa video Pendeta Deky pernah saya tonton. Cara beliau menyampaikan pengajaran, cukup meyakinkan. Beliau banyak menyebut tokoh-tokoh besar dan hebat. Judul buku-buku mereka ia sebutkan dengan meyakinkan. Dan, Pendeta Deky juga mengutip pendapat tokoh-tokoh besar itu untuk meyakinkan pendengarnya. Sekilas argumentasinya solid. Tetapi, faktanya rapuh dan bias. Bahkan sering mem-framing atau mempersempit pendapat para sarjana yang ia rujuk itu.
Tentu, jika para pendengar Pendeta Deky adalah orang-orang yang lemah literasi, dan kurang kritis, mereka akan terkagum-kagum dan menerima begitu saja pengajaran Pendeta Deky itu. Misalnya saja, di kolom komentar video Pendeta Deky ketika menentang Dogma Maria Diangkat ke surga, banyak sekali komentar yang memuji kehebatan Pendeta Deky.
Namun, jika pendengarnya punya literasi yang baik, dan daya kritik yang tajam, justru dapat membaca sebaliknya.
Semakin aneh karena ketika Pendeta Deky mau membantah dogma Katolik tentang Maria diangkat ke surga dan tafsiran Wahyu 12, ia mengutip pendapat tokoh-tokoh Katolik. Maka, muncul beberapa pertanyaan fundamental: Apakah tokoh-tokoh Katolik yang dirujuk oleh Pendeta Deky, menentang dogma Maria diangkat ke surga sehingga Pendeta Deky mengutipnya? Atau, apakah pendapat mereka melemahkan ajaran Maria Assumpta? Apakah mereka juga menentang tafsiran Katolik bahwa perempuan dalam Wahyu 12 adalah Maria?
Ternyata tokoh-tokoh Katolik yang dirujuk oleh Pendeta Deky tidak menentang dogma Maria diangkat ke surga, dan justru mereka mendukung tafsiran atas Wahyu 12 bahwa perempuan yang disebut di sana adalah Maria. Tafsiran Katolik lebih solid karena menafsirkan Wahyu 12 itu dengan fokus pada dimensi eklesiologis, Kristologis dan Mariologis.
Saya setuju dengan Pendeta Deky bahwa pada zaman ini kita tidak hanya menyebarkan apa yang benar, tetapi juga mengatakan apa yang salah. Meminjam pendapat Pendeta Deky ini, maka saya mau menunjukkan kesalahan-kesalahan fatal dari pemaparan Pendeta Deky itu sendiri. Dan, kemudian saya memaparkan apa yang benar.
Dalam video katekese ini, saya menanggapi orasi Pendeta Deky Nggadas itu. Orasi beliau itu mesti diluruskan. Cara Pendeta Deky mengutip sarjana-sarjana Katolik bisa jatuh dalam tindakan manipulatif; atau minimal mem-framing serta mempersempit pendapat tokoh-tokoh Katolik tersebut.
#katekeseimankatolik
#catholicchurch
#infokatolik
#apologetics
#apologeticacatolica
Sumber Romo Postinus Gulö, OSC