Jumat, 19 Juni 2026
Sabda Kehidupan
Jumat 19 Juni 2026
Matius 6:19-20 (Mat 6:19-23)
Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda, ”Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”
Harta Yang Sejati
Sebagai seorang pengusaha sukses Indonesia, Almarhum Bob Sadino (1933-2015), tentulah bergelimang harta semasa hidupnya. Namun sekalipun kaya, menjelang akhir hidupnya, ia menyadari manakah sebenarnya kekayaan sejati itu. Kiranya apa yang dikatakan Bob Sadino berikut ini, membantu kita memahami apa yang dimaksud Yesus dengan pentingnya “mengumpulkan harta surgawi.”
Rumah mewah bukan jaminan keluarga bahagia. Saling mengasihi, menghormati, dan memaafkan, itulah kunci keluarga bahagia.
Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup. Bersyukur, berbagi, dan saling menyayangi, itulah kunci kepuasan hidup.
Kaya raya bukan jaminan hidup terhormat. Tapi jujur, sopan, murah hati, dan menghargai sesama, itulah kunci hidup terhormat.
Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat. Tapi setia kawan, bijaksana, mau menghargai, menerima teman apa adanya dan suka menolong, itulah kunci banyak sahabat.
Satpam dan tembok rumah yang kokoh bukan jaminan hidup tenang. Hati yang damai, penuh kasih dan tiada kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman.
Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yg teratur, itulah kunci hidup sehat.
Kosmetik bukan jaminan kecantikan. Tapi semangat, kasih, ceria, ramah, dan senyuman, itulah kunci kecantikan.
Hidup kita itu sebaiknya ibarat “bulan dan matahari” Dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi. Diterimakasihi atau tidak, ia tetap berbagi.
Suami, istri, anak, jabatan, harta adalah “titipan sementara”. Terus belajar untuk bersyukur dengan keadaanmu. Karena Anda tidak akan tahu kapan Sang Pemilik Raga akan datang dan mengatakan pada Anda, “Ini saatnya pulang!” dan memaksa Anda meninggalkan apa pun yang Anda cintai, dan Anda banggakan.”
Selamat hari baru. Mari mengumpulkan harta surgawi, iman-harap-kasih kita kepada Tuhan dan sesama.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 19 Jun 2026
Jumat Pekan Biasa XI
PF S. Romualdus, Abas
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 5:3
Bacaan Injil: Mat 6:19-23
************
Bait Pengantar Injil
Mat 5:3
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
sebab milik merekalah kerajaan Allah.
Bacaan Injil
Mat 6:19-23
Di mana hartamu berada,
di situ pula hatimu.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus,
“Janganlah kalian mengumpulkan harta di bumi;
ngengat dan karat akan merusakkannya,
dan pencuri membongkar serta mencurinya.
Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga.
Di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya,
dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Mata adalah pelita tubuh.
Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu.
Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.
Jadi jika terang yang ada padamu gelap,
betapa gelapnya kegelapan itu.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
Menurut Kitab Suci, “hati” bukanlah sekadar organ fisik atau pusat emosi, melainkan pusat kehidupan terdalam manusia. Hati adalah tempat kediaman pikiran, kehendak, dan karakter, yang menjadi sumber dari segala tindakan, perkataan, dan respons seseorang. Maka jika dikatakan, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada, itu menunjuk pada kecenderungan kita untuk memusatkan seluruh diri kita pada harta benda. Jadi, di manakah hati Anda? Jawaban dari pertanyaan tersebut telah dijawab dalam kutipan di atas. Hati anda ada di mana pun harta anda berada. Hal ini menimbulkan pertanyaan lainnya: “Apakah harta Anda?”
Injil menunjukkan kepada kita bahayanya menjadi terlalu terikat pada kekayaan materi. Tetapi hal yang sama berlaku tidak hanya untuk kekayaan materi, tetapi untuk apa saja dalam hidup kita yang dapat membuat kita cenderung melekat. Apa yang membuat Anda melekat? Apakah harta Anda?
Idealnya, hati kita hanya melekat pada apa yang Tuhan inginkan. Jika demikian, maka hal-hal yang kita kasihi adalah harta yang Tuhan kehendaki agar kita kasihi. Dan dengan mengasihi hal-hal tersebut, kita mengasihi Allah yang memberikannya serta memanggil kita untuk mengasihinya.
Harta kita seharusnya mencakup keluarga kita dan orang-orang lain yang dipercayakan untuk kita kasihi dan rawat dengan penuh kasih. Harta kita juga seharusnya berupa hidup doa dan ibadah kita. Itulah cara yang paling langsung untuk mengasihi Allah di dunia ini. Harta kita juga dapat berupa karya pelayanan penuh kasih dan perngorbanan, atau apa pun yang sesuai dengan kehendak Allah.
Apakah Anda mengasihi hal-hal tersebut? Apakah hal-hal itu adalah harta Anda? Masalahnya, terlalu sering kita cenderung mengasihi lebih dari apa yang dikehendaki Allah untuk kita kasihi. Kita menjadi sangat terikat pada keinginan untuk menjadi kaya dan memiliki banyak hal. Tetapi “cinta” kita yang tidak sehat itu dapat meluas bahkan melampaui kekayaan dan hal-hal materi.
Renungkanlah, hari ini, hal-hal yang mungkin telah Anda jadikan sebagai “harta” dalam hidup Anda. Apa yang membuat Anda terlalu terikat pada dunia yang fana ini? Apakah uang? Ketenaran? Popularitas? Kuasa? Ataukah sesuatu yang lain? Biarkan Tuhan membebaskan Anda. Itu adalah langkah pertama menuju kehidupan dengan kekayaan yang terbesar! Sebab barangsiapa memiliki Allah, ia memiliki segalanya.
Tuhan, tolonglah aku untuk menjaga hatiku agar tetap tertuju pada-Mu. Tolonglah aku untuk menghargai Engkau dan kehendak-Mu sebagai harta yang paling berharga. Amin.
Selamat beraktivitas. Solo Dios basta, Tuhan saja cukup. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤️︎.
RP Joni Astanto MSC