Sabtu, 13 Juni 2026
Sabda Kehidupan
Sabtu 13 Juni 2026
Peringatan Hati Tak Bernoda St Perawan Maria
Lukas 2:46-47 (Luk 2:41-51)
Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
Ketika Yesus Hilang Siapa Yang Cari?
Sehari setelah merayakan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus (Jumat kemarin), Gereja mengajak umatnya untuk melihat peranan Maria ibu Yesus ketika membesarkan Yesus.
Maria ibuNya menjadi tempat Yesus menemukan sandaran hatiNya sekaligus teladan semasa hidupNya di dunia ini.
Peristiwa hilangnya Yesus kecil di Yerusalem menjadi salah satu contohnya. Hilangnya Yesus tentu sangat mencemaskan ibuNya Maria dan Yosep, bapa pengasuhNya. Apalagi mereka tidak punya keluarga dan kenalan di Yerusalem. Di mana harus mencari Yesus di kota yang besar itu?
Segala kemungkinan Ia tinggal di mana telah mereka pikirkan. Tentu semua penginapan di Yerusalem telah mereka kunjungi.
Satu hari telah lewat, dua hari lewat Yesus tak ditemukan. Aduh tidur di mana Dia? Makan di mana Dia? Semakin cemaslah mereka memikirkan kemungkinan yang terburuk. Jangan-jangan…..
Namun Maria dan Yosep tak putus asa, mereka terus mencari. Nanti sesudah 3 hari barulah mereka menemukanNya dalam Bait Allah di Yerusalem. Tempat yang tak mereka bayangkan untuk anak sekecil itu akan berada.
Ternyata Yesus sedang berdebat dan berbincang-bincang dengan para alim ulama Yahudi di Yerusalem.
Peristiwa hilangnya Yesus di Yerusalem mengingatkan kita mengenai suka duka hidup keluarga kudus Nazaret, bagaimana Maria dan Yosep membesarkan Yesus.
Sungguh segala pergumulan manusiawi telah dialami Yesus. Karena itu, sebagai Tuhan yang menjadi manusia, Yesus sangat mengerti segala pergumulan hidup keluarga. Dan Ia mengalami, betapa orang tuaNya begitu setia menjaga dan merawatNya, bahkan mencari Dia ketika tertinggal di Yerusalem.
Jadi kisah Yesus mengenai gembala yang baik yang mencari domba yang hilang, serta kisah Yesus tentang anak yang hilang, nyata Ia alami dalam keluargaNya, bagaimana Bapa dan IbuNya mencari Dia. Tanpa menghukum, dan tetap penuh kasih.
Mari membangun keluarga kudus seperti keluarga kudus Nazaret, Yesus-Yosep-Maria. Semua anggota keluarga ada di hati masing-masing, saling peduli, saling mencari, menjaga hati tetap suci dan tidak berprasangka buruk, serta tidak membiarkan ada satupun anggota keluarga yang hilang.
”Ya Yesus, persatukanlah seluruh keluarga kami. Berikanlah kami hati yang murni untuk tetap berpikir jernih, agar mampu mencintai seluruh anggota keluarga kami dengan hati tulus dan murni.
Bunda Maria doakanlah kami dari Surga, semoga hati kami tetap suci seperti hatimu. Amin.”
Selamat berakhir pekan, Yesus selalu di hati kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 13 Jun 2026
Sabtu Hari Biasa
PW S. Antonius dari Padua, Imam dan Pujangga Gereja
Warna Liturgi: Putih
Bacaan Injil: Luk 2:41-51
†***********
Bacaan Injil
Luk 2:41-51
Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Tiap-tiap tahun, pada hari raya Paskah,
orang tua Yesus pergi ke Yerusalem.
Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun,
pergilah mereka ke Yerusalem
seperti lazimnya pada hari raya itu.
Selesai hari-hari perayaan itu,
ketika mereka berjalan pulang,
tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.
Karena mereka menyangka
bahwa Yesus ada di antara orang-orang seperjalanan mereka,
berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya,
lalu baru mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan.
Karena tidak menemukan Dia,
kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.
Sesudah tiga hari,
mereka menemukan Yesus dalam Bait Allah;
Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama,
sambil mendengarkan mereka,
dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
Semua orang yang mendengar Dia
sangat heran akan kecerdasan
dan segala jawab yang diberikan-Nya.
Ketika Maria dan Yusuf melihat Dia, tercenganglah mereka.
Lalu kata ibu-Nya kepada-Nya,
“Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami?
Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”
Jawab Yesus kepada mereka,
“Mengapa kamu mencari Aku?
Tidakkah kamu tahu
bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”
Tetapi mereka tidak mengerti
apa yang dikatakan Yesus kepada mereka.
Lalu Yesus pulang bersama-sama mereka ke Nazaret;
dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka.
Dan Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
Seolah-olah berada dalam bayang-bayang Hari Raya Hati Kudus Yesus, Gereja menetapkan peringatan wajib Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria pada hari setelah Hari Raya Hati Kudus Yesus. Penting bagi kita untuk mengingat dan merenungkan Hati Maria setelah merenungkan makna Hati Yesus. Inilah hati yang rendah hati, hati yang terbuka, hati yang mencintai, hati seorang ibu, Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria. Jika kita meneladani Yesus, yang lemah lembut dan rendah hati, bukankah kita juga harus meneladani dia dari siapa hati itu mengambil kedagingannya? Kedua devosi ini terkait erat satu sama lain karena “persatuan Bunda dengan Puteranya dalam karya penyelamatan itu terungkap sejak saat Kristus dikandung oleh santa Perawan hingga wafat-Nya,” (KGK no. 964, 1172).
Injil Lukas menampilkan Maria kepada kita sebagai teladan kaum beriman yang “menyimpan” segala perkara di dalam hatinya dan bertindak berdasarkan Sabda Allah. Seperti kita, sering kali Maria juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kitab Suci menampilkan dia yang kagum, bingung dan bahkan cemas. Namun ia “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya.” Sebagai tanah yang baik, Maria menerima benih Sabda Allah yang datang kepadanya melalui berbagai pengalaman hidup, ia merenungkannya di dalam hatinya, dan benih itu tumbuh serta menghasilkan banyak buah.
Oleh karena itu, Peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria mengundang kita yang hidup dalam dunia penuh hiruk-pikuk dan kebisingan ini untuk memiliki hati yang kontemplatif. Hanya dengan hati yang kontemplatif, kita dapat mengingat masa lalu kita dalam retrospeksi dan melihat tangan Tuhan dalam sejarah pribadi kita. Dengan hati yang kontemplatif, kita menjadi lebih sadar akan kehadiran Allah di masa kini, dan itu akan memperdalam pengharapan dan keyakinan kita kepada Allah untuk melangkah ke masa depan.
Marilah kita menjadikan Maria sebagai teladan dan mempraktekkan keutamaan-keutamaannya dalam hal iman yang penuh kepercayaan, kerendahan hati yang melayani, serta kesiapan untuk melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita sungguh menjadi anak-anak yang tak bernoda dari Bunda Surgawi yang Tak Bernoda.
Tuhan Allah kami, kami berterima kasih kepada-Mu atas kasih yang Engkau berikan kepada Maria, Bunda Putera-Mu dan Bunda kami. Semoga seperti Maria, kami selalu mencari dan melaksanakan kehendak-Mu. Amin.
Selamat berakhir pekan. Jadilah anak-anak Maria yang sejati! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤️︎.
RP Joni Astanto MSC