Memarahi
MEMARAHI
(Serpihan-Serpihan Kisah Yang Tercecer)
Kemarin (Senin, 24 Maret 2014), saya bersama teman-teman makan milu bakar (jagung bakar) di salah satu warung bilangan Ring Road – Manado. Sementara ibu penjual membakar milu, anaknya (atau mungkin assistant-nya) salah menghitung pesanan. Kontan saja ibu penjual marah-marah dan memaki-maki abis (artinya: marah-marahnya habis-habisan tak tersisa) anak itu. Kami, yang sementara menunggu “sajian milu bakar” menjadi tidak nyaman serta timbul rasa kasihan (dapa sayang) pada anak itu.
Memarahi orang lain – apalagi di muka umum – sungguh menyakitkan. Ada kisah menarik yang mungkin baik untuk kita renungkan. Plutarch (45 – 120) dalam bukunya yang berjudul,“How to tell a Flatterer from a Friend” bercerita tentang kemarahan yang tidak terkendali. Ia mengisahkan bahwa Pythagoras pernah dengan keras memarahi seorang murid setianya di depan umum. Kemudian, anak muda itu keluar dan menggantung diri.
Memang kadang-kadang kita ini mudah marah. Aristoteles (384 – 322 seb. M) pernah berkata, “Marah itu gampang. Namun, kepada siapa kita marah, dengan kadar yang seperti apa kita melampiaskan rasa marah yang kita miliki, berikut dengan waktu, tujuan dan cara yang benar bukanlah perkara yang mudah.” Kata-kata ini juga sebagai ucapan terakhir dari Odysseus kepada Telemachus, putranya dalam film yang berjudul, “The Odyssey”
Menegur, mengingatkan dan memarahi itu “satu saudara.” Publilius Syrus (Tidak ada keterangan tempat dan tanggal lahir dan meninggalnya. Ia sebagai penulis Latin yang berasal dari Syria dibawa ke Italia sebagai budak) menulis, “Secreto amicos, admone, lauda palam” – Tegurlah sahabat-sahabatmu di bawah empat mata (secara diam-diam) namun pujilah mereka secara terbuka.
Selasa, 25 Maret 2014 Rm. Markus Marlon, MSC
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC