Minggu, 07 Juni 2026
Sabda Kehidupan
Minggu 07 Juni 2026
Hari Raya Tubuh Dan Darah Kristus
Yohanes 6:54-56 (Yoh 6:51-58)
”Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”
Tuhan Menjadi Makanan Kita
Kita tak dapat hidup bila tidak makan dan minum. Tubuh kita membutuhkan asupan makanan untuk tumbuh dan berkembang. Kita perlu energi untuk hidup dan berkarya.
Namun sebagai mahkota ciptaan, Tuhan menghendaki agar kita tidak hanya hidup di dunia ini, namun sampai pada hidup kekal di surga. Dan untuk itu tak ada satupun makanan yang dapat menjamin kita hidup sampai selamanya.
Maka Yesus datang ke dunia diutus BapaNya agar “setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 6:13).
Untuk itu Yesus memberikan seluruh hidupNya, bahkan Tubuh dan DarahNya menjadi santapan harian kita, jasmani maupun rohani. Sabda Yesus inilah yang menjadi jaminan hidup yang berkelimpahan dalam Dia, kataNya, “Daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”(Yoh 6:55-56)
Inilah makanan dalam rupa roti dan anggur yang diadakan Yesus bersama murid-muridNya saat perjamuan malam terakhir. Yesus mengambil roti dan berkata, “Inilah tubuhKu, makanlah!” Yesus mengambil anggur dan berkata, “Inilah darahKu, minumlah!”
Yesus menghendaki agar tubuh dan darahNya menjadi santapan harian kita, makanan utama kita untuk dapat berjalan bersamaNya selagi kita hidup di dunia ini agar sampai ke hidup yang kekal.
Inilah maksud Yesus ketika mengajar doa Bapa Kami, Ia meminta kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Sesungguhnya makanan yang kita minta adalah “tubuh dan darah” Yesus sendiri.
Betapa agung dan mulia kasih Allah bagi kita sehingga tubuh dan darah Yesus menjadi santapan sejati jiwa dan raga kita, santapan jasmani dan surgawi. Dengan demikian digenapilah Sabda Yesus, “Tinggallah dalam Aku dan Aku tinggal di dalam kamu.” (Yoh 6:56; Yoh 15:4).
”Segala pujian dan syukur bagiMu ya Yesus. Engkau telah memberikan tubuh dan darahMu menjadi santapan jiwa dan raga kami. Tinggallah dalam kami dan kami tinggal di dalamMu, seperti ranting yang bersatu dengan Pokok Anggur. Biarlah tubuh dan darahMu menjadi tubuh dan darah kami, agar kami terus berakar, bertumbuh dan berbuah subur untuk Kerajaan Allah hingga hidup yang kekal di surga.”
Selamat Hari Minggu, mari bersatu dengan Yesus dalam santapan Sabda dan TubuhNya.🙏❤️😇
Ps Revi Tanod Pr
\ℍ
Minggu, 7 Juni 2026, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
Bacaan: Ul. 8:2-3,14b-16a; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58.
“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh 6: 51).
Hari ini kita rayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang Mahakudus. Kita diingatkan bahwa Yesus sangat mengasihi kita. Karena mengasihi kita, Dia rindu untuk selalu bersama kita. Dalam Ekaristi, kita dapat memahami betapa Yesus mengasihi kita. Kehadiran-Nya dalam Ekaristi bukan hanya sebuah simbol dari kehadiran rohani-Nya. Kehadiran-Nya adalah nyata. Dia benar-benar hadir dalam Ekaristi dengan memberikan tubuh-Nya sebagai makanan kita dan darah-Nya sebagai minuman kita. “Karena daging-Ku adalah makanan yang benar dan darah-Ku adalah minuman yang benar. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yohanes 6:55-56).
Yesus adalah “Roti Hidup yang turun dari surga” yang sungguh-sungguh mengasihi kita dan ingin agar kehidupan-Nya sendiri mengalir melalui pembuluh darah kita. Yesus ingin selalu bersama kita dan di mana saja, bukan dalam artian artifisial tetapi dalam kehadiran yang nyata. Dia tidak akan meninggalkan kita meskipun kita adalah orang berdosa karena Dia ingin menemani kita dalam setiap pasang surut kehidupan kita hingga Dia membawa kita pulang dengan selamat dan pasti ke dalam kehidupan yang kekal. Dia menepati janji-Nya: “Aku akan menyertai kamu sampai akhir jaman.”
Jadi, ketika kita menerima Yesus dalam perjamuan kudus, ketika imam atau prodiakon mengangkat hosti yang kudus dan berkata kepada Anda, “Tubuh Kristus,” dan Anda menjawab, “Amin,” cobalah untuk menyadari, dengan sungguh-sungguh bahwa hosti kudus yang anda terima adalah Tubuh Kristus yang hidup. Itu adalah Yesus yang sama yang lahir di Betlehem. Yesus yang sama yang dipaku dan mati di kayu salib. Yesus yang sama yang bangkit dari kematian.
Saat kita berpartisipasi dalam Ekaristi kita serentak menerima dan memberi. Menerima karena dalam ekaristi kita menerima buah-buah sengsara Kristus karena bagi kitalah Yesus menderita, wafat dan bangkit. Namun sekaligus kita juga memberi. Karena Ekaristi akan memurnikan dan menjiwai hidup kita sehingga cara merasa, berpikir dan bertindak kita dijiwai oleh semangat Yesus sendiri. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia,” (Yoh 6: 56). Ekaristi akan menjiwai kita sehingga kita mengarahkan hidup bukan hanya untuk mengejar kebutuhan-kebutuhan duniawi semata, tetapi bergerak ke arah yang lebih tinggi yaitu hidup yang kekal.
Setiap kita berpartisipasi dalam Ekaristi kita juga harus mewarnai hidup kita dengan hidup yang Ekaristis. Artinya semangat dasar dalam Ekaristi kita hadirkan di dalam hidup yang konkrit. Inti yang kita terima dari Ekaristi adalah semangat pengurbanan diri Yesus. Maka hidup kita pun juga harus diwarnai dengan pengurbanan diri itu. Dalam pengalaman kita, kita jarang diminta oleh Tuhan untuk berkorban secara luar biasa. Biasanya kita dipanggil untuk melakukan hal-hal kecil, yang perlu kita laksanakan dengan setia.
Tetapi, mengapa kita sering kali sulit untuk berkurban? Kita sering berpikir bahwa pengurbanan akan membawa penderitaan. Benarkah demikian? Tidak. Pengurbanan yang dilandasi rasa cinta justru akan membawa sukacita. Lihartlah kolam atau danau. Kolam dan danau yang sehat adalah yang menerima aliran dan kemudian mengalirkannya lagi. Danau yang tidak lagi mengalirkan airnya akan menjadi busuk dan berbau. Justru semangat pengurbanan yang dihidupi akan membawa kita kepada kebahagiaan. Kita seperti air yang bening.
Semoga Ekaristi yang kita rayakan akan membuat kehidupan bersama kita semakin Ekaristis. Kehidupan Ekaristis ditandai oleh perhatian satu terhadap yang lain. Kehidupan Ekaristis ditandai dengan sikap saling membantu. Kehidupan Ekaristis ditandai dengan semangat berbagi. Kehidupan kita akan ditandai dengan sukacita justru karena kita rela berbagi, karena kita hanya sungguh-sungguh memiliki saat kita mampu berbagi.
Tuhan, semoga kami mampu memecah dan membagikan hidup yang telah Engkau pilih dan berkati ini sehingga kami pantas untuk bersatu dalam karya penebusan-Mu. Amin.
Selamat Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang Mahakudus! ⒿⓁⓊ! ❤️