Jumat, 27 Maret 2026
Sabda Kehidupan
Jumat 27 Maret 2026
Yohanes 10:31-32 (Yoh 10:31-42)
Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?”
Dibenci Karena Berbuat Baik?
Bukannya memberikan apresiasi atas semua mujizat dan karya yang agung yang diperbuat Yesus, orang Yahudi malah ingin membunuhNya dengan cara melemparinya dengan batu.
Mereka merasa benci dan dendam karena Yesus telah mengganggu kepentingan mereka, menelanjangi kebusukan hati dan pikiran mereka.
Dosa telah sedemikian berat menguasai manusia sehingga mereka menjadi buta terhadap semua kebaikan yang diperbuat Yesus.
Hal yang sama terus terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Para pejuang kebenaran, para pelaku kebaikan dan kebajikan, justru dibenci dan dimusuhi.
Sedemikian besar kebencian itu sehingga menghendaki kematian orang-orang yang dibenci.
Kalau dahulu orang masih menggunakan batu, dan secara manual melontarkan kata-kata kebencian, sekarang bahkan sudah dengan rudal dan ujaran kebencian yang massif dan bombastis menggunakan media sosial.
Derita dan sengsara Yesus yang kita peringati di hari-hari sengsara ini, kiranya mengingatkan kita, betapa dosa telah membutakan mata orang hingga tidak mampu melihat kebaikan dalam diri orang lain.
Orang saling menghakimi bukan karena ingin mencari kebenaran tapi untuk membenarkan diri dan menyalahkan yang lain yang berbeda dengannya, terlepas entah yang dibuat orang itu baik atau buruk.
Marilah kita sujud dan berdoa,
”Ya Yesus terangilah hati dan pikiran kami, agar mampu melihat dan mengakui apa yang baik dan benar dalam diri orang lain. Singkirkanlah batu penghalang yang membuat kami tidak dapat melihat hadirMu dalam diri sesama. Anugerahkanlah kami semangat kerendahan hati untuk menerima perbedaan dan tidak saling membenci. Mampukan kami untuk mengampuni sebagaimana Engkau telah mengampuni kami.
Hentikanlah permusuhan dan perang antar bangsa. Jadikanlah kami semua pembawa damai bagi dunia ini. Amin.”
Bersama Yesus, mari menjadi pembawa damai dan pengampunan. Jangan pernah lelah berbuat baik.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 27 Mar 2026
Jumat Prapaskah V
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Yoh 6:64b.69b
Bacaan Injil: Yoh 10:31-42
***********
Bait Pengantar Injil
Yoh 6:64b.69b
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.
Engkau mempunyai sabda kehidupan kekal.
Bacaan Injil
Yoh 10:31-42
Orang-orang Yahudi mencoba menangkap Yesus,
tetapi Ia luput dari tangan mereka.
Inilah Injil Suci menurut Yonahes:
Sekali peristiwa
orang-orang Yahudi mau melempari Yesus dengan batu.
Tetapi kata Yesus kepada mereka,
“Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku
Kuperlihatkan kepadamu;
manakah di antaranya
yang menyebabkan kamu mau melempari Aku dengan batu?
Jawab orang-orang Yahudi itu,
“Bukan karena suatu pekerjaan baik
maka kami mau melempari Engkau,
melainkan karena Engkau menghujat Allah,
dan karena Engkau menyamakan diri-Mu dengan Allah,
meskipun Engkau hanya seorang manusia.”
Kata Yesus kepada mereka,
“Tidakkah ada tertulis dalam kitab Tauratmu
‘Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?’
Padahal Kitab Suci tidak dapat dibatalkan!
Maka, Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan,
disebut allah,
masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa
dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia
‘Engkau menghujat Allah!’
Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?
Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku,
janganlah kamu percaya kepada-Ku.
Tetapi jikalau Aku melakukannya
dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku,
percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu,
supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti,
bahwa Bapa ada dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
Sekali lagi mereka mencoba menangkap Yesus,
tetapi Ia luput dari tangan mereka.
Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan,
ke tempat Yohanes dulu membaptis orang,
lalu Ia tinggal di situ.
Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata,
“Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun,
tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.”
Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan.
***********
ℍ
Sejak minggu keempat masa Prapaskah, teks-teks Injil untuk liturgi harian hampir secara eksklusif diambil dari Injil Yohanes. Hari-hari ini kita mendengarkan penyingkapan misteri Allah Bapa secara bertahap, seperti yang diungkapkan oleh Yesus. Bersamaan dengan itu, kita juga telah menyaksikan penolakan yang semakin meningkat terhadap pesan Yesus oleh orang-orang Yahudi.
Dalam Injil hari ini, Yesus sekali lagi menghadapi permusuhan. Kata-kata-Nya memancing kemarahan sehingga lawan-lawan-Nya mengambil batu, siap untuk membunuh-Nya. Mengapa? Karena Yesus menantang pemahaman mereka tentang Tuhan, mengundang mereka untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri siapa Tuhan itu. Alih-alih menerima kebenaran, mereka justru berpegang teguh pada ketakutan mereka dan memilih kekerasan.
Seberapa sering kita melakukan hal yang sama? Siap melempar batu terhadap mereka yang tidak sepaham, berbeda pendapat, yang mengusik kemapanan kita. Batu yang kita lemparkan mungkin bukan batu secara harfiah, tetapi berupa kata-kata, pendapat, dan penilaian kita yang kasar dan dapat melukai. Media sosial telah menjadi wilayah di mana orang dengan bebas melempar batu tanpa mengetahui hati atau pribadi yang mereka lukai. Yesus memanggil kita ke jalan yang berbeda – jalan yang penuh belas kasih, dialog, dan pengertian.
Dia juga mengingatkan kita bahwa kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang ilahi. Ia mengutip Kitab Suci: “Kamu adalah allah,” (Yoh 10: 34), bukan untuk menyangkal keilahian Allah, tetapi untuk mengingatkan kita bahwa kita diciptakan menurut gambar-Nya dan dipanggil untuk mencerminkan kekudusan-Nya. Kita membawa percikan keilahian dalam diri kita. Masa Prapaskah adalah waktu untuk memelihara kehadiran ilahi ini dengan kesaksian kita, meski kita menghadapi tantangan.
Yesus juga menunjukkan karya-Nya sebagai kesaksian tentang siapa Dia. Tindakan-tindakan-Nya mengungkapkan kasih Bapa. Demikian juga, tindakan kita – bukan hanya kata-kata kita – harus mengungkapkan siapa kita sebagai murid, sebagai putra dan putri Bapa. Iman bukanlah label yang kita kenakan; iman adalah kehidupan yang kita jalani. Orang lain akan mengetahui bahwa kita adalah milik Kristus dari cara kita bertindak.
Mari tetap tinggal dalam Dia, memberi kesaksian tentang dia, meski menghadapi tanangan dan penolakan.
Tuhan, bantulah kami untuk setia menyatakan kasih, keadilan dan kebenaran-Mu, meski kami menghadapi pertentangan. Semoga tindakan konkrit kami memberikan kesaksian, bahwa kami adalah murid-murid-Mu. Amin.
Selamat hari Jumat penuh berkat. Selamat berpantang dan berpuasa. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC