Sabtu, 14 Maret 2026
Sabda Kehidupan
Sabtu 14 Maret 2026
Lukas 18:13-14a (Luk 18:9-14)
”Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.”
”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Yesus selalu mengingatkan kita betapa Allah Bapa selalu tergerak hatiNya ketika anakNya yang Ia cintai datang dengan penuh kerendahan hati mengakui dosanya dan memohon belaskasih pengampunanNya.
Yesus telah datang ke dunia mencari anak-anak Allah yang tersesat dan hilang. Ia tidak berdiam diri menanti kita pulang. Ia terus mencari kita dengan cara berdiam di hati kita dalam RohNya. Yesus terus mengetuk pintu hati kita agar ada rasa sesal di hati saat berbuat dosa. Ia menyadarkan kita betapa Allah tak pernah lelah mengampuni kita.
Datanglah dengan penuh kerendahan hati. Seperti si pemungut cukai, mari kita tundukkan kepala menepuk dada tanda sesal dan tobat, karena tak layak berdiri di hadapan Allah.
Janganlah seperti si orang Farisi yang merasa benar dan sombong. Biarlah semangat tobat si pemungut cukai menjadi semangat tobat kita dan doanya menjadi doa kita:
”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Rasakanlah rangkulan kasih Allah yang penuh pengampunan, memberi kehangatan dan damai di hati, memulihkan hidup kita untuk tegak berdiri sebagai anak-anak Allah.
Selamat berakhir pekan. Kasih Yesus menguatkan kita.🙏❤️😇
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 14 Mar 2026
Sabtu Prapaskah III
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab
Bacaan Injil: Luk 18:9-14
***********
Bait Pengantar Injil
Mzm 95:8ab
Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan,
janganlah bertegar hati.
Bacaan Injil
Luk 18:9-14
Pemungut cukai ini pulang ke rumahnya,
sebagai orang yang dibenarkan Allah.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa,
Yesus menyatakan perumpamaan ini
kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar
dan memandang rendah semua orang lain:
“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa;
yang satu adalah orang Farisi dan yang lain pemungut cukai.
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:
Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu,
karena aku tidak sama seperti semua orang lain,
aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah,
dan bukan juga seperti pemungut cukai ini.
Aku berpuasa dua kali seminggu,
aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh,
bahkan ia tidak berani menengadah ke langit,
melainkan ia memukul diri dan berkata,
Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Aku berkata kepadamu:
Orang ini pulang ke rumahnya
sebagai orang yang dibenarkan Allah,
sedang orang lain itu tidak.
Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan,
dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”
Demikianlah sabda Tuhan.
***********
Perumpamaan dalam Injil hari ini tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang pergi ke bait suci untuk berdoa, mengajarkan kita bahwa kekudusan sejati berasal dari dalam. Kebajikan batiniah memungkinkan pancaran Allah bersinar keluar. Ketika kerendahan hati dan pertobatan memenuhi hati kita maka jiwa akan mencerminkan kasih karunia Allah.
Berdoa di bait Allah adalah perbuatan yang baik dan saleh. Baik orang Farisi maupun pemungut pajak melakukan hal ini. Namun, doa yang terdistorsi oleh kesombongan, keangkuhan, dan arogansi tidak dapat naik kepada Tuhan sebagai doa yang sejati. Hanya ketika doa dipandu oleh kerendahan hati dan kesadaran akan kebutuhan kita akan belas kasihan Tuhan, barulah doa itu menjadi saluran rahmat.
Pemungut pajak itu rendah hati karena ia menyadari dosa-dosanya dan kebutuhannya akan belas kasihan Tuhan. Ia berdoa, “Ya Allah, kasihanilah aku, seorang berdosa.” Orang Farisi, yang dibutakan oleh kesombongan, tidak dapat melihat kebutuhannya sendiri akan pengampunan Tuhan dan malah memuji dirinya sendiri atas ketaatan lahiriahnya. Kerendahan hati pemungut pajak membuka dirinya kepada rahmat ilahi, sementara kesombongan orang Farisi membuatnya buta secara rohani. Kerendahan hati itu bijaksana; kesombongan itu bodoh.
Marilah kita hari ini mendoakan doa pemungut cukai dengan tulus dan mendalam: “Ya Tuhan, kasihanilah aku, seorang berdosa.” Jika kita mendapati diri kita berpikir, “Aku bukan orang berdosa yang seburuk orang lain,” maka doa kita lebih mirip dengan doa orang Farisi. Dengan rendah hati akui kelemahan dan dosa kita di hadapan Tuhan. Dan marilah kita mengakui ketergantungan kita sepenuhnya pada kasih karunia-Nya. Hanya dengan demikian, seperti pemungut cukai, kita akan pulang dibenarkan di hadapan Tuhan. AMEN
RP. PAUL KERANS, SVD