Sr WILFRIDA SCMM,… SIAPA YANG MENGGANTIKAN KAMI ? Temu RELIGIUS Senior KEVIN
Sr WILFRIDA SCMM,… SIAPA YANG MENGGANTIKAN KAMI ? Temu RELIGIUS Senior KEVIN
Kongregasi SCMM
https://www.scmm.or.id/2022/06/kongre…
Kongregasi SCMM / @scmmprovinsiindonesia
KONGREGASI SCMM DULU DAN KINI
Kongregasi SCMM merupakan singkatan dari bahasa Latin Congregatio Sororum Caritatis a nostra Domina Matre Misericordiae yang artinya Kongregasi Suster-Suster Cintakasih dari Maria Bunda yang berbelaskasih. Kongregasi ini didirikan oleh Mgr. Joannes Zwijsen pada tanggal 23 November 1832 di Belanda dan merupakan Kongregasi Religius Apostolik Kepausan yang bersifat internasional, yang dibaktikan untuk menghadirkan Cinta dan Belaskasih Allah yang menyembuhkan dan menyelamatkan, terutama kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tertindas.
Sejak menjadi Pastor Paroki di t’Heike di Tilburg, Pastor Joannes Zwijsen sangat menyadari lingkungan yang sulit dari umatnya. Sebagian besar umatnya adalah para pekerja industri tekstil dan buruh harian. Meskipun bekerja keras penghasilan mereka sangat kecil. Pada zaman itu di negeri Belanda, banyak terdapat anak-anak miskin, yang dalam usia masih sangat muda sudah harus menjadi pekerja di pabrik-pabrik tenunan untuk mencari nafkah, sehingga mereka tidak bisa ke sekolah, dan tentu tidak mendapat pendidikan. Pastor Zwijsen dengan tajam menyadari lingkungan yang sulit dari umatnya. Beliau tergerak oleh keadaan yang menyedihkan dan dengan kepribadiannya yang penuh semangat dan kekuatan ia mencari jalan dan sarana untuk meringankan kebutuhan mereka dengan mendirikan sebuah sekolah agar anak-anak miskin dapat diajar membaca, menulis menjahit dan merajut. Merupakan awal yang sederhana berdirinya kongregasi, sewaktu pada tanggal 23 November 1832, Pastor Zwijsen membawa tiga Suster pertamanya ke suatu rumah kecil di daerah t’Heike di Tilburg. Mereka adalah: Sr. Maria Michael Leysen, Sr. Maria Catharina Jansen, dan Sr. Maria Theresia Smits. Pada tanggal 5 Februari 1834, jumlah Suster telah bertambah menjadi enam orang, mereka mengikrarkan kaul-kaul religius di Gereja paroki t’Heike di hadapan Pendiri mereka, Pastor Zwijsen. Pastor Joannes Zwijsen kemudian mengangkat Muder Michael Leysen menjadi Pemimpin Umum Pertama Kongregasi. Pastor Zwijsen hendak membatasi jumlah susternya sampai tiga belas orang sebab kuasa gerejawi memutuskan bahwa tak pernah boleh menerima lebih dari tiga belas suster. Namun, kepercayaannya yang teguh akan bimbingan Allah dan Penyelenggaraan Ilahi yang penuh kasih menyebabkan beliau menyetujui perkembangan yang cepat dari kongregasinya.
Sampai tahun 2018, Kongregasi SCMM di Indonesia hadir di 12 Keuskupan/Keuskupan Agung dan memiliki 29 Komunitas atau Rumah Biara dengan 226 orang Suster Indonesia sebagai anggota, yang tersebar di berbagai pulau, yakni:
6 Biara di Pulau Nias (Amandraya, Hiliniondrasi, Teluk Dalam, Gunung Sitoli, Tuhemberua, dan Lahewa), yang di kalangan SCMM disebut Sub Provinsi Nias, dengan nama sipil: Kongregasi SCMM Ratu Pencinta Damai;
13 Biara di Pulau Sumatera (Banda Aceh, Lhokseumawe, 4 Biara di Medan, Pematang Siantar, Tarutung, Sibolga, Sarudik, 2 Biara di Padang, Pasaman), yang di kalangan SCMM disebut Sub Provinsi Sumatera, dengan nama sipil: Kongregasi SCMM Provinsi Indonesia;
9 Biara di Wilayah-wilayah lainnya tersebar secara sporadis yakni di Jawa (Jakarta dan Yogyakarta), Kalimantan (Banjarbaru dan Banjarmasin), Bali (Jimbaran), Flores (Maumere dan Nebe), dan Sumba (Waikabubak dan Waipaddi), yang di kalangan SCMM disebut Sub Provinsi Timur, dengan nama sipil: Kongregasi SCMM Bintang Timur.
Dari waktu ke waktu terjadi perkembangan pesat terus-menerus, baik dari jumlah anggota, calon anggota, maupun jenis serta jumlah karya pelayanan kasih. Bidang-bidang karya yang ditangani adalah BIDANG PENDIDIKAN (PAUD, Play Group, TKK, SD, SMP, SMA), BIDANG KESEHATAN (Klinik, Poliklinik, Rumah Bersalin, Rumah Sakit), BIDANG SOSIAL (Asrama Puteri, Asrama Putera, Panti Asuhan, Panti Jompo, pelayanan-pelayanan Pastoral, Kantin, Konveksi, Penitipan Anak), dan beberapa Suster bekerja pada karya milik Pihak Ketiga, seperti di Sekolah, Rumah Sakit, Keuskupan, dan KOPTARI (Konferensi Pemimpin Tarekat Religius Indonesia).
Sumber Yakobis TV