Selasa, 24 Februari 2026
Sabda Kehidupan
Selasa 24 Februari 2026
Matius 6:9-10 (Mat 6:7-15)
”Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga…”
Doa Yesus, Juga Doa Kita
Sesungguhnya doa ”Bapa Kami” yang diajarkan Yesus bagi kita, adalah doaNya sendiri.
Dalam doaNya Yesus datang kepada Allah sebagai Anak Allah. Yesus tahu persis siapakah BapaNya yang di surga dan bagaimana sebenarnya hati Allah sebagai Bapa.
Yesus telah menjadi manusia, maka Ia pun tahu apa yang kita perlukan dalam hidup ini karena Ia-pun mengalami yang sama seperti yang kita alami. Oleh karena itu Yesus mengajak kita untuk meminta, mencari, dan mengetuk pintu hati Allah.
Namun di atas segalanya kita memohon agar kehendak Allah Bapa, itulah yang terjadi.
Kita ingat bahwa di taman Getsemani, betapa Yesus ingin lepas dari derita yang sudah di depan mata. Karena itu Ia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26:39).
Salah satu yang dikehendaki Bapa bagi kita adalah mengampuni orang yang bersalah pada kita saat kita juga mohon ampun atas kesalahan kita. Jangan biarkan ada dendam dan simpan marah dalam hati.
Dan ingatlah bahwa jawaban utama doa kita tak lain adalah Roh Kudus yang dianugerahkan Allah untuk tinggal di hati kita, menggerakkan hati kita untuk selalu berseru “Abba ya Bapa.”
Roh Kudus Allah memberi kita kekuatan untuk menghadapi kenyataan hidup, menjadikan yang tak mungkin menjadi mungkin, dan memampukan kita untuk berserah dan bersandar pada kasih Bapa.
Selamat hari Selasa. Doakanlah selalu doa ‘Bapa Kami’. Tiada hari tanpa doa “Bapa Kami.”❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 24 Feb 2026
Selasa Prapaskah I
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Mat 4:4b
Bacaan Injil: Mat 6:7-15
************
Bait Pengantar Injil
Mat 4:4b
Manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.
Bacaan Injil
Mat 6:7-15
Yesus mengajar murid-Nya berdoa.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
“Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele
seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.
Mereka menyangka bahwa
karena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan.
Jadi janganlah kamu seperti mereka,
karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan,
sebelum kamu minta kepada-Nya.
Karena itu berdoalah begini:
“Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.
Datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Amin.
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,
Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang,
Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
Demikianlah sabda Tuhan.
***********
ℍ☘️
Pada awal masa Prapaskah kita diingatkan akan tiga pilar rohani masa Prapaskah, yakni doa, puasa dan sedekah. Hari ini, kita diingatkan akan pentingnya doa — bukan hanya sebagai kewajiban agama, tetapi sebagai percakapan yang hidup dengan Tuhan. Terlalu sering, kita menyederhanakan doa menjadi daftar permintaan, seolah-olah kita menarik berkat dari ATM ilahi. Namun, Tuhan bukan hanya pemberi berkat — Dia adalah Sahabat, Bapa, dan Pemandu kita.
Doa yang sejati melibatkan lebih dari sekadar kata-kata yang diucapkan; doa adalah percakapan yang tulus dari hati. Kita perlu membedakan antara sekadar mengucapkan doa dan terlibat dalam doa yang sejati. Meskipun mengucapkan doa memiliki arti penting, doa yang autentik mencakup: berbagi hidup kita dengan Tuhan, terbuka kepada-Nya tentang tantangan, kegembiraan, dan aspirasi kita. Terlepas dari apakah kita berdoa dalam batin, melalui nyanyian, atau dengan bisikan lembut, hati kita harus selalu terhubung dengan Tuhan.
Banyak orang sering merasa, “Saya tidak punya waktu untuk berdoa.” Namun, jika kita meluangkan waktu sejenak untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam segala yang kita lakukan, hidup kita dapat menjadi doa yang indah — diisi dengan cinta dalam pekerjaan kita, tantangan kita, dan bahkan saat-saat penderitaan kita. Ketika kita berdoa, seolah-olah segalanya bersinar dan berubah menjadi lebih baik. Tentu perlu kita ingat bahwa doa-doa kita bukanlah untuk meyakinkan Tuhan agar mengubah rencana-Nya! Doa tidak mengubah Tuhan; sebaliknya, doa membuka pikiran kita dan mengubah hati kita.
Doa juga merupakan jalan menuju pengampunan. Kita semua tahu betapa sulitnya memaafkan, terutama ketika kita telah terluka begitu mendalam. Pengampunan membutuhkan kasih karunia, penyembuhan, dan pertumbuhan rohani. Kita harus membawa luka-luka kita di hadapan Tuhan dalam doa untuk penyembuhan yang kita butuhkan. Pengampunan dan doa tidak dapat dipisahkan — doa memfasilitasi penyembuhan dan memperkuat kita untuk mengampuni. Ketika kita mengampuni, kita menemukan kedamaian.
Semoga masa Prapaskah ini menjadi waktu yang baik untuk kita belajar berdoa dengan tulus, dengan hati dan hidup kita.
Bapa di surga, Engkau telah memberiku akal budi untuk mengenal Dikau, kehendak untuk melayani Dikau, dan hati untuk mengasihi Dikau. Kurniakan kepadaku hari ini rahmat dan kekuatan untuk melaksanakan kehendak-Mu dan penuhi hati dan budiku dengan kebenaran dan kasih sehingga segala maksud dan tindakanku berkenan kepada-Mu. Bantu aku untuk berbelas kasih dan mengampuni seperti Engkau telah berbelas kasih dan mengampuni aku. Amin.
Selamat beraktivitas. Mari saling doakan, saling mengampuni. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC