Rabu, 04 Februari 2026
Sabda Kehidupan
Rabu 04 Februari 2026
Markus 6:4-5 (Mrk 6:1-6)
Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
Penolakan Janganlah Melumpuhkan Kita
Yesus telah berkarya di berbagai tempat dan disambut dengan luar biasa karena begitu banyak mujizat yang telah dilakukanNya. Betapa pedih hatiNya ketika pulang ke Nazaret kampung halamanNya, semua hikmat oleh sabdaNya yang menakjubkan, dimentahkan oleh sikap meremehkan dan prasangka buruk orang sekampungNya.
Ditolak oleh orang yang tidak dikenal tak sepedih bila ditolak oleh orang yang begitu dekat relasinya dengan kita. Entah orangtua, anak-anak sendiri, suami, istri, kakak, adik, teman dekat, kekasih hati. Merasa ditolak, tidak dicintai, diremehkan, sungguh melumpuhkan. Hilang semua energi batin dan orang menjadi tak berdaya.
Namun apapun yang terjadi ingatlah bahwa keluarga dan sahabat adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Mengampuni dan berdamai kembali sungguh menyembuhkan luka hati. Yesus Tuhan kita, sekalipun ditolak bahkan dianiaya dan disalibkan oleh bangsaNya sendiri, dengan penuh kasih tak henti mengampuni. Di atas kayu salib Yesus berdoa, “Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34).
’Janganlah simpan dalam hati’ adalah nasehat bijak untuk kita tak menyimpan dendam dan tak berhenti mencintai.
Tak perlu mencari pujian dan hormat untuk sebuah ketulusan hati. Tuhan telah bersabda, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” (2 Kor 12:9).
Tuhan tidak pernah menolak kita. Oleh karena itu, atas semua yang kita lakukan, katakanlah dengan sukacita di hati, “ini kulakukan karena aku mencintaimu.” Entah dibalas atau tidak, tidaklah masalah. Mencintaimu, mengampunimu, menghormatimu, itulah keputusanku.
Penolakan janganlah melumpuhkan kita. Sekalipun terluka kita tak berhenti melayani dan berbuat baik.
Selamat Hari Rabu. Damailah selalu di hati.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 04 Feb 2026
Rabu Pekan Biasa IV
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan Injil: Mrk 6:1-6
**********
Bacaan Injil
Mrk 6:1-6
Seorang nabi dihormati di mana-mana
kecuali di tempat asalnya sendiri.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Pada suatu ketika, Yesus tiba kembali di tempat asal-Nya,
sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
Pada hari Sabat Yesus mengajar di rumah ibadat,
dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia.
Mereka berkata, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?
Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya?
Dan mujizat-mujizat yang demikian
bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?
Bukankah Ia saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon?
Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?”
Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
Maka Yesus berkata kepada mereka,
“Seorang nabi dihormati di mana-mana
kecuali di tempat asalnya sendiri,
di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”
Maka Yesus tidak mengadakan satu mujizat pun di sana,
kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit
dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.
Demikianlah sabda Tuhan.
***********
ℍ
Setelah menghabiskan beberapa bulan di Kapernaum, mengunjungi desa-desa di Galilea, memberitakan Injil, dan menyembuhkan orang sakit, Yesus kembali ke desa kelahirannya. Di Kapernaum, Yesus terlibat dalam konflik dengan otoritas politik dan agama. Namun, kini, di tanah airnya sendiri, justru orang-orang dari negerinya sendiri yang tidak mengerti dan menolak-Nya. Apakah Yesus mengatakan atau melakukan sesuatu yang sangat provokatif?
Sebelumnya, kerabat-Nya mencoba meyakinkan-Nya untuk kembali ke keluarganya karena kerabat-Nya menganggap Ia tidak waras lagi. Tentang saudara-saudari-Nya justru Ia berkata: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku,” (Mrk 3:31-35).
Kini, Ia kembali ke Nazaret, didampingi oleh keluarga baru-Nya — para murid yang menanggapi panggilan-Nya. Mereka telah meninggalkan perahu, jala, ayah, dan segala yang mereka miliki, dan mengikuti-Nya.
Selama Yesus tetap diam di rumah tempat ia dibesarkan, yaitu selama ia tetap dalam kerangka tradisional dan menghargai keyakinan agama yang ditransmisikan oleh para rabi dan dibagikan oleh semua orang, tidak ada yang mengatakan apa-apa tentangnya. Masalah muncul begitu Ia memaklumkan keputusan untuk mendirikan “rumah baru”, “keluarga baru” serta jalan hidup yang baru.
Dengan pesan dan tindakan-Nya, Yesus menghancurkan “rumah lama” di mana mereka menaruh semua harapan mereka. Apa jaminan yang dapat diberikan oleh “tukang kayu, anak Maria”? Selama lebih dari tiga puluh tahun, dia hanya memperbaiki pintu dan jendela, membuat cangkul dan bajak, dan mereka mengenal saudara-saudaranya. Dari mana pesan yang dia ajarkan berasal? Siapa yang memberi-Nya kuasa untuk melakukan mujizat? Mereka bertanya-tanya: apakah mukjizat-mukjizat itu dilakukan atas nama Allah, atau, seperti yang dituduhkan oleh para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem (Mrk 3:22), atau apakah mukjizat-mukjizat itu berasal dari si jahat?
Sikap yang diambil oleh orang-orang Nazaret terus berulang bahkan hingga saat ini. Saat ini kita tidak kekurangan nabi, orang-orang yang berbicara tentang kebenaran, mereka yang mengganggu kemapanan, yang menegur kita saat kita salah jalan. Akan tetapi kita menolak untuk menerimanya sebagai nabi, hanya karena kita mengenal mereka. Kita menggunakan argumen yang sama seperti yang digunakan oleh sesama warga Yesus. Dan kita menutup diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru, cara-cara, dan harapan yang Allah buka bagi kita melalui mereka. Tentu saja, mereka memiliki kelemahan seperti kita semua, tetapi melalui mereka Roh Kudus berbicara. Jika kita tidak mendengarkan mereka, sayang sekali bagi kita!
Siapakah nabi-nabi bagi Anda saat ini? Sejauh mana kita mendengarkan mereka? Apakah Anda merasa bahwa, jika kita mendengarkan mereka, kita dapat hidup secara lebih baik dan benar?
Tuhan, lunakkan hati kami, agar mau mendengarkan warta kebenaran meski disampaikan oleh orang-orang yang kami kenal. Amin.
Selamat beraktivitas. Buka hati untuk nabi-nabi di sekitar kita. ⒿⓁⓊ! ❤
❤︎.
RP Joni Astanto MSC