Senin, 02 Februari 2026
Sabda Kehidupan
Senin 02 Februari 2026
Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah
Lukas 2:28-32 (Luk 2:22-40)
Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
Hidup Dalam Terang Kristus
Hari ini, tanggal 2 Februari, dalam hitungan kalender liturgi, adalah 40 hari sesudah hari kelahiran Yesus, tanggal 25 Desember.
Sesuai tradisi Yahudi, pada hari ke 40 orangtua Yesus, Yosep dan Maria membawaNya ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Allah dan untuk pentahiran ibuNya, Maria. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam hukum Taurat, yakni dalam Kitab Keluaran 13 dan Imamat 12.
Adalah di Bait Allah pada hari itu, seorang bernama Simeon dan yang lainnya Hana. Mereka berdua dengan rindu menantikan kedatangan Mesias yang dijanjikan Allah. Oleh bisikan Roh Kudus Simeon maupun Hana dapat mengenali dalam bayi Yesus yang kecil, Mesias, Sang Terang dunia dan Penebus umat manusia.
Segala doa, harapan dan kerinduan hati mereka terpenuhi. Bagi Simeon dan Hana, tak ada lagi yang mereka harapkan dan rindukan selain berjumpa dengan Yesus Sang Mesias.
Sesungguhnya pengabulan doa kita yang sebenarnya bukanlah pertama-tama terpenuhinya permintaan-permintaan yang kita ajukan, tapi lebih dari itu yakni perjumpaan dengan Allah, melalui pengenalan tanda-tanda kehadiran Allah, baik secara sakramental dalam setiap Sakramen yang kita ikuti terutama Ekaristi, maupun dalam setiap perjumpaan dengan Tuhan melalui berbagai peristiwa suka duka hidup kita.
Perjumpaan kita dengan Yesus memberi kita cahaya untuk melihat dengan iman, bagaimana Allah hadir dan menolong kita serta menemani kita berjalan bersama. Oleh penerangan Roh Kudus kita dimampukan membaca pesan-pesan Allah melalui berbagai peristiwa yang kita alami.
Bahkan dalam peristiwa sedih, bencana dan malapetaka, ada cahaya ilahi yang menerangi hati kita untuk melihat ada tangan Tuhan di balik peristiwa itu, agar kita percaya, Allah Bapa, Yesus Tuhan kita, dan Allah Roh Kudus selalu ada beserta kita.
”Ya Yesus, Cahaya Dunia, terangilah langkah hidup kami, agar kami dapat melihat tanda-tanda kehadiranMu di tengah kami. Biarlah terangMu bersinar dalam hati kami agar kami juga dapat menjadi terang bagi sesama. Gembirakanlah kami dengan tanda-tanda kehadiranMu dan dapt memandang wajahMu melalui orang-orang yang kami jumpai. Amin.”
Semangat Senin! Kiranya hidup dan karya kita menjadi persembahan yang berkenan pada Tuhan.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 02 Feb 2026
Senin Pekan Biasa IV
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Luk 2:32
Bacaan Injil: Luk 2:22-40
***********
Bait Pengantar Injil
Luk 2:32
Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain
dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.
Bacaan Injil
Luk 2:22-40
Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa,
Maria dan Yosef membawa Anak Yesus ke Yerusalem
untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan,
“Semua anak laki-laki sulung
harus dikuduskan bagi Allah.”
Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban
menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan,
yaitu sepasang burung tekukur
atau dua ekor anak burung merpati.
Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon.
Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya,
yang menantikan penghiburan bagi Israel.
Roh Kudus ada di atasnya,
dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus,
bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias,
yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah.
Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya,
untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
Simeon menyambut Anak itu
dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya,
“Sekarang Tuhan,
biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera,
sesuai dengan firman-Mu,
sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain
dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu
yang dikatakan tentang Anak Yesus.
Lalu Simeon memberkati mereka,
dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
– dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -,
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Ada juga disitu seorang nabi perempuan,
anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana.
Ia sudah sangat lanjut umurnya.
Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya,
dan sekarang ia sudah janda,
berumur delapan puluh empat tahun.
Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah,
dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah
Hana pun datang ke Bait Allah,
dan bersyukur kepada Allah
serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang
yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Setelah menyelesaikan semua
yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan,
kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus
ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat,
penuh hikmat,
dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan.
***********
ℍ
“Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,” [Luk 2: 22]
Hari ini kita rayakan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Dalam tradisi Pesta ini sudah sejak abad ke-5 dirayakan di kota Yerusalem (Ritus Timur), dan sejak abad ke-6 diperluas ke seluruh Gereja Katolik Roma. Di Roma pesta ini dirayakan dengan nada pertobatan, sedangkan di Perancis dengan pemberkatan meriah dan perarakan lilin, sehingga sekarang masih dikenal sebagai “Misa Terang” (Candlemas/misa lilin) atau sering juga disebut candelaria.
Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah juga merupakan Hari Doa Sedunia untuk Hidup Bakti, saat khusus untuk mendoakan semua orang baik pria maupun wanita yang telah mempersembahkan dan menguduskan hidup mereka kepada Tuhan, karena cinta kepada Allah dan dalam pelayanan kepada umat Allah. Walau demikian, setiap orang beriman dipersembahkan kepada Tuhan, maka kita juga mengenang persembahan hidup kita kepada Tuhan pada saat baptisan. Sebagai orang yang dikuduskan, kita dikhususkan untuk melakukan pekerjaan Allah, tidak pernah sendirian tetapi bersama saudara-saudari kita.
Injil Lukas menceritakan Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah, di mana Maria dan Yusuf menaati Hukum Musa dengan menyerahkan Anak mereka kepada Allah. Perayaan ini mengingatkan kita pada tiga pelajaran penting bagi iman dan keluarga kita saat ini.
Pertama, ketaatan Keluarga Kudus terhadap Hukum Tuhan menonjolkan keselarasan mereka dengan Firman Allah. Di tengah kemiskinan dan tantangan, mereka hidup sesuai dengan kehendak Allah. Mereka menjadi contoh bagaimana menempatkan Allah sebagai pusat keluarga, mempercayai Firman-Nya untuk membimbing kita melalui pelbagai macam cobaan hidup.
Kedua, persitiwa Yesus dipersembahkan ini mengajarkan bahwa anak-anak bukanlah milik kita, melainkan anugerah yang dipercayakan Allah kepada kita. Maria dan Yusuf, meskipun memiliki harapan untuk Yesus, menyerahkan-Nya kepada rencana Allah yang lebih besar. Para orang tua diundang untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada Allah, membesarkan mereka untuk memenuhi rencana dan tujuan Allah bagi mereka.
Ketiga, kesederhanaan persembahan Keluarga Kudus—sepasang merpati—menunjukkan bahwa Yesus lahir di antara orang-orang miskin. Kesederhanaan ini mengundnag kita untuk mendekati Kristus, yang mengidentifikasi diri-Nya dengan perjuangan kita.
Simeon dan Hana, yang dipenuhi Roh Kudus, mengenali Bayi Yesus sebagai Mesias. Hidup mereka yang penuh iman dan penantian yang sabar mewakili harapan dan kepercayaan pada janji-janji Allah. Kidung Simeon, sebuah doa penyerahan diri yang damai, mengingatkan kita bahwa hidup yang dijalani untuk Allah membawa kepenuhan sejati. Persembahan hidup Hana yang tak tergoyahkan selama berpuluh-puluh tahun di Bait Allah mewakili sisa umat yang setia yang menantikan kedatangan campur tangan Allah dengan sukacita.
Sukacita Maria dan Yusuf dalam menaati Hukum mencerminkan hubungan yang dalam dan penuh kasih dengan Allah, sementara keterbukaan Simeon dan Hana terhadap Roh Kudus mengungkapkan vitalitas hidup yang berakar pada iman. Perjumpaan ini juga mencerminkan hidup yang dibaktikan: perjumpaan dengan Kristus yang mengubah kita. Melalui Gereja dan karisma komunitas religius, orang-orang yang dibaktikan, bertemu dengan Kristus, mengenali-Nya, dan menerima misi-Nya. Semoga Roh Kudus memimpin kita untuk hidup dengan sukacita dalam panggilan kita, memupuk persatuan dan keterbukaan terhadap suara Allah, saat kita melanjutkan perjalanan bersama.
Tuhan, saat kami mengenangkan Dikau yang dipersembahkan di kenisah, teguhkanlah persembahan diri kami kepadamu, baik sebagai biarawan-biarawati maupun sebagai umat biasa. Semoga kami seperti Simeon dan Hana, mengenali Engkau dan menerima serta menjalankan misi-Mu dengan setia. Amin.
Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Persembahkan hidupmu kepada Allah! ⒿⓁⓊ! ❤
❤︎.
RP Joni Astanto MSC