Selasa, 20 Januari 2026
Sabda Kehidupan
Selasa 20 Januari 2026
Markus 2:23-24 (Mrk 2:23-28)
Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
Berpikir Positif
Ada seorang anak yang punya 2 buah apel. Ibunya memintanya berbagi apel dengan adiknya. Anak itu langsung mengambil apel yang satu lalu menggigitnya. Demikian juga dengan apel yang lain. Ibunya tentu terkejut dengan sikap si anak. Tapi kemudian ia berkata kepada adiknya, “Ini yang lebih manis. Ambilah ini!.” Ternyata ia ingin memberi yang lebih manis kepada adiknya maka ia lebih dahulu mencicipinya. Bukan karena ia tak rela berbagi apel.
Dalam kisah Injil hari ini, Yesus menegur cara pandang orang Farisi karena hanya didasarkan pada legalisme sempit. Yang penting ikut aturan, tanpa memahami kedalaman pesan-pesan Tuhan dalam pelbagai aturan yang ditetapkan dalam kitab Taurat.
Apalagi, bila sudah ditambahkan dengan rasa tidak suka, prasangka buruk, kebencian dan iri hati, serta pelbagai pikiran negatif lainnya. Bila demikian, apapun yang baik yang dilakukan orang akan dipandang buruk dan tidak sesuai. Orang jatuh pada sikap menghakimi orang lain.
Tanpa mengesampingkan semua aturan yang ada, Yesus mengajak kita untuk melihat lebih dalam, pada hakekat atau inti terdalam relasi kita dengan Tuhan dan sesama yakni cintakasih, kepercayaan, pengampunan.
Mari selalu mengundang Roh Kudus menerangi hati dan budi kita agar tidak mudah jatuh dalam sikap menghakimi. Biarlah Roh Kudus menerangi hati dan budi kita untuk melakukan apapun terdorong oleh cinta kasih.
Selamat hari Selasa. Jauhkan pikiran dari berburuk sangka. Tuhan Yesus menerangi hati kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 20 Jan 2026
Selasa Pekan Biasa II
PF S. Sebastianus, Martir
PF S. Fabianus, Paus dan Martir
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Ef 1:17-18
Bacaan Injil: Mrk 2:23-28
************
Bait Pengantar Injil
Ef 1:17-18
Bapa Tuhan kita Yesus Kristus
akan menerangi mata budi kIta,
agar kita mengenal harapan panggilan kita.
Bacaan Injil
Mrk 2:23-28
Hari Sabat diadakan untuk manusia,
dan bukan manusia untuk hari Sabat.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum,
dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.
Maka kata orang-orang Farisi kepada Yesus, “Lihat!
Mengapa mereka berbuat sesuatu
yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
Jawab Yesus kepada mereka,
“Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud,
ketika ia dan para pengiringnya kekurangan dan kelaparan?
Tidakkah ia masuk ke dalam Rumah Allah
waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Agung
lalu makan roti sajian
– yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam –
dan memberikannya juga kepada pengikut-pengikutnya?”
Lalu kata Yesus kepada mereka,
“Hari Sabat diadakan untuk manusia
dan bukan manusia untuk hari Sabat,
jadi Anak Manusia adalah Tuhan, juga atas hari Sabat.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
“Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” (Mrk 2: 27 – 28)
Bayangkan orang-orang Farisi dalam Injil hari ini, dengan polos dan lugu protes terhadap Yesus karena murid-murid-Nya telah memetik dan mengunyah sebutir gandum pada hari Sabat. Seperti “paparazi”, mereka memata-matai Yesus dan murid-murid-Nya untuk melihat apa yang mereka lakukan, kapan mereka melakukannya dan bagaimana mereka melakukannya. “Lihat, murid-murid-Mu melanggar aturan! Mereka dalam masalah besar! Mereka melakukan sesuatu yang dilarang di hari Sabat!”
Tidak jarang kita mendengar pertikaian dalam komunitas gereja kita bahwa kelompok ini atau itu melakukan ini dan itu dan karena itu kita harus menghentikan perbuatan mereka. Kelompok ini atau itu melanggar peraturan gereja! Cara mereka membaca sebagai lektor tidak sesuai aturan! Jawaban mereka tidak sesuai aturan liturgi! Cara mereka melakukan ini dan itu tidak sesuai aturan! Mungkin beberapa orang menemukan kepuasan jika mendapati orang lain melakukan kesalahan dan mendapat masalah.
Saya tergelitik saat memperhatikan perilaku orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Perilaku mereka mengingatkan saya pada diri sendiri – bagian dari diri sendiri yang kadang-kadang merasa senang saat “menangkap basah” orang lain yang melakukan sesuatu yang salah, bagian dari diri sendiri yang menonjolkan sikap “saya yang paling tahu”. Bagian dari diri saya sendiri yang menganggap diri saya lebih baik dari orang lain. Bagian dari diri saya yang senang membuat keributan karena beberapa orang “memetik dan mengunyah gandum sambil berjalan di ladang pada hari Sabat.”
Tetapi Yesus menggunakan kritik dari orang-orang Farisi itu sebagai kesempatan untuk berbicara tentang kasih Allah kepada kita. Hari Sabat adalah anugerah Allah dan bukan beban yang diberikan kepada kita. Pribadi seseorang lebih penting daripada norma dalam hal hal-hal yang mempengaruhi martabat dan kelangsungan hidup. Tergantung kepada kita untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah seperti Yesus, memperhatikan kebutuhan satu sama lain.
Ngomong-ngomong, sebelum menjadi “paparazi” bagi saudara-saudara kita, mari kita ingat kata-kata Santo Fransiskus de Sales: “Sebelum menghakimi sesama kita, marilah kita menempatkan dia pada posisi kita dan diri kita pada posisinya, maka penilaian kita akan menjadi benar dan penuh kasih.”
Mari kita renungkan, seberapa cepat kita menghakimi orang-orang di sekitar kita?
Tuhan, ampunilah aku jika aku cenderung menghakimi orang lain. Berikanlah mata dan hati-Mu agar aku bisa lebih mengasihi orang lain. Amin.
Selamat beraktivitas. ⒿⓁⓊ! ❤
❤︎.
RP Joni Astanto MSC