Sabtu, 17 Januari 2026
Sabda Kehidupan
Sabtu 17 Januari 2026
Peringatan St Antonius Abas
Markus 2:14 (Mrk 2:13-17)
Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.
Yesus Datang Untuk Memanggil Orang Berdosa
Lewi adalah seorang pemungut cukai yang dipandang hina oleh orang Yahudi.
Pertama karena ia adalah pengkhianat bangsa, antek penjajah Romawi. Namanya Lewi, seharusnya jadi kebanggaan orang Israel karena mengambil nama anak ke tiga Yakub yang jadi leluhur suku Lewi yakni para imam Israel. Tapi ia tidak hidup sesuai martabat namanya.
Ke dua, sebagai pemungut cukai, ia juga masuk kalangan para preman, karena memungut cukai lebih dari yang seharusnya demi kepentingan diri sendiri, termasuk dengan memakai ancaman bahkan kekerasan.
Tentu bagi Lewi gaya hidup seperti ini membuat dia merasa bersalah dengan apa yang ia kerjakan. Namun siapa yang akan menolong dia keluar dari rasa bersalah yang membebani hatinya?
Ketika Yesus memanggil dia, inilah kesempatan bagi Lewi untuk memulai hidup baru dan membaharui diri oleh kepercayaan Yesus, mengangkatnya sebagai salah satu muridNya.
Pesan yang indah di balik kisah Lewi adalah: seberapa hina kita di mata manusia, tidak seperti itulah kita di mata Tuhan. Yesus tidak melihat dosa dan kelemahan kita, tapi semua yang indah yang Allah anugerahkan ketika kita diciptakanNya.
Orang berdosa di mata Yesus adalah orang yang sakit yang perlu disembuhkan. Bukan dibiarkan sakit oleh dosa. Karena itu Yesus bersabda, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Ay 17).
Sebagaimana Yesus sanggup memulihkan jati diri Lewi sebagai pemungut cukai dan membuatnya menjadi Matius (artinya “karunia Allah”), yang kelak menjadi penulis Injil, demikian juga Yesus sanggup mengubah kita menjadi anak kekasih Allah Bapa.
Pengampunan Yesus membebaskan kita dari rasa bersalah yang senantiasa menghantui. Yesus memanggil kita bukan karena kehebatan kita, melainkan karena Ia mencintai kita sebagai saudara se-Bapa.
Ia menjadikan kita kudus kembali bukan karena jasa kita melainkan oleh karunia Roh Kudus yang dianugerahkan Yesus bagi kita saat kita dibaptis. Roh Yesus tinggal dalam hati kita untuk terus membaharui kita sebagai anak Allah. Tinggalkanlah masa lalu, tataplah ke depan dan mengikuti Yesus dengan setia.
Selamat berakhir pekan. Jadilah ‘karunia Allah’ oleh kasih Yesus.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 17 Jan 2026
Sabtu Pekan Biasa I
PW S. Antonius, Abas
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Luk 4:18-19
Bacaan Injil: Mrk 2:13-17
************
Bait Pengantar Injil
Luk 4:18-19
Tuhan mengutus Aku
mewartakan Injil kepada orang yang hina-dina
dan memberitakan pembebasan kepada orang tawanan.
Bacaan Injil
Mrk 2:13-17
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Sekali peristiwa Yesus pergi lagi ke pantai Danau Galilea,
dan semua orang datang kepada-Nya.
Yesus lalu mengajar mereka.
Kemudian ketika meninggalkan tempat itu,
Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai,
Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”
Maka berdirilah Lewi, lalu mengikuti Yesus.
Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Lewi,
banyak pemungut cukai dan orang berdosa
makan bersama dengan Dia dan murid-murid-Nya,
sebab banyak orang yang mengikuti Dia.
Waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat,
bahwa Yesus makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa,
berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya,
“Mengapa Gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Yesus mendengar pertanyaan itu dan berkata kepada mereka,
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit!
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa!”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
_”Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mrk 2: 16 – 17)._
Pertanyaan para Farisi, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa,” didasarkan pada asumsi tertentu. Para Farisi berasumsi, jika seseorang makan bersama-sama dengan para pendosa, ia juga seorang pendosa. Lewi adalah seorang Yahudi yang bekerja bagi penjajah Romawi. Ia adalah seorang pemungut cukai. Para pemungut cukai dikenal ketidakjujurannya. Jika itu dirasa tidak terlalu buruk, mereka secara ritual “najis”. Mereka bergaul dengan orang-orang kafir. Pakaian mereka bersentuhan dengan pakaian orang-orang kafir. Piring dan alat makan mereka tidak dimurnikan.
Maka ketika mereka terang-terangan melihat Yesus melanggar hukum dengan bergaul dan makan bersama para pendosa, makan dengan tangan najis, dari piring yang najis, bersama dengan orang-orang yang najis, mereka yakin bahwa orang semacam itu tentu tidak berasal dari Allah.
Asumsi mereka ini menghalangi mereka untuk melihat apa yang sebenarnya. Allah tidak hanya memperhatikan penampilan luaran; Ia melihat hati. Yesus datang dan bergaul dengan para pendosa. Orang-orang berdosa tidak membuatnya najis, tetapi Dialah yang memurnikan mereka. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Apakah anda juga terjebak oleh asumsi-asumsi pribadi terhadap orang lain? Menarik untuk diperhatikan bahwa kita semua berdosa. Berkat Tuhan selalu baru bagi kita setiap hari karena Dia menyediakan bagi anak-anak-Nya apa yang sebenarnya tidak layak kita dapatkan. Kita selamat karena KASIH-Nya.
Renungkan, hari ini, mungkin dalam hidup Anda ada orang-orang yang ingin anda hindari. Mengapa? Dengan siapa Anda tidak ingin dilihat bersama-sama? Mungkin Yesus, lebih dari yang lain, ingin bersama dengan orang itu. Ada ruang untuk siapa saja dalam Hati-Nya. Mari kita hidup berdasarkan iman, kepercayaan akan KASIH-NYA dan bukan berdasar asumsi-asumsi.
Bapa, semoga kami, kumpulan orang-orang yang baik dan berdosa, tidak terjebak oleh asumsi-asumsi yang memisahkan satu terhadap yang lain, tetapi merangkul, menjangkau mereka yang tersisih dan membangun persatuan sebagai anak-anak-Mu yang telah Kauampuni. Amin.
Selamat berakhir-pekan. Mari bangun jembatan, bukan tembok pemisah. ⒿⓁⓊ! ❤
❤︎.
RP Joni Astanto MSC