Rabu, 14 Januari 2026
Sabda Kehidupan
Rabu 14 Januari 2026
Markus 1:35 (Mrk 1;29-39)
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
Arti Doa Bagi Yesus
Yesus selalu membuka hari dengan berdoa kepada BapaNya. Demikian juga saat selesai berkarya Yesus datang kepada BapaNya dalam doa.
Doa bagi Yesus adalah perjumpaan dari hati ke hati dengan Bapa di Surga agar apapun yang dilakukan Yesus seturut dengan kehendak BapaNya.
Bersatu hati dengan Bapa di surga itulah inti doa Yesus. Maka apa yang dilakukan Yesus, setiap keputusan yang diambilNya, seluruh hidup dan karyaNya, tak pernah lepas dari kesatuanNya dengan BapaNya, yang selalu menemaniNya, hadir bagiNya, dan berjalan bersamaNya.
Sebagai manusia biasa dan sekaligus Allah, Yesus mengalami betapa Ia disanjung, dipuja-puji, dicari-cari dan diikuti banyak orang. Hal ini dapat membuatNya terlena dan lengah serta menjauh dari kehendak BapaNya untuk mencari kenyamanan sendiri.
Yesus juga mengalami penolakan, sikap dan ujaran kebencian, iri hati pemuka Yahudi, ancaman fisik maupun mental. Kekuatan Yesus untuk menghadapi semuanya itu adalah kesatuanNya dengan BapaNya yang tak pernah meninggalkan Dia.
Apa yang dialami Yesus juga kita alami. Baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan serta menyakitkan. Sebagaimana halnya Yesus selalu membuka hari dengan doa dan mewarnai seluruh hidupNya dengan kesatuanNya dengan Bapa di surga, demikian juga kita tak dapat berjalan sendiri dan mengandalkan kemampuan diri sendiri.
Ingatlah ada kuasa kegelapan yang tidak senang bila kita dekat dengan Bapa kita di surga. Selalu ada kekuatan yang ingin menjatuhkan kita dan menggoda kita untuk mencari kesenangan, terus tinggal dalam zona nyaman dan menghindari pengorbanan serta kesulitan.
Mari selalu memulai hari dengan doa dan merenungkan Sabda Allah. Jangan lupa menutup hari dengan pujian syukur. Jangan biarkan kita terpisah dari Bapa di surga, dan dari Yesus yang setia menemani dan memegang tangan kita.
Semoga Roh Kudus menerangi budi dan hati kita. Biarlah suaraNya menjadi suara hati kita, sehingga semua keputusan, sikap dan tindakan kita menyenangkan hati Tuhan. Teruslah bersandar sepenuhnya dalam rangkulan kasih Bapa, apapun yang terjadi dalam hidup kita.
Saat berdoa ‘Bapa Kami’ resapilah selalu dari awal sampai akhir doa Yesus ini yang Ia ajarkan bagi kita. Niscaya hati kita terpaut selalu pada hati Bapa di surga.
Selamat hari Rabu. Diberkatilah semua niat baik dan karya kita hari ini.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 14 Jan 2026
Rabu Pekan Biasa I
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 10:27
Bacaan Injil: Mrk 1:29-39
************
Bait Pengantar Injil
Yoh 10:27
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.
Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.
Bacaan Injil
Mrk 1:29-39
Ia menyembuhkan banyak orang
yang menderita bermacam-macam penyakit.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Sekeluarnya dari rumah ibadat di Kapernaum,
Yesus dengan Yakobus dan Yohanes
pergi ke rumah Simon dan Andreas.
Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam.
Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.
Yesus pergi ke tempat perempuan itu,
dan sambil memegang tangannya Yesus membangunkan dia,
lalu lenyaplah demamnya.
Kemudian perempuan itu melayani mereka.
Menjelang malam, sesudah matahari terbenam,
dibawalah kepada Yesus
semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan.
Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.
Ia menyembuhkan banyak orang
yang menderita bermacam-macam penyakit
dan mengusir banyak setan;
Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara,
sebab mereka mengenal Dia.
Keesokan harinya, waktu hari masih gelap,
Yesus bangun dan pergi ke luar.
Ia pergi ke tempat yang sunyi, dan berdoa di sana.
Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Yesus.
Waktu menemukan Yesus, mereka berkata:
“Semua orang mencari Engkau.”
Jawab Yesus, “Marilah pergi ke tempat lain,
ke kota-kota yang berdekatan,
supaya di sana juga Aku memberitakan Injil,
karena untuk itu Aku telah datang.”
Lalu pergilah Yesus ke seluruh Galilea,
dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka
dan mengusir setan-setan.
Demikianlah sabda Tuhan.
†***********
ℍ
“Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka,” (Mrk 1: 29 – 31)
Ada begitu banyak jokes dan cerita tentang ibu mertua. Kompleksitas hubungan dalam keluarga yang penuh dinamika menimbulkan banyak kisah tersebut. Hari ini kita tidak akan membuat lelucon tentang ibu mertua. Sebaliknya, kita akan belajar dari narasi Injil tentang ibu mertua Petrus. Ada tiga pelajaran yang dapat kita renungkan dari kisah mukjizat ibu mertua Petrus.
Pertama, Tuhan tidak pernah terlalu lelah untuk melakukan kebaikan. Teks Injil dimulai dengan mengatakan bahwa hari itu adalah hari yang sangat padat bagi Yesus. Oleh karena itu, Ia mengharapkan waktu istirahat dari semua pekerjaan. Ia ingin beristirahat bersama di rumah Petrus. Yesus lelah dan sangat membutuhkan istirahat. Ia hanya ingin sejenak melupakan kerumunan, sendirian, dan membutuhkan “me time”. Namun, rasa lelah ini tidak dapat menghentikan-Nya untuk berbuat baik dan menyembuhkan ibu mertua Petrus.
Mari kita bertanya pada diri sendiri, bukankah sering kali kita mudah lelah? Kita juga sering menjadikan kelelahan sebagai alasan untuk menunda melaksanakan tugas yang dapat kita lakukan dengan segera. Bahkan perbuatan baik pun kita tunda hingga hari lain. Kita berkata: “Aku akan melakukan kebaikan besok saja.” Yesus, di sisi lain, tidak pernah terlalu lelah untuk melakukan perbuatan baik.
Kedua, Yesus melakukan perbuatan baik-Nya dalam kesendirian. Dia tidak membutuhkan kerumunan. Bersama-Nya hanya ada Petrus, ibu mertuanya dan mungkin Andreas, Yakobus dan Yohanes. Tanpa kerumunan yang memberi tepuk tangan atau orang-orang yang memuji-Nya, Yesus melakukan perbuatan baik untuk perempuan yang sakit itu. Bukankah acap kali kita merasa lebih baik melakukan kebaikan ketika banyak orang melihat kita? Lagi pula, ketika kita sendirian, lebih mudah menjadi diri kita yang lama, jahat, dan egois, karena tidak ada yang menegur kita; tidak ada kerumunan yang mengawasi setiap gerakan kita.
Ketika tidak ada yang melihat, kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan. Ketika tidak ada yang mengamati, mudah untuk melupakan Tuhan. Ketika tidak ada yang melihat, kita merasa bebas untuk melakukan bahkan hal-hal yang memalukan. Lagi pula, tidak ada yang akan tahu…. Tetapi bagi Tuhan, ada kerumunan atau tidak, ada orang atau tidak, ada tepuk tangan atau tidak, dihargai atau diejek, Dia akan melakukan perbuatan baik.
Ketiga, setelah ibu tua itu sembuh dari demam, dia segera berdiri, melayani, dan mengabdi kepada Tuhan. Tindakan-tindakannya menunjukkan bahwa kita semua disembuhkan selalu untuk orang lain.
Kita diberkati untuk orang lain, kita diberi anugerah untuk orang lain, dan kita menerima manfaat untuk orang lain. Kita tidak pernah diberkati hanya untuk diri kita sendiri. Kita tidak pernah disembuhkan hanya untuk diri kita sendiri. Kita tidak pernah diperlakukan dengan penuh sukacita dan kasih sayang hanya untuk diri kita sendiri. Kita disembuhkan, diberi anugerah, diberkati, untuk satu hal yang penting: ORANG LAIN.
Kita memohon berkat Tuhan hari ini. Untuk melayani meskipun kita lelah, untuk melayani meskipun kita merasa sakit, untuk melayani meskipun kita merasa ingin dibiarkan sendiri. Untuk melayani meskipun tidak ada orang banyak, untuk melayani meskipun hanya Tuhan yang melihat kita. Dan, untuk melayani karena kita telah diberkati.
Tuhan, semoga kami tidak hanya tinggal dalam zona nyaman kami, tetapi berada di mana kami dibutuhkan, menjadi tanda dan sarana keselamatan, siap sedia melayani. Amin.
Selamat beraktivitas. Selamat melayani. ! ❤
❤︎.
RP Joni Astanto MSC