Selasa, 13 Januari 2026
Sabda Kehidupan
Selasa 13 Januari 2026
Markus 1:22 (Mrk 1:21-28)
Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.
Masih Takjub-kah Kita?
Sehebat apapun seorang ahli Taurat mengajar tentang Firman Allah, ia hanya bisa mengutip salah satu ayat Taurat dan mengajarkannya. Sementara Yesus adalah Firman itu sendiri. Ia tidak perlu mengutip apapun dari Taurat atau kitab para nabi karena semua kitab itu menunjuk pada diri Yesus sebagai pemenuhan janji Allah.
Dialah Sabda yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu sabdaNya penuh kuasa dan membuat orang takjub mendengarnya.
Berbahagialah kita karena semua sabda Yesus telah dituliskan oleh para penginjil dan menjadi Sabda Kehidupan yang terus menggemakan kuasaNya yang menakjubkan, menggetarkan dan mempesonakan.
Sekalipun Injil sudah ditulis ribuan tahun lalu, Sabda Yesus tetap hidup selamanya. Pertanyaannya: ketika mendengar Injil diwartakan, masihkah Sabda Yesus membuat kita takjub, tergetar dan terpesona olehNya? Masihkah sapaan Yesus menyentuh hati kita? Masihkah Sabda Bahagia Yesus membawa rasa damai, bahagia dan sukacita di hati?
Oleh karena itu, saat kita membaca dan merenungkan Injil Tuhan, masuklah lebih dalam untuk berjumpa dengan Yesus secara pribadi. Bertemu-lah denganNya dari hati ke hati. Injil adalah surat cinta Yesus bagi kita. Sambil membuka Alkitab, dalam doa kita menyapaNya,
”Selamat berjumpa lagi ya Yesus. Betapa bahagia hatiku berjumpa denganMu. Engkau selalu menyapaku lewat Firman yang kubaca setiap hari. Tinggallah bersamaku dan FirmanMu hidup di dalamku. Peganglah tanganku, berjalanlah bersamaku dan tuntunlah langkahku. BersamaMu hatiku tenang, jiwaku tenteram dan aku bahagia. Amin.”
Selamat memulai hari baru dengan rasa takjub atas mentari pagi yang Tuhan hadirkan dan nafas hidupNya yang menyegarkan.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 13 Jan 2026
Selasa Pekan Biasa I
PF S. Hilarius, UPG
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 1Tes 2:13
Bacaan Injil: Mrk 1:21b-28
***********
Bait Pengantar Injil
1Tes 2:13
Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia,
melainkan sebagaimana sebenarnya, sebagai sabda Allah.
Bacaan Injil
Mrk 1:21b-28
Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Pada suatu malam Sabat
Yesus masuk ke dalam rumah ibadat di kota Kapernaum
dan mengajar di sana.
Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,
tidak seperti ahli-ahli Taurat.
Dalam rumah ibadat itu
ada seorang yang kerasukan roh jahat.
Orang itu berteriak,
“Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret?
Engkau datang hendak membinasakan kami?
Aku tahu siapa Engkau: yakni Yang Kudus dari Allah.”
Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya,
“Diam, keluarlah dari padanya!”
Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu,
dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya.
Mereka semua takjub,
sehingga mereka memperbincangkannya, katanya,
“Apa ini? Suatu ajaran baru?
Guru ini berkata-kata dengan kuasa.
Roh-roh jahat pun Ia perintah, dan mereka taat kepada-Nya.”
Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Yesus
ke segala penjuru di seluruh daerah Galilea.
Demikianlah sabda Tuhan.
***********
ℍ
“Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa.” (Mrk 1: 22)
Dalam pembahasan tentang kekuasaan, dikenal dua jenis kekuasaan, yakni “soft power” dan “hard power”. Kekuasaan pada dasarnya adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain guna memperoleh hasil yang diinginkan. Dalam hal ini soft power adalah kemampuan untuk memengaruhi orang lain guna memperoleh hasil yang diinginkan melalui daya tarik dan persuasi, bukan paksaan. Soft power bertumpu pada sumber daya budaya, nilai-nilai, dan kebijakan. Sebaliknya, hard power adalah kemampuan suatu pihak untuk memaksa pihak lain melakukan sesuatu yang dikehendaki. Misalnya, seorang penguasa berusaha mendapatkan apa yang diinginkan dengan kekuatan militer atau represi.
Injil hari ini berbicara tentang kuasa Yesus. Saya menemukan banyak kesamaan antara jenis kuasa yang dimiliki Yesus dan konsep soft power tersebut. Dikatakan dalam Injil, “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.” Setelah Yesus menyembuhkan seorang yang dirasuki roh jahat, orang-orang berseru, “Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” Tidak ada yang memberi Yesus kuasa karena Ia tidak berada dalam posisi kekuasaan. Ia bukan salah satu dari para ahli Taurat dan Farisi, para pemimpin agama Yahudi. Dalam konteks ini, kita mungkin bertanya, apa sumber kuasa-Nya. Sumber kuasa Yesus adalah “soft power”-Nya: integritas dan keasliannya, kedalaman pengetahuan-Nya, keterampilan komunikasi yang luar biasa, kasih dan belarasa-Nya, dan di atas segalanya, hubungan-Nya dengan Allah, sumber segala kuasa, melalui doa pribadi dan refleksi.
Seseorang yang telah mengembangkan soft power-nya tidak akan tergila-gila pada kuasa. Mahatma Gandhi, Martin Luther King, dan Ibu Teresa adalah contoh orang-orang dengan soft power yang luar biasa. Terkadang orang-orang dengan “soft power” diberi “hard power” untuk menanggung tanggung jawab yang lebih besar, seperti yang terjadi pada kasus Nelson Mandela. Kita juga dapat menemukan orang-orang dengan soft power di lingkungan kita sendiri. Orang-orang yang belum mengembangkan soft power seringkali gagal dalam menggunakan kekuasaan dengan benar. Mereka selalu merasa “insecure”, merasa terancam, dan mendorongnya untuk bersikap represif dan anti kritik. Tak jarang mereka menyalahgunakan kekuasaan, yang dapat menyebabkan kerusakan besar bagi keluarga, komunitas, masyarakat, atau bahkan negara. Sangat berisiko dan berbahaya untuk mempercayakan kekuasaan kepada mereka yang belum mengembangkan soft power. Mereka bisa saja menyalahgunakannya atau sangat besar peluangnya untuk dimanipulasi oleh kelompok kepentingan yang berperan sebagai “king makers”.
Mengikuti teladan Yesus, mari kita kembangkan soft power kita dengan mengembangkan integritas pribadi, memperdalam pengetahuan, mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan, berpegang dan mengatakan kebenaran, menghidupi KASIH dan dan tentu saja menjaga relasi kita dengan Tuhan melalui hidup doa dan hidup rohani yang dalam.
Tuhan, semoga kami dalam hidup kami menyatakan kuasa-Mu dengan penyembuhan, pengampunan dan belas kasih. Amin.
Selamat beraktivitas. Biarlah KASIH berkuasa. ! ❤
❤︎.
RP Joni Astanto MSC