Sabtu, 10 Januari 2026
Sabda Kehidupan
Sabtu 10 Januari 2026
Yohanes 3:29-30 (Yoh 3:22-30)
Jawab Yohanes, “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Biarlah Nama Tuhan Semakin Dimuliakan
Dari segi kekerabatan dan dari segi usia, Yohanes Pembaptis harusnya dipanggil kakak oleh Yesus. Akan tetapi Yohanes Pembaptis begitu rendah hati, karena ia sungguh menyadari bahwa kelahirannya adalah untuk mempersiapkan kedatangan Mesias, Yesus Kristus, yuniornya.
Bagi Yohanes sukacitanya menjadi penuh ketika semua orang dapat memandang Yesus sebagai Mesias, percaya padaNya dan menaruh harapan keselamatan pada Yesus. Inilah semangat sejati semua hamba Tuhan. Biarlah Yesus makin besar dan kita semakin kecil.
Hidup kita mendapatkan maknanya yang paling dalam ketika kita dapat menempatkan Yesus sebagai Tuhan kita dan kita ini pelayan-pelayanNya.
Ketika begitu banyak orang ingin menjadi nomor satu, paling besar, paling kuat dan hebat, paling terkenal, marilah kita belajar dari Yohanes Pembaptis. Dengan penuh kerendahan hati kita mengosongkan diri dan membiarkan Yesus memenuhi seluruh relung hati dan hidup kita. Biarlah nama Yesus yang ditinggikan dan Allah Bapa yang dimuliakan. Semua yang ada pada kita semata anugerah dan kasih karunia Allah melalui Yesus Tuhan kita.
”Ya Yesus, mengenalMu itulah sukacitaku. MencintaiMu itulah kebahagiaanku. MelayaniMu itulah kepenuhan hidupku. Biarlah Engkau semakin besar dan aku semakin kecil. Pakailah aku untuk kemuliaan namaMu. Dimuliakanlah namaMu untuk selamanya. Amin.”
Selamat berbahagia di akhir pekan. Kasih Yesus memenuhi hidup kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 10 Jan 2026
Sabtu Masa Natal
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Mat 4:16
Bacaan Injil: Yoh 3:22-30
**********
Bait Pengantar Injil
Mat 4:16
Bangsa yang diam dalam kegelapan
telah melihat Terang yang besar,
dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut
telah terbit Terang.
Bacaan Injil
Yoh 3:22-30
Sahabat mempelai bersukacita mendengar suara mempelai.
Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
Sekali peristiwa
Yesus bersama murid-murid-Nya pergi ke tanah Yudea,
dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis.
Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim,
sebab di situ banyak air,
dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis,
sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.
Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes
dengan seorang Yahudi tentang penyucian.
Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya,
“Rabi, orang yang bersama dengan engkau
di seberang sungai Yordan,
dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian,
Dia membaptis juga, dan semua orang pergi kepada-Nya.”
Jawab Yohanes,
“Tidak ada seorang pun
yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya,
kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga.
Kamu sendiri dapat memberi kesaksian,
bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias,
tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.
Yang empunya mempelai perempuan ialah mempelai laki-laki;
tetapi sahabat mempelai,
yang berdiri dekat dia dan mendengarkannya,
sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu.
Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.
Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3: 30)
Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis dengan jelas menyatakan identitasnya di hadapan murid-muridnya yang nampaknya tidak tahu siapa yang mereka ikuti. Mereka melihat Yesus sebagai saingan seakan-akan baptisan adalah usaha untuk menambah pengikut. Yohanes tidak hanya sadar penuh akan peran dan misinya tetapi juga menunjuk sang Mesias yang sedang memulai misi-Nya, dan dia harus “mundur alon-alon” bukan karena merasa kalah, tetapi karena tahu bahwa ia diutus untuk mendahului-Nya, untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya. Bagi banyak orang hal ini sulit dan mungkin menyakitkan. Tetapi tidak bagi Yohanes.
Yohanes mulai “naik daun” dan ia sudah mempunyai murid-murid yang mengikutinya dengan setia. Ia mungkin merasa sukses besar. Kita tahu bahwa ia telah berhasil dengan apa yang dilakukannya, bahkan para penguasa pada masanya mengakuinya sebagai seorang nabi. Namun Yohanes tidak dibutakan oleh semuanya itu. Ia tetap setia dengan jati dirinya. Ia menyiapkan bangsanya dengan membaptis mereka. Ia mempersiapkan Sang Juruselamat dengan membaptis-Nya. Ia tampil sebagai partner kerasulan dengan Yesus, bukan sebagai saingan atau atasan atau bawahan.
Besok kita akan rayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Ini menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk mengenang baptisan kita sendiri, mengingat misi kita yang lahir dari baptisan kita. Kita diundang untuk menghidupi panggilan kita. Jangan sampai kita lupa akan misi yang dipercayakan kepada kita. Kita ambil bagian dalam misi Yesus yang datang untuk melaksanakan kehendak Bapa. Kita diutus untuk ambil bagian dalam Rencana Penyelamatan Allah dengan semangat “pengosongan diri” Sang Putera menjadi manusia.
Betapa sering kita, dari segi kehausan akan popularitas dan keberhasilan kerja, mengejar sukses pribadi. Semangat dunia masa kini di mana orang mengejar follower di X, Facebook, Instagram, Threads, YouTube mengejar like, mengejar subscriber membuat kita lupa bahwa kita bekerja di Ladang Tuhan. Dialah yang empunya panenan. Dialah yang menghembuskan Roh Kudus.
Tuhan, semoga bersama Yohanes kami dapat berkata, biarlah Engkau menjadi semakin besar dan kami semakin kecil. Pakailah aku, menurut kehendak-Mu. Amin.
Selamat berakhir pekan. Peluk kerendahan hati. ! ❤
❤︎.
RP Joni Astanto MSC