Jumat, 09 Januari 2026
Sabda Kehidupan
Jumat 09 Januari 2026
Lukas 5:12-13 (Luk 5:12-16)
Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
Biarlah Kehendak Tuhan Yang Terjadi
Menarik bahwa dalam kisah penyembuhan Yesus bagi si kusta, ia tidak langsung meminta Yesus menyembuhkan dia. Ia datang pada Yesus untuk mengungkapkan imannya akan Yesus. Dalam hal ini bukanlah permintaan si kusta yang menentukan tapi kemauan Yesus untuk menolongnya. Semuanya memungkinkan bila Yesus mau. Semuanya semata karena kemurahan hati Yesus.
Ungkapan iman ini, sama persis dengan ungkapan iman Yesus akan penyelenggaraan BapaNya. “Bukan kehendakKu melainkan kehendakMu-lah yang terjadi.” Inilah doa yang diajarkan Yesus bagi kita, “jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.”
Apapun penyakit kita, apapun permasalahan dan beban hidup kita, mari datang pada Yesus, menaruh segala harapan kita padaNya. Entah sembuh seketika, atau selesai seketika, atau harus menunggu lama hingga doa kita terkabul, atau bahkan tidak terkabul sama sekali, tak membuat kita risau, karena kita telah meletakkannya dalam tangan Tuhan.
Biarlah kita selalu tersungkur depan kaki Yesus, sujud menyembah Dia, membawa semua harapan kita padaNya. Tunjukkan pada Yesus bahwa kita adalah ‘peziarah pengharapan.’ Kita tetap berharap dan percaya, Tuhan Yesus mendengar semua doa kita, Ia selalu peduli dan segera bertindak. Jangan berhenti berdoa, berharap dan percaya.
Tetap semangat apapun yang kita hadapi, Yesus ada bersama kita❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 09 Jan 2026
Jumat Masa Natal
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Mat 4:23
Bacaan Injil: Luk 5:12-16
***********
Bait Pengantar Injil
Mat 4:23
Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah
serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
Bacaan Injil
Luk 5:12-16
Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa Yesus berada di sebuah kota.
Ada di situ seorang yang penuh kusta.
Ketika melihat Yesus, tersungkurlah si kusta dan memohon,
“Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”
Maka Yesus mengulurkan tangan-Nya menjamah orang itu,
dan berkata,
“Aku mau, jadilah engkau tahir!”
Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
Yesus melarang orang itu
memberitahukannya kepada siapa pun juga,
dan Ia berkata,
“Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam,
dan persembahkanlah untuk pentahiranmu
persembahan seperti yang diperintahkan Musa,
sebagai bukti bagi mereka.”
Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar,
dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya
untuk mendengar Dia
dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.
Akan tetapi Yesus mengundurkan diri
ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
“Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.” (Luk 5: 13)
Seringkali dalam Injil dikisahkan bahwa Yesus menyembuhkan orang melalui kata-kata yang diucapkan. Untuk menyembuhkan penderita kusta dalam Injil hari ini, Yesus tidak hanya berbicara kepadanya, namun juga menjamah dia. Kisah ini dengan tepat menggambarkan misi Yesus untuk menjangkau orang-orang terpinggirkan, memberikan penyembuhan, bela rasa, dan rasa keterikatan. Peristiwa ini terjalin dalam narasi yang lebih luas yang menyoroti kepedulian terhadap orang miskin dan tertindas, menantang norma-norma sosial dan agama yang memicu pengucilan.
Kusta tidak hanya mewakili kondisi fisik; ia melambangkan isolasi sosial yang mendalam. Orang kusta menghadapi pemisahan, dianggap najis, dan diasingkan dari komunitas dan aktivitas ibadah mereka. Ketika orang kusta datang kepada Yesus, ia tidak hanya menginginkan penyembuhan fisik tetapi juga pemulihan martabat dan rasa memiliki dalam masyarakat. Reaksi Yesus sangat revolusioner — Ia menyentuh prang kusta itu, menyembuhkannya, dan secara simbolis mengintegrasikannya kembali ke dalam komunitas.
Narasi ini mengajak kita untuk merenungkan cara kita berinteraksi dengan mereka yang terpinggirkan di sekitar kita. Hari ini, “si kusta” mungkin tidak menderita penyakit fisik, tetapi menderita kemiskinan, tunawisma, gangguan mental, atau pengucilan sosial. Seperti Yesus, kita ditantang untuk memperluas bela rasa kita, bukan dari jarak aman, tetapi melalui solidaritas aktif dan inklusi.
Lukas mengingatkan kita bahwa penyembuhan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan segera, tetapi juga menghadapi akar penyebab penderitaan: ketidakadilan, ketidaksetaraan, dan pengabaian sistemik. Sebagai individu dan komunitas iman, kita diundang untuk mewujudkan Injil dengan membela mereka yang digusur ke pinggiran, menawarkan bukan hanya sedekah tetapi integrasi yang sejati ke dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.
Selain itu, Lukas menyoroti kebutuhan Yesus akan doa di tengah pelayanan-Nya. Hal ini mengingatkan kita bahwa tindakan kita harus berakar pada hubungan akrab dengan Allah, mencari bimbingan dan kekuatan-Nya.
Tuhan, semoga komunitas dan pribadi kami masing-masing semakin berbelarasa, merangkul dan menyembuhkan mereka yang sakit, terluka dan terpinggirkan. Amin.
Selamat beraktivitas. Rangkul dan sembuhkan yang terluka dan terpinggirkan!
! ❤
❤︎.
RP Joni Astanto MSC