Jumat, 05 Desember 2025
Sabda Kehidupan
Jumat 05 Desember 2025
Matius 9:28-29 (Mat 9:27-31)
Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”
Iman Oleh Pendengaran
Kedua orang buta yang datang kepada Yesus tentu saja belum pernah melihat Yesus karena mereka buta. Tapi mereka banyak mendengar tentang Yesus yang sanggup menyembuhkan orang sakit dan membuka mata orang buta. Sekalipun hanya melalui pendengaran, mereka mencari tahu siapakah Yesus itu. Dari pendengarannya mereka sampai pada iman akan Yesus. Karena itu dengan lantang mereka berseru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!”
Dalam suratnya kepada umat di Roma (10:17), Paulus berkata, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Firman Kristus perlu diperdengarkan, diwartakan dan diceritakan sehingga orang lain dapat mendengar dan percaya. Apakah kita termasuk orang yang suka bercerita tentang Yesus?
Atau kita hanya diam dan menahan semua kisah tentang Yesus dan semua karyaNya hanya untuk diri sendiri?
Mari ikut mewartakan dan memperdengarkan kepada orang lain betapa baiknya Tuhan bagi kita. Ceritakanlah karya-karya kasih Kristus, bagaimana Ia menolong dan menyelamatkan kita, bagaimana Ia menjawab doa-doa kita, menemani kita dalam suka duka kehidupan ini.
Sungguh Yesus adalah Tuhan yang mengerti dan peduli dengan semua pergumulan hidup kita. Bawalah sebanyak mungkin orang pada iman akan Yesus, sehingga dengan mata iman orang dapat melihat dan mengalami bahwa dalam Yesus semua harapan kita terpenuhi.
Selamat hari Jumat pertama di bulan Desember. Mari berkisah tentang Yesus. yang khusus datang untuk menyelamatkan kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 05 Des 2025
Jumat Masa Adven I
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan Injil: Mat 9:27-31
************
Bacaan Injil
Mat 9:27-31
Dua orang buta disembuhkan karena percaya kepada Yesus.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa ada dua orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru,
“Kasihanilah kami, hai Anak Daud!”
Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah,
datanglah kedua orang itu kepada-Nya.
Yesus berkata kepada mereka,
“Percayakah kalian, bahwa Aku dapat melakukannya?”
Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.”
Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata,
“Terjadilah padamu menurut imanmu.”
Maka meleklah mata mereka.
Lalu dengan tegas Yesus berpesan kepada mereka,
“Jagalah, jangan seorang pun mengetahui hal ini.”
Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Yesus
ke seluruh daerah itu.
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” [Mat 9: 27]
Bacaan Injil hari ini mengisahkan penyembuhan dua orang buta di Galilea. Permohonan kedua orang buta untuk disembuhkan mengajak kita untuk mencari kesembuhan dari kebutaan kita sendiri. “Buta hati” dan “tidak peduli” adalah bentuk kebutaan yang bisa lebih berbahaya daripada kebutaan fisik. Bacaan pertama dari Nubuat Yesaya menunjukkan bahwa kesembuhan adalah karya Allah. Sama seperti penglihatan adalah anugerah Allah, demikian pula anugerah pemahaman. Seperti kedua orang buta yang berseru meminta pertolongan, kita juga perlu menyadari bahwa kita membutuhkan kesembuhan dan berseru memohon agar Yesus menyembuhkan kita.
Sangatlah sulit untuk mengakui bahwa kita buta ketika mata kita terbuka lebar. Namun, ada orang-orang yang menderita karena kebutaan kita itu – mereka adalah orang-orang yang terpinggirkan, miskin, lapar, tunawisma, atau bisa jadi pasangan Anda, anak Anda, orang tua Anda, anggota keluarga atau komunitas Anda yang terdekat; semua orang yang nampak berada di luar jangkauan kita karena sikap hidup kita yang sempit. Sering kali orang-orang ini muncul dalam pandangan kita, tetapi mereka ada sebagai perpanjangan dari kebutuhan egois kita sendiri. Meminjam istilah dari psikologi-dinamis, orang-orang ini adalah objek diri kita; mereka ada untuk mendukung pandangan dan kebutuhan egois kita. Kebutuhan mereka tersembunyi di depan mata, karena tertutupi oleh apa yang kita inginkan, bukan apa yang mereka butuhkan.
Untuk dapat melihat atau memahami kita membutuhkan pengetahuan sebelumnya; kita menyebutnya intuisi, yang merupakan nama lain untuk anugerah. Intuisi adalah persepsi samar tentang kebenaran yang perlu dijernihkan, dikristalkan, dan diolah. Intuisi ini, jika diperhatikan dengan doa, fokus, dan disiplin, dapat membawa kita pada pengetahuan tentang hal yang masih belum kita lihat. Ini adalah cara kita untuk berseru, seperti orang buta yang memohon kepada Yesus agar mereka dapat melihat. Yesus mendengar seruan mereka dan mengajukan pertanyaan yang sangat tajam, “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Pertanyaan itu menyentuh hati kita, orang-orang buta ini. Hanya ketika kita benar-benar ingin melihat, mata kita akan dicelikkan. Jika tidak ada keinginan untuk melihat, kita akan tetap buta terhadap apa yang sebenarnya ada di depan mata kita.
Adakah blind-spots dalam hidup Anda yang menghalangi Anda untuk mengenali kuasa dan belas kasih Tuhan? Adakah hal-hal yang menghalangi Anda melihat sesama di sekitar anda apa adanya?
Ya Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami! Sembuhkanlah kami!
Selamat hari Jumat Pertama. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC