Sabtu, 15 November 2025
Sabda Kehidupan
Sabtu 15 November 2025
Novena Kristus Raja hari ke 2
Lukas 18:1,7 (Luk 18:1-8)
Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”
Jangan Pernah Bosan Berdoa
Yesus selalu mengambil sisi yang radikal serta ekstrim untuk meyakinkan kita, betapa hati Allah sungguh terpaut pada kita putra putriNya. Kali ini contoh yang ekstrim mengenai seorang hakim yang lalim, namun toh akhirnya mengabulkan permintaan seorang janda untuk membela perkaranya, karena janda itu tak jemu-jemu menyusahkan hakim itu.
Dalam Injil Matius 7:11, Yesus berkata, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Janganlah jemu berdoa. Doa adalah nafas hidup kita. Yesus telah mengajarkan kita doa Bapa Kami. Allah adalah Bapa kita dan kita adalah anak Allah. Suatu gambaran relasi yang begitu indah dan mesra yang mengingatkan kita untuk dekat di hati Bapa kita.
Walaupun tanpa kata-kata, Allah Bapa mengerti segala kebutuhan kita, apa yang paling kita perlukan untuk selamat dan bahagia.
Berada di hadirat Allah, itulah kerinduan hati kita yang paling dalam. Pintu hati Allah Bapa kita selalu terbuka untuk menerima kita. Bahkan Ia selalu menanti kita untuk datang dan berbincang-bincang denganNya, memohon belaskasihanNya.
Paus Fransisku berkata, “Allah tidak pernah lelah mengampuni kita. Kita-lah yang lelah mencari belaskasihanNya.
Jangan pernah jemu berdoa, jangan pernah lelah memohon belaskasih dan pengampunan Allah karena Allah sendiri yang menghendaki kita selalu ada dalam pelukan kasihNya. Roh Kudus Allah yang menggerakkan kita untuk berdoa dan berseru selalu, “Abba ya Bapa.”
Selamat berakhir pekan. Mari datang ke hadirat Allah, serukanlah namaNya, kita pasti didengarNya.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 15 Nov 2025
Sabtu Pekan Biasa XXXII
PF S. Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 2Tes 2:14
Bacaan Injil: Luk 18:1-8
************
Bait Pengantar Injil
2Tes 2:14
Allah memanggil kita
agar kita memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.
Bacaan Injil
Luk 18:1-8
Bukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya
yang berseru kepada-Nya?
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu ketika
Yesus menceriterakan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya
untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa
dengan tidak jemu-jemunya.
Ia berkata,
“Di suatu kota ada seorang hakim
yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun.
Di kota itu ada pula seorang janda
yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata,
‘Belalah hakku terhadap lawanku.’
Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak.
Tetapi ia kemudian berkata dalam hatinya,
‘Walaupun aku tidak takut akan Allah
dan tidak menghormati siapa pun,
namun karena janda ini menyusahkan daku,
baiklah aku membenarkan dia,
supaya jangan terus menerus datang dan akhirnya menyerang aku.”
Lalu Yesus berkata,
“Camkanlah perkataan hakim yang lalim itu!
Bukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya,
yang siang malam berseru kepada-Nya?
Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
Aku berkata kepadamu, ‘Ia akan segera menolong mereka.’
Akan tetapi jika Anak Manusia datang,
adakah Ia menemukan iman di bumi ini?”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk 18: 7).
Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang hakim yang lalim dan seorang janda yang gigih. Pada pandangan pertama, situasi janda itu tampak mengenaskan. Dia tidak punya uang, tidak punya pengaruh, dan tidak punya kekuatan untuk menuntut keadilan. Namun, dia memiliki satu senjata: kegigihan. Setiap hari dia memohon keadilan atas kasusnya hingga bahkan hakim yang lalim dan tidak takut akan Allah itu, yang lelah dengan permohonannya yang terus-menerus, memberikan apa yang dia minta.
Namun Yesus tidak membandingkan Allah dengan hakim ini; justru Ia membedakannya. Jika seorang hakim yang egois dan tidak adil akhirnya menyerah pada ketekunan, betapa lebih lagi Allah, yang adalah Bapa yang penuh kasih, akan mendengarkan tangisan anak-anak-Nya? Doa bukanlah tentang membuat Allah lelah; melainkan tentang bertumbuh dalam kepercayaan dan keyakinan bahwa Ia tahu dan memberikan yang terbaik bagi kita.
Namun, inilah tantangannya: jawaban Allah tidak selalu datang dengan cara atau pada waktu yang kita harapkan. Seperti anak-anak, kita kadang-kadang meminta hal-hal yang akan merugikan kita, meskipun kita tidak menyadarinya. Hanya Allah yang melihat gambaran keseluruhan — masa lalu, sekarang, dan masa depan — dan oleh karena itu hanya Dia yang tahu apa yang benar-benar baik bagi kita. Itulah mengapa doa harus selalu diakhiri dengan kata-kata Yesus: “Jadilah kehendak-Mu.”
Ketekunan dalam doa bukanlah kekakuan; itu adalah iman. Itu berarti percaya bahwa Allah mendengarkan kita, bahkan dalam keheningan. Itu berarti menolak untuk menyerah, bahkan ketika penundaan tampak tak berujung. Yesus mengakhiri dengan pertanyaan yang menggetarkan: “Ketika Anak Manusia datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” Tugas kita adalah menjaga lampu iman tetap menyala, berdoa tanpa henti, dan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan kasih Allah.
Mari kita berdoa dengan ketekunan, tetapi juga dengan kerendahan hati, memohon bukan hanya apa yang kita inginkan, tetapi apa yang Allah tahu kita benar-benar butuhkan. Di sinilah letak inti iman.
Tuhan, jadilah kehendak-Mu.
Selamat pagi. Selamat berakhir-pekan. Selamat bertekun. ⒿⓁⓊ! ❤
❤︎.
RP Joni Astanto MSC