Rabu, 05 November 2025
Sabda Kehidupan
Rabu 05 November 2025
Lukas 14:26 (Luk 14:25-33)
”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Yesus Menjadi Alasan Kita Mencintai Orang Lain.
Bukanlah maksud Yesus agar semua anggota keluarga saling membenci karena Dia. Yesus menghendaki agar cinta kita kepadaNya tidak terhalang oleh kepentingan diri sendiri dan keluarga.
Ketika kebenaran Allah menuntut kita untuk memilih maka kita harus berani memilih mengikuti kehendak Allah. Oleh karena itu segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah mesti ditolak dan semua ikatan yang membuat kita terpisah dari Allah harus dilepaskan.
Keterikatan kita dengan keluarga, orang atau benda termasuk hobi tertentu, justru dipakai Iblis untuk mengikat kita dan menjauhkan kita dari Tuhan.
St Hubertus misalnya. Hobinya berburu membuat ia tidak ke gereja pada hari Minggu. Bahkan di saat perayaan Jumat Agung, ia memilih pergi berburu. Syukurlah Yesus mempertobatkannya dan menjadi pencinta Yesus hingga menjadi imam dan uskup.
Seringkali juga orang mengorbankan kepentingan banyak orang karena lebih mementingkan diri sendiri dan keluarga.
Dengan memilih Yesus dan meninggalkan segalanya, sesungguhnya kita telah mendapatkan segalanya. Dalam Mat 19:29 Yesus berkata, “Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”
Dengan menjadikan Yesus segalanya bagi kita, maka cinta kita kepada siapapun termasuk orang tua dan keluarga menjadi begitu dalam dan kuat, karena alasan terdalam cinta kita kepada mereka adalah cinta kita kepada Yesus yang telah lebih dahulu mencintai kita.
Jadikanlah Yesus sebagai alasan bagi kita untuk mencintai pasangan, orangtua, anak-anak, siapapun juga. Kita akan mencintai mereka sepenuh hati, setulus hati.
Demikian juga ketika Yesus menjadi alasan bagi kita untuk mencintai pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan jabatan kita. Kita pasti akan bekerja dengan sepenuh hati dan rela memberi diri dan semua yang terbaik yang bisa kita lakukan.
Selamat hari baru. Mari melayani dengan tulus hati, terlepas dari ikatan cinta diri.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 05 Nov 2025
Rabu Pekan Biasa XXXI
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 1Ptr 4:14
Bacaan Injil: Luk 14:25-33
************
Bait Pengantar Injil
1Ptr 4:14
Berbahagialah kalian, jika dinista karena nama Kristus,
sebab Roh Allah ada padamu.
Bacaan Injil
Luk 14:25-33
Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya
tidak dapat menjadi murid-Ku.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu ketika
orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Sambil berpaling Yesus berkata kepada mereka,
“Jika seorang datang kepada-Ku
dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,
saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri,
ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku,
ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Sebab siapakah di antaramu, yang mau membangun sebuah menara,
tidak duduk membuat anggaran belanja dahulu,
apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
Jangan-jangan sesudah meletakkan dasar
ia tidak dapat menyelesaikannya.
Lalu semua orang yang melihat itu akan mengejek dengan berkata,
‘Orang itu mulai membangun, tetapi tidak dapat menyelesaikannya.’
Atau raja manakah yang hendak berperang melawan raja lain,
tidak duduk mempertimbangkan dulu
apakah dengan sepuluh ribu orang ia dapat melawan musuh
yang datang menyerang dengan dua puluh ribu orang?
Jika tidak dapat, ia akan mengirim utusan selama musuh masih jauh
untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.
Demikianlah setiap orang di antaramu
yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya,
tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14: 26 – 27)
Mendengarkan Injil hari ini mungkin kita akan terkejut: lho koq Yesus mengajarkan kita untuk membenci? Bukankah Dia selalu mengajar kita untuk mengasihi? Bukan hanya saudara-saudari sedarah yang harus kita kasihi. Bahkan Ia mengajarkan untuk mengasihi musuh! Tentu apa yang dikatakan oleh Yesus tidak untuk dimengerti secara harafiah. Dengan cara “hiperbola” Yesus berbicara tentang pemuridan. Jika seseorang ingin mengikut Tuhan, hubungan dengan-Nya harus diprioritaskan di atas relasi-relasi yang lain, bahkan hubungan darah! Dan apa pun yang terjadi, seorang murid harus memikul salib Tuhan, melalui saat-saat yang baik dan buruk.
Yesus mengatakan bahwa dalam membangun sebuah menara, perencanaan harus dilakukan. Perhitungan matang harus dilakukan, agar pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan baik. Pekerjaan yang setengah-setengah akan menerima kritik, bukan apresiasi.
Peringatan keras dari Yesus dimaksudkan agar kita menganggap serius pemuridan. Sebelum seseorang memutuskan untuk mengikut Yesus, ia harus bersedia untuk menempuh semua jalan. Seperti yang dikatakan Santo Paulus, kita seperti pelari dalam perlombaan dengan mata yang tertuju pada hadiah hidup yang kekal, yaitu Kerajaan Allah. Kita mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk itu. Kita mendisiplinkan diri kita sendiri untuk memenangkannya. Kita tidak berhenti sampai kita menyelesaikan perlombaan dan meraih hadiahnya.
Menjadi murid Kristus itu berlangsung 24 jam sehari 7 hari seminggu, setiap waktu! Kita bukan orang Katolik hanya pada hari Minggu atau saat beribadah di gereja saja. Hidup kita adalah iman kita; iman kita adalah hidup kita. Inilah kehidupan yang Yesus perlihatkan kepada para Rasul. Jadi, jika mereka tidak yakin untuk mengikut Tuhan, mereka akan mengalami banyak kesulitan, seperti yang mereka alami ketika Yesus menderita, wafat dan dimakamkan. Mereka berpikir, bagaimana mungkin mereka mempercayakan hidup mereka sepenuhnya kepada seseorang yang telah mati? Apakah itu sia-sia? Namun, kemudian Yesus menampakkan diri kepada mereka dalam kemuliaan-Nya dan tiba-tiba semua yang Yesus katakan kepada mereka menjadi jelas maknanya, terutama tentang “harga” yang harus dibayar untuk menjadi murid Yesus.
Ketika Yesus meminta kita untuk meninggalkan segala sesuatu dan memikul salib-Nya, itu bukan hal yang remeh. Itu adalah untuk mendapatkan “hadiah” utama yaitu hidup yang kekal. Itu tidak mudah dan tidak murah. Tetapi dengan Yesus yang telah menang atas penderitaan dan maut, kita diyakinkan. Tantangan mungkin datang, tetapi iman kita selalu lebih kuat.
Tuhan, tolonglah aku untuk menyadari serta menghidupi identitas dan panggilan Kristiani-ku setiap detik, setiap menit setiap hari. Amin.
Selamat pagi. Selamat mengikuti Yesus, sepanjang waktu! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC